“Minumnya kita optimalkan, cairannya dioptimalkan, tapi sambil cari ada masalah apa, nih, supaya kita bisa tahuu solusinya seperti apa, planning kita seperti apa. Karena kadang tidak se-simple itu,” ujar dr. Marcel dalam video unggahannya.
Benarkah Air Ketuban Sedikit karena Ibu Hamil Kurang Minum?

- Air ketuban sedikit tidak otomatis disebabkan kurang minum; penyebab yang sering meliputi ketuban pecah atau rembes, gangguan aliran darah, pertumbuhan janin terhambat, atau kelainan bawaan.
- Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mencari penyebabnya. Ibu hamil tetap dianjurkan mengoptimalkan asupan cairan sambil menunggu evaluasi dan rencana penanganan yang sesuai.
- Jumlah air ketuban diukur melalui AFI; di bawah 10 cm tergolong sedikit. Cairan normal jernih atau kekuningan, sedangkan warna hijau atau cokelat dapat menandakan campuran mekonium.
Air ketuban memiliki banyak manfaat penting bagi janin. Fungsinya yang vital membuat air ketuban menjadi salah satu hal yang perlu selalu diperhatikan dan dijaga oleh ibu hamil. Dan salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah jumlahnya.
Apabila jumlah air ketuban sedikit, maka hal tersebut perlu menjadi perhatian. Jika Mama pernah mendengar, jumlah air ketuban yang sedikit bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah kurang minum air putih.
Lantas, benarkah air ketuban sedikit karena ibu hamil kurang minum? Yuk, simak penjelasannya seperti yang telah dirangkum Popmama.com berikut ini.
Benarkah Air Ketuban Sedikit karena Ibu Hamil Kurang Minum?

Magnific/yanalya Melansir dari penjelasan dr. Marcel Elian Suwito, Sp.OG., dalam akun Instagram pribadinya @marcel.elian.suwito, jumlah air ketuban yang sedikit belum tentu disebabkan oleh ibu hamil yang kurang minum air putih.
Pasalnya, untuk menentukan penyebab air ketuban yang sedikit, perlu diketahui terlebih dahulu kondisi yang mendasarinya. Jadi, penyebabnya tidak bisa langsung ditentukan hanya berdasarkan satu atau dua faktor tanpa pemeriksaan yang tepat.
dr. Marcel menyebut bahwa penyebab jumlah air ketuban sedikit yang paling sering terjadi adalah ketuban pecah atau rembes, adanya gangguan aliran darah, pertumbuhan janin yang terhambat, atau ada kelainan bawaan pada janin.
Mama harus mencari tahu terlebih dahulu sumber masalah sebelum menentukan penyebabnya. Mama juga bisa tetap optimalkan kebutuhan cairan tubuh dengan meminum air putih yang cukup sembari menunggu pemeriksaan berikutnya.
Jadi, jika Mama memiliki jumlah air ketuban yang sedikit, bisa segera memeriksakan diri ke dokter sambil tetap menjaga cairan tubuh agar tetap optimal, ya!
Jumlah Cairan Ketuban yang Normal

Pexels/Dre Newsome dr. Marcel menjelaskan, jumlah air ketuban dapat diketahui melalui pengukuran indeks cairan ketuban (AFI) di empat kuadran. Air ketuban dikatakan banyak jika hasil pengukurannya di atas 24 cm, sedangkan jika di bawah 10 cm berarti jumlah air ketuban tergolong sedikit.
Jumlah air ketuban akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia kehamilan. Pada usia kandungan 20 minggu, volume air ketuban sekitar 400 ml dan akan mencapai puncaknya pada usia 34—36 minggu, yaitu sekitar 800 ml. Setelah itu, jumlahnya perlahan berkurang hingga sekitar 600 mililiter saat mendekati hari persalinan atau usia kehamilan 40 minggu.
Warna Cairan Ketuban yang Normal

Magnific/Senivpetro Air ketuban yang normal harus dalam kondisi yang jernih atau berwarna kekuningan. Air ketuban yang terlihat berwarna hijau ataupun cokelat mengindikasikan bahwa bayi sudah melakukan buang air besar di dalam kandungan untuk yang pertama kalinya (mekonium). Dengan kata lain, cairan ketuban telah bercampur dengan feses janin.
Normalnya, bayi akan buang air besar pertama kali setelah lahir. Apabila campuran mekonium dan cairan ketuban terhirup oleh bayi, maka dapat menyebabkan terjadinya aspirasi mekonium yang menyebabkan gangguan pernapasan pada bayi.
Tanda Air Ketuban Cukup yang Bisa Diamati tanpa Pemeriksaan USG

Magnific/tirachardz Beberapa tanda yang bisa dilihat maupun dirasakan oleh ibu hamil juga dapat menjadi indikasi awal cukupnya air ketuban, meski tidak seakurat USG, Mama bisa melihat tanda-tanda seperti berikut:
- Gerakan bayi yang aktif dan konsisten. Kondisi ini merupakan ciri yang paling menonjol dari air ketuban yang cukup. Janin yang memiliki cukup ruang gerak akan memungkinkannya untuk bergerak seperti memutar, menendang, atau menggeliat.
- Ukuran perut yang sesuai. Jika air ketubaan cukup, maka rahim akan membesar secara progresif dan ukuran perut akan sesuai dengan perkiraan mminggu kehamilan.
- Tidak ada cairan yang merembes secara tidak normal. Saat hamil, normal jika ada sedikit keputihan. Tetapi jika terjadi rembesan cairan bening atau berwarna sedikit kekuningan dengan jumlah yang banyak, maka hal ini bisa menjadi tandah pecahnya selaput ketuban.
- Kualitas air ketuban saat pecah (jika terjadi). Idealnya, air ketuban tidak pecah sebelum persalinan. Tetapi jika terjadi, maka kualitasnya bisa menandakan adanya kondisi medis tertentu. Jika cairan berwarna ijau, kuning pekat, atau berbau tidak sedap, hall ini bisa mengindikasikan adanya komplikasi yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Jadi, penyebab kurang air ketuban tidak bisa langsung ditentukan karena ibu hamil kurang minum atau hanya berdasarkan satu atau dua faktor tanpa pemeriksaan yang tepat.
Semoga informasi ini bermanfaat untuk Mama.


















