Fakta Atresia Esofagus, Kerusakan Kerongkongan pada Bayi

Bayi dengan atresia esofagus dirawat dengan pembedahan sesegera mungkin

19 Oktober 2021

Fakta Atresia Esofagus, Kerusakan Kerongkongan Bayi
Unsplash/Jimmy Conover

Dilansir dari  Centers for Disease Control and Prevention, atresia esofagus adalah kondisi kelainan bawaan atau cacat lahir di mana bagian kerongkongan bayi tidak berkembang dengan baik. Bayi dengan atresia esofagus, memiliki kerongkongan dengan dua bagian yang terpisah, yaitu kerongkongan atas dan bawah yang tidak terhubung. 

Bayi dengan cacat lahir atresia esofagus tidak dapat memproses makanan dari mulut ke perut. Selain itu, mereka juga terkadang mengalami kesulitan saat bernapas.

Kali ini Popmama.com akan mengulas mengenai fakta atresia esofagus pada bayi. Langsung saja simak informasinya ya, Ma!

1. Jenis-jenis atresia esofagus

1. Jenis-jenis atresia esofagus
www.cdc.gov

Ada empat jenis atresia esofagus, yaitu tipe A, tipe B, tipe C, dan tipe D.

  • Tipe A adalah kondisi ketika bagian atas dan bawah kerongkongan tidak terhubung dan memiliki ujung yang tertutup. Pada tipe ini, tidak ada bagian kerongkongan yang menempel pada trakea.
  • Tipe B adalah salah satu jenis atresia esofagus sangat jarang terjadi. Pada tipe ini, bagian atas kerongkongan menempel pada trakea, tetapi bagian bawah kerongkongan memiliki ujung yang tertutup.

  • Tipe C adalah tipe yang paling umum. Pada tipe ini bagian atas kerongkongan memiliki ujung yang tertutup dan bagian bawah kerongkongan melekat pada trakea

  • Tipe D adalah yang jenis atresia esofagus paling langka dan paling parah. Pada tipe ini bagian atas dan bawah kerongkongan tidak terhubung satu sama lain, tetapi masing-masing terhubung secara terpisah ke trakea.

Editors' Picks

Penyebab bayi mengalami atresia esofagus

Penyebab bayi mengalami atresia esofagus
Pexels/MART PRODUCTION

Atresia esofagus terjadi selama perkembangan bayi di dalam rahim sebelum lahir. Namun, penyebab atresia esofagus pada bayi kebanyakan tidak diketahui. 

Menurut peneliti, beberapa kasus atresia esofagus disebabkan oleh kelainan pada gen bayi. Mutasi atau perubahan pada gen dapat menyebabkan kerongkongan berkembang secara tidak normal.

Dilansir dari Cleveland Clinic, Dokter telah menemukan faktor lain yang terkait dengan atresia esofagus, seperti usia ayah yang sudah lanjut (di atas usia 40 tahun) dan perempuan yang menjalani perawatan kesuburan termasuk inseminasi intrauterine dan fertilisasi in vitro.

3. Diagnosis atresia esofagus pada bayi

3. Diagnosis atresia esofagus bayi
Unsplash/chrishcush

Atresia esofagus jarang didiagnosis selama kehamilan dan paling sering terdeteksi setelah bayi lahir. Tanda awal bayi mengalami atresia esofagus adalah ketika bayi pertama kali mencoba menyusu, ia akan tersedak atau muntah. Selain itu, atresia esofagus dapat terdeteksi ketika selang yang dimasukkan ke dalam hidung atau mulut bayi tidak dapat masuk ke perut. 

4. Pengobatan bayi dengan atresia esofagus

4. Pengobatan bayi atresia esofagus
Unsplash/Sharon McCutcheon

Atresia esofagus merupakan kondisi yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, jika bayi dalam kondisi yang sehat dan stabil, dokter akan segera melakukan operasi pembedahan untuk menyambungkan kembali kedua ujung kerongkongan sehingga bayi dapat bernapas dan menyusu dengan benar. 

Beberapa kasus memerlukan operasi dan prosedur atau obat-obatan lain, terutama jika terjadi beberapa hal berikut:

  • Kerongkongan bayi setelah pembedahan menjadi terlalu sempit untuk dilewati makanan. 

  • Jika otot-otot kerongkongan tidak bekerja dengan baik.

  • Jika makanan yang dicerna di perut secara konsisten bergerak kembali ke kerongkongan.

5. Kemungkinan komplikasi atresia esofagus

5. Kemungkinan komplikasi atresia esofagus
Unsplash/Sharon McCutcheon

Sekitar setengah dari seluruh bayi dengan atresia esofagus juga memiliki kelainan bawaan lainnya seperti masalah pada jantung, ginjal, dan tulang belakang.

Bahkan setelah melalui tindakkan operasi, bayi dengan atresia esofagus dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkongan sehingga menyebabkan peradangan dan sensasi terbakar.

  • Penyempitan kerongkongan karena jaringan parut yang muncul pascaoperasi sehingga menyebabkan kesulitan menelan.

  • Tracheomalacia atau dinding tenggorokan yang lemah sehingga menyebabkan adanya suara yang tidak biasa saat bernapas dan bernada tinggi.

Nah, itulah beberapa fakta mengenai  atresia esofagus atau kelainan bawaan pada kerongkongan bayi. Mama bisa mengurangi risiko bayi mengalami kelainan bawaan dengan cara menjaga pola hidup sehat selama kehamilan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.