9 Risiko Membawa Bayi Mudik Jauh, Mama Perlu Lebih Sigap

Sebelum melakukan mudik jauh bersama si Kecil, Mama perlu mengetahui beberapa risiko yang dapat dialami oleh bayi guna menghindari risiko tersebut.
Bayi merupakan kelompok rentan terhadap infeksi dan iritasi karena sistem imunnya masih belum berkembang secara sempurna.
Orangtua disarankan untuk menyiapkan perlengkapan lengkap, menjaga jadwal istirahat dan makan bayi, serta memastikan keamanan posisi duduk agar si Kecil tetap nyaman dan aman selama mudik.
Lebaran menjadi momen berharga untuk berkumpul dan bersilaturahmi bersama keluarga besar. Tidak sedikit orangtua melakukan mudik dengan jarak tempuh yang cukup jauh dengan kondisi jalanan yang padat.
Selain itu, mengajak bayi untuk mudik menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh si Kecil masih belum berkembang secara sempurna sehingga ia lebih rentan terhadap berbagai risiko selama perjalanan.
Oleh karena itu, Mama perlu lebih sigap dalam mempersiapkan segala sesuatu sebelum mengajak si Kecil untuk mudik jauh agar ia tetap aman, nyaman, dan terhindar dari berbagai risiko selama mudik.
Berikut Popmama.com telah merangkum risiko membawa bayi mudik jauh agar orangtua dapat menyikapinya dengan lebih sigap. Yuk, simak selengkapnya, Ma.
Table of Content
1. Dehidrasi

Menggunakan pendingin di dalam kendaraan secara terus-menerus serta paparan cuaca panas selama perjalanan mempercepat penguapan cairan tubuh bayi.
Selain itu, perubahan rutinitas menyusui selama mudik juga memengaruhi kecukupan ASI atau susu formula bagi bayi sehingga risiko dehidrasi pada si Kecil akan meningkat.
Tanda-tanda dehidrasi pada si Kecil dapat muncul, seperti mulut kering, frekuensi buang air kecil yang berkurang, hingga bayi tampak lemas.
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, Mama perlu menjaga jadwal pemberian ASI atau susu formula secara teratur serta mengatur suhu pendingin agar bayi tetap nyaman.
2. Masalah pencernaan

Kualitas air di rest area dapat memicu gangguan pencernaan pada bayi. Air yang kurang higienis berisiko mengandung berbagai mikroorganisme berbahaya bagi kesehatan si Kecil.
Sebaiknya Mama menghindari mencuci botol susu bayi atau peralatan makan di rest area untuk mengurangi risiko paparan dari bakteri berbahaya, seperti E. coli, Salmonella, dan Giardia yang dapat menempel pada peralatan tersebut.
Jika mikroorganisme tersebut tidak sengaja masuk ke dalam mulut bayi, maka masalah pencernaan pada bayi akan muncul, meliputi perut kembung, sembelit, bahkan diare.
3. Kelelahan berlebih

Bayi masih belum memiliki stamina yang kuat layaknya orang dewasa sehingga ia lebih mudah merasa lelah, terutama jika harus menempuh perjalanan dalam waktu cukup lama.
Perubahan suasana, posisi duduk yang terbatas, serta kurangnya waktu istirahat membuat bayi mudah kelelahan. Rasa lelah pada bayi biasanya ditunjukkan dengan menjadi lebih mudah rewel, sulit tidur, atau gelisah.
Untuk mencegah kelelahan pada bayi, Mama dapat memberikan waktu istirahat secara berkala selama perjalanan dengan berhenti di rest area. Mama dapat menggendong atau mengajak si Kecil untuk bergerak sementara waktu agar energinya kembali.
4. Mabuk perjalanan

Tidak jauh berbeda dengan orang dewasa, bayi juga dapat mengalami mabuk perjalanan akibat guncangan kendaraan saat melewati jalanan berkelok atau tidak rata.
Kondisi ini terjadi karena sistem keseimbangan tubuh bayi masih belum sempurna sehingga ia lebih sensitif terhadap perubahan gerakan.
Bayi biasanya akan menunjukkan tanda-tanda, seperti menjadi lebih rewel, tampak gelisah, hingga muntah saat mengalami mabuk perjalanan.
Untuk mengurangi risiko mabuk selama perjalanan, Mama dapat memastikan posisi bayi nyaman dan stabil di dalam kendaraan. Selain itu, hindari melakukan perjalanan setelah bayi makan dalam jumlah banyak agar risiko mual dapat diminimalkan.
5. Risiko infeksi saluran pernapasan (ISPA)

