Selain air mani memiliki kualitas yang rendah, usia juga mempengaruhi kualitas genetik sperma laki-laki.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) dan University of California di Berkeley, para peneliti menemukan bahwa kecacatan genetik dalam sperma meningkat seiring bertambahnya usia pria.
Cacat genetik pada sperma ini dapat menyebabkan beberapa hal, di antaranya:
- Kesuburan menurun.
- Meningkatkan risiko keguguran.
- Peningkatan risiko kematian bayi saat lahir.
- Peningkatan risiko beberapa kasus cacat lahir.
Para ilmuwan melaporkan bahwa pria yang lebih tua tidak hanya berisiko mengalami infertilitas. Mereka juga lebih berisiko mewariskan masalah genetik kepada anak-anak mereka.
Kombinasi faktor usia tua pada perempuan dan pria juga bisa semakin meningkatkan risiko cacat lahir pada bayi. Contohnya risiko Down Syndrome. Pada perempuan, risiko memiliki anak dengan Down Syndrome akan meningkat seiring bertambahnya usia.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 3.000 anak, para peneliti menemukan bahwa ketika seorang perempuan berusia 35 tahun atau lebih tua, usia pria yang lebih tua juga membawa pengaruh lebih besar.
Hal ini juga berlaku jika perempuan berusia 40 tahun atau lebih tua. Dalam kelompok ini, 50 persen anak-anak dengan Down Syndrome mewarisi cacat genetik dari ayah mereka.
Down syndrome bukan satu-satunya risiko yang meningkat karena pengaruh usia ayah. Calon ayah yang usianya lebih tua juga cenderung memiliki anak dengan berbagai gangguan, seperti berikut:
- Autisme
- Gangguan bipolar
- Skizofrenia
- Achondroplasia
- Leukemia pada masa kanak-kanak