- Gangguan neurologis (cedera otak atau sumsum tulang belakang, pendarahan otak),
- Malformasi otak bawaan (saat lahir),
- Asfiksia berat selama proses persalinan,
- Infeksi atau Kelemahan otot dan/atau cerebral palsy.
Kenapa Bayi Sering Kaget? Ini Penjelasannya

- Refleks Moro adalah gerakan tak sadar yang muncul akibat respons terhadap rangsang tertentu, seperti suara keras atau perubahan posisi yang cepat.
- Refleks Moro dipicu ketika bayi terkejut oleh gerakan tiba-tiba, suara keras, atau perubahan posisi yang cepat. Ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap respons bahaya yang dirasakan.
- Refleks Moro seharusnya hilang sepenuhnya pada usia 5 hingga 6 bulan. Tidak adanya refleks Moro dapat dianggap abnormal dan mungkin menandakan masalah serius.
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh dr. Nanang Kusdiyan, Sp.A
Ketika si Kecil baru lahir dan dibawa pulang ke rumah, Mama mengamati jika ia sering kaget. Misalnya ketika mendengar suara benda jatuh atau pintu yang dibuka dengan tiba-tiba.
Apakah kondisi bayi yang sering kaget ini normal? Atau apakah justru Mama harus membawa bayi ke dokter jika ia sering kaget?
Berita baiknya, kondisi ini normal dialami oleh bayi baru lahir, Ma. Tapi meski normal, kenapa bayi sering kaget? Bila ini dialami oleh si Kecil, yuk, simak dulu penjelasannya pada ulasan Popmama.com berikut ini.
Kenapa Bayi Sering Kaget?

Tahukah Mama bahwa banyak gerakan bayi baru lahir sebenarnya adalah refleks? Refleks adalah gerakan tak sadar yang muncul akibat respons terhadap rangsang tertentu. Salah satu refleks yang mungkin paling terlihat pada beberapa hari pertama kehidupan bayi adalah refleks Moro, startle reflex atau refleks terkejut- kaget.
Refleks lainnya seperti mengisap, mencari puting dan mengenggam, sering kali hilang dalam beberapa bulan seiring sistem saraf si Kecil menjadi lebih matang.
Apa Itu Refleks Moro dan Apa yang Memicunya?

Refleks Moro dipicu ketika bayi terkejut oleh gerakan tiba-tiba, suara keras (kadang-kadang bahkan tangisannya sendiri!) atau perubahan posisi yang cepat, terutama jika kepala bayi jatuh ke belakang. Misalnya, Mama mungkin melihatnya jika Mama meletakkan bayi di tempat tidurnya tanpa penyangga kepala yang cukup.
Ketika refleks Moro aktif, bayi akan membuka dan meluruskan lengan dan kaki, lalu segera menarik lengan dan kakinya kembali ke tubuhnya seperti memeluk. Gerakaln ini sering diikuti dengan menangis.
Refleks Moro bayi tidak diketahui secara pasti tujuannya ini diperkirakan sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap respons bahaya yang dirasakan. Tapi dokter memanfaatkan pemeriksaan refleks Moro untuk memastikan sistem saraf bayi baik-baik saja dan memastikan bayi menggerakkan kedua lengan secara seimbang, untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan saraf atau trauma pada lengan yang mungkin terjadi selama kelahiran.
Mama mungkin melihat dokter anak melakukan tes refleks Moro dengan menarik bayi dengan lembut ke atas melalui lengannya dan membiarkan kepalanya sedikit jatuh ke belakang.
Refleks Moro Abnormal

Ada kemungkinan bayi menunjukkan refleks Moro yang abnormal. Refleks Moro yang berlebihan adalah refleks terkejut yang lebih menonjol di mana lengan bayi akan terentang dengan cara yang lebih berlebihan. Refleks Moro yang berlebihan hal yang jarang terjadi, dan tidak perlu diperlakukan secara berbeda.
Refleks Moro asimetris—misalnya, jika bayi mengulurkan satu lengan sementara lengan lainnya tetap di samping—mungkin merupakan tanda kerusakan saraf atau fraktur tulang selangka bayi.
Bagaimana jika Bayi Baru Lahir Tidak Memiliki Refleks Moro?

Meskipun jarang terjadi, jika bayi lahir tanpa refleks Moro, itu mungkin merupakan tanda kondisi yang lebih serius, seperti cedera saat lahir, infeksi, atau masalah neurologis atau otot.
Tidak adanya refleks Moro pada bayi baru lahir di kedua sisi tubuh (simetris) dapat disebabkan:
Reaksi refleks Moro pada satu sisi tubuh (asimetris) mungkin disebabkan oleh cedera lokal, seperti patah tulang selangka, kerusakan saraf, atau masalah sumsum tulang belakang. Dokter dapat mendiagnosis masalah tersebut dan mendiskusikan pilihan pengobatan.
Cara Menenangkan Refleks Moro

Refleks Moro sama sekali tidak berbahaya, tetapi dapat dipicu pada waktu yang tidak tepat—yaitu, saat mereka tidur, yang kemudian mengejutkan bayi baru lahir hingga terbangun.
Cara terbaik untuk mengurangi refleks ini adalah dengan bedong bayi, tapi sebaiknya jangan terlalu ketat. Bedong membantu mengurangi gerakan tiba-tiba yang memicu refleks kaget bayi. Hal lain yang bermanfaat: Letakkan kepala bayi dengan lembut saat menidurkannya untuk menghindari terpicunya refleks Moro. Hindari juga suara keras atau cahaya silau yang tiba tiba.
Kapan Refleks Moro Hilang?

Refleks Moro berkembang saat bayi masih dalam kandungan, sejak minggu ke-28 kehamilan. Refleks ini ada saat lahir, mencapai puncaknya sekitar bulan pertama kehidupan dan kemudian mulai menghilang sekitar 12 minggu. Refleks Moro seharusnya hilang sepenuhnya pada usia 5 hingga 6 bulan. Pada bayi lahir prematur dibawah usia 32 minggu kemungkinan refleks Moro masih lemah.
Dalam kasus yang jarang terjadi, refleks Moro gagal menghilang. Refleks Moro yang tetap ada dan berlangsung lebih dari 6 bulan mungkin menjadi perhatian terkait perkembangan otot atau saraf dan harus dikonsultasikan kepada dokter anak.
Refleks Moro adalah reaksi perlindungan yang terjadi secara otomatis ketika bayi baru lahir terkejut atau takut jatuh. Biasanya mulai menghilang sekitar 2 bulan setelah lahir dan biasanya benar-benar hilang dalam waktu enam bulan. Memeluk bayi erat-erat dan membuatnya merasa aman dapat menenangkan refleks Moro.
Tidak adanya refleks Moro dapat dianggap abnormal dan mungkin menandakan masalah serius. Hal ini dapat diidentifikasi saat lahir atau menjadi jelas kemudian. Bicarakan dengan dokter tentang kekhawatiran apa pun terkait refleks Moro.
Itu penjelasan kenapa bayi sering kaget. Hal ini normal dialami oleh bayi baru lahir dan akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia.
Nah, coba perhatikan apakah bayi mama juga sering kaget?


