Bayi masih memiliki sistem pernapasan yang sangat sensitif dan belum berkembang secara sempurna. Oleh karena itu, paparan polusi udara selama perjalanan, seperti asap kendaraan, memengaruhi kualitas udara yang dihirup oleh si Kecil.
Kualitas udara yang tercemar memicu berbagai gangguan pernapasan pada bayi, mulai dari pilek, batuk, hingga sesak napas.
Selain itu, kondisi tersebut juga memicu iritasi pada saluran pernapasan sehingga membuat bayi merasa tidak nyaman selama perjalanan.
6. Penularan penyakit di kerumunan

Saat Mama mengajak bayi untuk mudik menggunakan transportasi dengan banyak penumpang, Mama perlu lebih waspada terhadap risiko penularan penyakit saat berada di kerumunan karena imunitas si Kecil masih dalam tahap perkembangan sehingga ia lebih rentan terhadap infeksi.
Mama dapat membatasi kontak bayi dengan banyak orang asing selama perjalanan untuk mengurangi risiko penularan tersebut. Selain itu, pastikan Mama selalu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh bayi agar kesehatan bayi tetap terjaga.
7. Gangguan pola tidur

Adaptasi dengan lingkungan baru selama perjalanan mudik, seperti posisi tidur yang terbatas, suasana bising, dan perubahan cahaya membuat bayi merasa tidak nyaman untuk tidur nyenyak layaknya sedang tidur di rumah.
Kondisi ini tentu mengganggu jadwal tidur bayi yang telah terbentuk sehingga bayi akan lebih mudah rewel, sulit tidur, hingga lebih sering menangis karena kurang istirahat.
Untuk mengatasi hal tersebut, Mama dapat menciptakan suasana tidur si Kecil menjadi lebih nyaman saat di dalam kendaraan, seperti menggunakan tirai pada jendela kendaraan untuk mengurangi paparan cahaya dari luar agar kualitas tidur bayi tetap terjaga.
8. Iritasi kulit dan ruam popok

Perjalanan mudik yang panjang dengan sedikit waktu istirahat membuat si Kecil harus bertahan dengan popok yang sama dalam waktu cukup lama. Kondisi ini tentu akan meningkatkan risiko iritasi pada kulit pada bayi.
Selain itu, keterbatasan fasilitas yang bersih di rest area juga menjadi kendala dalam mengganti popok bayi dengan segera. Hal ini tentu memperbesar kemungkinan munculnya ruam popok pada bayi.
Untuk mencegah kondisi tersebut, Mama dapat menyiapkan perlengkapan ganti popok yang praktis, seperti alas ganti portabel beserta alat kebersihan lainnya agar proses mengganti popok dapat dilakukan dengan cepat dan higienis di mana pun Mama dan si Kecil berada.
9. Risiko keamanan atau cedera

Mama perlu mempertimbangkan keamanan si Kecil selama perjalanan mudik sesuai dengan jenis transportasi yang digunakan. Risiko cedera dapat meningkat jika bayi tidak ditempatkan dengan pengaman yang tepat dan sesuai.
Selain itu, situasi di jalan seperti pengereman mendadak juga dapat membahayakan bagi bayi, terutama jika bayi hanya dipangku tanpa perlindungan yang memadai.
Oleh karena itu, orangtua perlu lebih berhati-hati saat mengajak bayi mudik. Pastikan si Kecil menggunakan pengaman dalam kendaraan yang sesuai serta berikan jeda perjalanan secara berkala agar bayi dapat beristirahat dengan posisi lebih aman.
Itu tadi berbagai risiko membawa bayi mudik jauh sehingga Mama perlu lebih waspada dan sigap saat menghadapinya.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk membantu Mama selama melakukan perjalanan mudik bersama si Kecil, ya, Ma.


















