Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tidak Selalu Sama, Ini 4 Fenotipe PCOS/PMOS yang Perlu Diketahui
Magnific.com
  • PMOS adalah gangguan hormonal yang memengaruhi menstruasi dan ovulasi; diagnosis umumnya membutuhkan minimal dua dari tiga kriteria Rotterdam: hiperandrogenisme, oligo/anovulasi, dan ovarium polikistik pada USG.

  • Fenotipe A mencakup seluruh kriteria dan dalam penelitian Klinik Yasmin RSCM Kencana dialami 29,9% perempuan; tipe ini disebut memiliki risiko sindrom metabolik tertinggi.

  • Fenotipe B memiliki hiperandrogenisme serta gangguan ovulasi tanpa PCOM; C memiliki hiperandrogenisme dan PCOM dengan ovulasi; D memiliki PCOM serta gangguan ovulasi tanpa hiperandrogenisme.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) adalah gangguan hormonal yang memengaruhi siklus menstruasi dan ovulasi pada perempuan. 

Dilansir dari konten edukasi Dr. dr. Gita Pratama, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Rep.Sc (@tommygpratama) di Instagram, PMOS punya beberapa fenotipe atau pola karakteristik berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan, lho. Pembagian ini membantu menggambarkan perbedaan kondisi yang dialami setiap perempuan.

Nah, apa saja, sih, tipe fenotipe PMOS yang perlu diketahui? Berikut sudah Popmama.com rangkum empat fenotipe PMOS berdasarkan kriteria Rotterdam. Yuk, disimak!

Mengenal Tiga Kriteria Diagnosis PMOS

Magnific.com

Sebelum membahas keempat fenotipe PMOS, hal ini ditentukan berdasarkan kombinasi tiga kriteria Rotterdam. Dilansir dari pedoman internasional PCOS 2023, berikut tiga kriteria yang perlu diketahui: 

  • Hiperandrogenisme: Kelebihan hormon androgen atau hormon laki-laki yang bisa ditandai dengan jerawat, hirsutisme, alopecia.

  • Oligo/Anovulasi: Ovulasi tidak teratur yang bisa ditandai dengan menstruasi jarang, tidak teratur, atau tidak menstruasi.

  • Ovarium Polikistik (PCOM): Ditemukan banyak folikel kecil atau peningkatan volume ovarium melalui USG. 

Diagnosis PMOS umumnya memerlukan minimal dua dari tiga kriteria tersebut, kemudian membantu menentukan fenotipe PMOS.

Fenotipe A (Tipe Klasik)

Magnific.com

Fenotipe A memiliki tiga karakteristik utama sekaligus, yaitu hiperandrogenisme, oligo/anovulasi, dan gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan USG. Perempuan dengan fenotipe ini bisa mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur akibat gangguan ovulasi dan juga jerawat seperti kriteria hiperandrogenisme. 

Dikutip dari postingan edukasi Dr. dr. Gita Pratama, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Rep.Sc di Instagram, penelitian di Klinik Yasmin RSCM Kencana menunjukkan bahwa kriteria tersebut diderita 29, 9% perempuan. Namun, gejala dan tingkat keparahannya bisa berbeda pada setiap perempuan, ya.

Menurut, penelitian tersebut juga menunjukkan kalau perempuan dengan Fenotipe A memiliki risiko tertinggi mengalami Sindrom Metabolik, yaitu kondisi ketika tubuh kurang merespons insulin dengan baik sehingga kadar gula darah lebih sulit dikendalikan. 

Fenotipe B (Tanpa PCOM pada USG)

Magnific.com

Fenotipe B punya dua karakteristik utama, yaitu hiperandrogenisme dan oligo/anovulasi. Berbeda dengan fenotipe A, pemeriksaan USG di tipe ini tidak menunjukkan gambaran ovarium polikistik atau polycystic ovarian morphology (PCOM).

Meski tidak menunjukkan gambaran tersebut, seseorang tetap bisa didiagnosis PMOS apabila memenuhi kriteria lainnya. Karena itu, hasil USG yang tidak menunjukkan gambaran ovarium polikistik tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan PMOS.

Fenotipe C (Tipe Ovulatori)

Magnific.com

Fenotipe C dikenal sebagai fenotipe ovulatori karena perempuan dengan pola ini umumnya masih mengalami ovulasi. Karakteristiknya meliputi hiperandrogenisme dan gambaran ovarium polikistik pada USG, tetapi tanpa gangguan ovulasi atau oligo/anovulasi yang menjadi salah satu ciri fenotipe lainnya, lho. 

Meski ovulasi tetap terjadi, seperti siklus haid tetap teratur, kondisi ini tidak berarti kesuburan selalu normal atau tidak ada kesulitan untuk hamil. Kadar hormon, kualitas ovulasi, dan faktor kesuburan lainnya tetap dapat memengaruhi peluang kehamilan.

Fenotipe D (Tipe Non-Hiperandrogenik)

Magnific.com

Untuk tipe yang terakhir ini memiliki gambaran ovarium polikistik dan oligo/Anovulasi, tetapi tidak disertai hiperandrogenisme. Artinya, perempuan dengan pola ini bisa mengalami menstruasi tidak teratur tanpa menunjukkan tanda kelebihan hormon androgen, seperti jerawat.

Karena gejalanya tidak selalu terlihat dari luar, pemeriksaan medis berperan penting untuk mengenali kondisi ini. Dokter akan mempertimbangkan riwayat menstruasi, pemeriksaan hormon, serta USG bila diperlukan.

Nah, itu dia informasi tentang PMOS yang punya beberapa fenotipe dengan karakteristik berbeda pada setiap perempuan. Karena itu, mengenali gejala dan memahami hasil pemeriksaan bisa membantu menentukan penanganan yang sesuai.

Jika mengalami menstruasi tidak teratur atau tanda lain yang mengarah pada PMOS, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis yang tepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article