Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Penyebab Bayi Dismatur yang Perlu Mama Ketahui
Pexels/Vidal Balielo Jr.
  • Bayi dismatur atau small for gestational age memiliki berat lahir di bawah persentil ke-10 sesuai usia kehamilan dan jenis kelamin.

  • Faktor ibu mencakup merokok, gizi buruk, alkohol atau narkoba, obesitas, tekanan sosial, serta penyakit seperti hipertensi, diabetes, anemia, infeksi, dan preeklamsia.

  • Gangguan plasenta atau tali pusar serta faktor janin—kehamilan kembar, infeksi bawaan, kelainan struktur, dan genetik—dapat menghambat pertumbuhan dalam kandungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayi dismatur adalah bayi yang lahir lebih kecil dari biasanya. Ini bisa terjadi kalau ibu merokok, minum alkohol, atau makan kurang baik. Bisa juga karena plasenta dan tali pusar tidak membawa makanan cukup. Penyakit ibu, bayi kembar, infeksi, atau gen juga bisa membuat bayi kecil. Dokter bisa memantau bayi dengan USG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan Mama baru pulang dari kontrol kehamilan, lalu dokter menyampaikan bahwa ukuran janin lebih kecil dari seharusnya. Seketika pikiran Mama dipenuhi tanda tanya dan rasa khawatir, bukan?

Kondisi ini dikenal sebagai bayi dismatur, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan di bawah rata-rata bayi seusianya. 

Mengutip Pediatric Endocrine Society, bayi disebut small for gestational age (SGA) apabila berat lahirnya berada di bawah persentil ke-10 pada kurva pertumbuhan sesuai usia kehamilan dan jenis kelamin.

Lalu, apa saja yang bisa memicunya? Berikut Popmama.com mengulas 4 penyebab bayi dismatur. Yuk, simak sampai habis!

1. Gaya hidup ibu hamil

Pexels/Amina Filkins

Sebagian orang menganggap kebiasaan lama, seperti merokok atau minum alkohol, tidak akan berpengaruh besar selama hamil. Padahal, apa pun yang masuk ke tubuh Mama ikut dibagi kepada si Kecil di dalam kandungan.

Mengutip Pediatric Endocrine Society, merokok, gizi yang buruk, serta penggunaan alkohol atau narkoba termasuk faktor risiko yang sudah diketahui untuk bayi yang lahir lebih kecil dari ukuran seharusnya. 

Jadi, pola makan dan kebiasaan harian Mama benar-benar ikut menentukan pertumbuhan si Kecil. Tak berhenti di situ. Mengutip Pediatric Education, obesitas dan tekanan sosial juga masuk dalam daftar faktor ibu yang bisa ikut berperan.

Kabar baiknya, semua kebiasaan ini bisa diubah mulai hari ini, bahkan lewat langkah kecil seperti mengganti camilan dan menjauh dari asap rokok.

2. Masalah pada plasenta dan tali pusar

Pexels/Tom Fisk

Selama 9 bulan, plasenta dan tali pusar bertugas mengantar oksigen serta nutrisi dari tubuh Mama ke si Kecil, ibarat kurir yang bekerja tanpa henti siang dan malam. Bila jalur ini terganggu, kiriman  pun ikut terganggu dan pertumbuhan bayi mama bisa melambat.

Mengutip Children’s Hospital of Philadelphia, aliran darah yang berkurang di rahim dan plasenta, plasenta yang lepas dari dinding rahim, serta plasenta yang menempel terlalu rendah bisa memicu bayi lahir lebih kecil.

Valley Children’s menyebut bahwa gangguan pada bagian ini juga termasuk pemicunya. Setelah lahir, bayi seperti ini kerap memiliki tali pusar yang tipis dan tampak kusam, bukan tebal dan mengilap.

Sayangnya, masalah ini sulit terasa dari luar, sehingga ultrasonografi (USG) rutin dan pemeriksaan aliran darah sangat membantu dokter memantau kondisi si Kecil.

3. Penyakit yang diderita ibu hamil

Pexels/Holy Lenses

Tubuh Mama adalah rumah pertama si Kecil, jadi penyakit yang menyertai kehamilan ikut memengaruhi tumbuh kembangnya. 

Mengutip Valley Children’s, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal kronis, diabetes lanjut (baik sebelum maupun saat hamil), penyakit jantung atau paru kronis, anemia, hingga infeksi termasuk pemicunya.

Daftar itu juga mencakup lupus dan anemia sel sabit. Pada kehamilan di atas 32 minggu, hipertensi kronis atau preeklamsia sering berada di balik pertumbuhan yang terhambat, dengan lingkar kepala si Kecil tetap normal, tetapi panjang dan berat badannya terdampak.

Infeksi selama hamil pun patut diwaspadai karena sebagian di antaranya dapat menular ke janin. Mengutip Pediatric Endocrine Society, rubela, toksoplasmosis, sitomegalovirus, dan sifilis termasuk infeksi yang diketahui bisa membuat bayi lahir dismatur.

Untungnya, kondisi-kondisi ini bisa dikendalikan lewat kontrol rutin, dan bila Mama rutin minum obat tertentu, diskusikan manfaat serta risikonya dengan dokter.

4. Faktor janin

Pexels/Vidal Balielo Jr.

Mengutip Children’s Hospital of Philadelphia, sebagian bayi kecil karena faktor genetik, misalnya orangtuanya juga bertubuh kecil, tetapi sebagian besar dipicu oleh gangguan pertumbuhan selama di kandungan.

Ada juga faktor lain dari sisi janin, yakni kehamilan kembar, infeksi, kelainan bawaan lahir, serta perbedaan genetik seperti kelainan kromosom. Pada kehamilan kembar, misalnya, jatah nutrisi harus dibagi untuk lebih dari satu janin.

Melansir Pediatric Education, kelainan genetik berperan pada sekitar 5–20 persen kasus, sedangkan infeksi bawaan seperti sitomegalovirus dan toksoplasmosis menyumbang sekitar 5–10 persen. Kelainan struktur, seperti masalah pada jantung atau ginjal, juga kerap menyertai.

Meski begitu, Mama tak perlu langsung panik. Bayi yang memang kecil secara bawaan tidak mengalami peningkatan risiko kematian dan penyakit pada masa sekitar kelahiran, sehingga ukurannya yang mungil belum tentu pertanda masalah.

Nah, itulah pembahasan mengenai 4 penyebab bayi dismatur yang harus Mama waspadai. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article