5 Kesalahan Pakai Serum Wajah saat Hamil yang Perlu Dihindari

Banyak ibu hamil tetap ingin memakai serum wajah, namun perlu berhati-hati karena beberapa bahan aktif seperti retinoid dan hydroquinone berisiko bagi janin.
Penggunaan asam kuat seperti salicylic acid konsentrasi tinggi sebaiknya dihindari, sementara dosis rendah di bawah 2 persen masih dianggap aman.
Disarankan memilih serum dengan bahan alternatif lebih aman seperti bakuchiol, azelaic acid, vitamin C, atau niacinamide setelah berkonsultasi dengan dokter.
Selama hamil, perubahan hormon bisa memicu berbagai masalah kulit, mulai dari jerawat, kulit kusam, hingga hiperpigmentasi. Tak heran jika banyak ibu hamil tetap ingin memakai serum wajah untuk menjaga kesehatan kulitnya.
Namun, penggunaan skincare saat hamil tidak boleh sembarangan. Ada beberapa kandungan aktif yang sebaiknya dihindari atau dibatasi karena berpotensi berisiko bagi janin.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
Deretan Kesalahan Pakai Serum Wajah saat Hamil yang Perlu Dihindari
1. Menggunakan serum dengan retinoid atau retinol

Salah satu kesalahan paling umum, yakni memakai serum yang mengandung retinoid seperti retinol, adapalene, atau tretinoin saat hamil. Meski menurut beberapa ahli efeknya minim karena yang perlu dihindari, yakni retinol dalam bentuk oral aktif atau isotretinoin yang merupakan obat keras turunan vitamin A (retinoid).
Biasanya digunakan secara oral (diminum) untuk mengatasi jerawat parah (kistik/nodul) yang tidak responsif terhadap pengobatan lain.
Namun, beberapa ahli menyarankan sebaiknya menghindari kandungan di atas untuk berjaga-jaga. Meski efek penyerapan topikal rendah tetap dipandang berpotensi risky.
2. Mengabaikan label dan tetap memakai asam kuat atau BHA tinggi

Beberapa serum wajah untuk jerawat atau tekstur kulit mengandung salicylic acid dalam konsentrasi tinggi. Meski bentuk ringan masih ditoleransi dalam jumlah kecil, penggunaan konsentrasi tinggi atau pada area luas sebaiknya dihindari karena masih dianggap berisiko saat hamil.
Penggunaan salicylic acid (asam salisilat) topikal dalam konsentrasi rendah di bawah 2 persen dianggap aman untuk ibu hamil.
Namun, penggunaan dosis tinggi atau area luas sebaiknya dihindari karena risiko penyerapan sistemik.
3. Terlalu bergantung pada serum “penghilang noda cepat”

Serum yang menjanjikan “pemutih cepat” sering menggunakan bahan seperti hydroquinone. Tidak hanya dilarang digunakan saat hamil, apalagi skincare-nya tidak dalam pengawasan dokter skincare dengan hydroquinone harus dihindari.
Hydroquinone bisa terserap melalui kulit dan berpotensi masuk aliran darah. Sebaiknya hindari produk dengan klaim whitening yang kuat selama kehamilan.
4. Tidak berhenti atau mengganti skincare saat tahu hamil

Banyak ibu hamil terus memakai serum lama tanpa mengecek keamanan bahan aktifnya. Padahal, setelah mengetahui kehamilan, sebaiknya melihat kembali serum yang digunakan sebelum mengetahui tengah hamil.
Jika bisa disarankan untuk beralih ke formula yang lebih aman untuk ibu dan janin. Konsultasi dengan dokter kandungan atau dokter kulit sangat dianjurkan untuk memastikan rutinitas skincare tetap aman.
5. Tidak mencari serum alternatif yang lebih aman

Ibu hamil sering melewatkan informasi penting bahwa ada bahan skincare yang aman dan efektif sebagai alternatif serum dengan bahan berisiko. Misalnya, dermatolog merekomendasikan bahan seperti bakuchiol sebagai alternatif retinol, azelaic acid untuk jerawat dan pigmentasi ringan, serta vitamin C atau niacinamide untuk hidrasi dan warna kulit, semuanya dianggap lebih aman selama kehamilan.
Memilih serum saat hamil memang perlu lebih teliti dan tidak hanya tergiur klaim hasil instan. Selalu cek komposisi bahan aktifnya dan konsultasikan dengan tenaga medis bila ragu sebelum menggunakannya secara rutin.
Itulah tadi kesalahan pakai serum wajah saat hamil yang perlu dihindari. Semoga membantu, ya.


















