Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Otak Papa Mengalami Perubahan setelah Kelahiran Bayi Menurut Studi

Otak Papa Mengalami Perubahan setelah Kelahiran Bayi Menurut Studi
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Intinya Sih
  • Penelitian di jurnal Cerebral Cortex menunjukkan otak ayah mengalami perubahan signifikan setelah kelahiran bayi.

  • Perubahan ini terkait neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak beradaptasi terhadap pengalaman baru seperti menjadi orangtua.

  • Bagian otak seperti default mode network dan korteks mengalami penyesuaian, membuat ayah lebih peka secara emosional serta mampu berpikir dan merencanakan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama ini kita sering mendengar istilah “mom brain”, yaitu kondisi ketika ibu menjadi lebih fokus, sensitif, bahkan mudah lupa setelah melahirkan. Namun, ternyata, papa juga mengalami hal serupa?

Fenomena ini dikenal sebagai “dad brain”, di mana otak laki-laki ikut beradaptasi setelah kehadiran bayi, bahkan hingga pada cara kerjanya. Hal ini di jelaskan dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cerebral Cortex, yang mengungkap bahwa setelah bayi lahir, otak ayah mengalami perubahan signifikan.

Berikut Popmama.com rangkum hasil penelitian tentang otak papa mengalami perubahan setelah kelahiran bayi.

Table of Content

1. Otak papa mengalami perubahan setelah kelahiran bayi

1. Otak papa mengalami perubahan setelah kelahiran bayi

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal Cerebral Cortex, para peneliti memindai atau melihat otak 20 calon papa sebelum dan sesudah kelahiran bayi mereka, lalu membandingkannya dengan 17 laki-laki yang belum memiliki anak.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok papa mengalami perubahan pada otak setalah bayi mereka lahir, sedangkan kelompok laki-laki tanpa anak tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Temuan ini memperkuat bahwa menjadi papa bukan hanya perubahan peran, tetapi juga melibatkan perubahan biologis di dalam otak.

2. Otak sangat fleksibel dan dapat berubah ketika seseorang belajar hal baru

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Perubahan pada otak ini disebut neuroplastisitas. Dilansir dari Kementerian Kesehatan, neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk merombak dirinya sendiri dengan mengatur ulang koneksi dan fungsinya sebagai respons terhadap pengalaman, proses belajar, lingkungan, atau kondisi tertentu. Sederhananya, otak bukan sesuatu yang tetap, tetapi terus berkembang dan beradaptasi seiring dengan apa yang kita alami.

Mengutip The Bump, Psikolog dan Associate Professor di University of Southern California (USC), Darby Saxbe, menjelaskan kepada USC News bahwa otak manusia sangat fleksibel dan dapat berubah ketika seseorang belajar hal baru atau melalui fase penting dalam hidup, seperti masa kanak-kanak, remaja, hingga saat menjadi orangtua.

“Menjadi orangtua melibatkan perubahan gaya hidup dan biologi Anda serta membutuhkan keterampilan baru seperti kemampuan untuk berempati dengan bayi yang tidak dapat berbicara, jadi masuk akal, meskipun belum terbukti . bahwa otak akan sangat plastis selama transisi menjadi orangtua,” ujar Darby Saxbe.

Menurutnya, otak memang masih terus dipelajari dalam konteks neuroplastisitas, tetapi ada bukti bahwa otak dapat berubah dan berkembang ketika seseorang mempelajari keterampilan baru atau berada dalam fase perkembangan tertentu.

Menjadi orangtua sendiri adalah pengalaman besar yang menuntut banyak keterampilan baru, seperti memahami bayi yang belum bisa berbicara dan merespons kebutuhannya. Karena itu, wajar jika otak menjadi lebih mudah beradaptasi dalam proses ini, meskipun penelitian tentang hal tersebut masih terus berkembang.

3. Perubahan pada jaringan mode default

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Perubahan juga terjadi pada jaringan mode default, yaitu jaringan otak yang aktif ketika seseorang tidak sedang mengerjakan tugas tertentu, seperti saat berpikir santai, mengingat pengalaman, atau membayangkan masa depan. Jaringan ini juga sangat penting dalam kemampuan sosial karena berhubungan dengan empati, yaitu kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain.

Pada papa baru, perubahan pada jaringan ini menunjukkan adanya penyesuaian dalam cara otak memproses emosi dan hubungan sosial. Akibatnya, papa menjadi lebih mudah memahami bayi yang belum bisa berbicara, lebih peka terhadap tangisan, serta lebih mampu mengingat dan mengantisipasi kebutuhan anak dalam keseharian.

4. Perubahan pada korteks otak dan fungsi pengasuhan

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Perubahan juga terlihat pada korteks otak, yaitu bagian luar otak yang mengatur kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti perhatian, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi.

Pada papa, perubahan lebih banyak terjadi di korteks dibandingkan bagian otak yang lebih dalam atau subkortikal yang biasanya mengatur respons dasar seperti rasa takut atau sistem penghargaan.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses menjadi papa, otak lebih banyak menggunakan kemampuan berpikir yang kompleks untuk menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru. Dengan kata lain, perubahan cara kerja otak papa tidak hanya bersifat instingtif, tetapi juga melibatkan proses berpikir, perencanaan, dan pengambilan keputusan yang lebih matang.

5. Perubahan pada sistem visual otak papa

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Dalam penelitian juga ditemukan adanya penurunan aktivitas pada jaringan visual di otak laki-laki setelah menjadi papa. Namun, para ilmuwan belum mengetahui secara pasti alasan perubahan ini terjadi.

Salah satu kemungkinan yang diperkirakan adalah bahwa kemampuan visual tidak benar-benar berkurang, tetapi cara otak memproses informasi visual menjadi lebih terfokus.

Nah, itu penjelasan tentang otak papa mengalami perubahan setelah kelahiran bayi. Semoga informasi ini bermanfaat!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Latest in Baby

See More