Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pexels.com/Emma Bauso
  • Perdarahan ringan pada pusar bayi umumnya normal saat sisa tali pusar mengering dan terlepas, biasanya dalam 10–14 hari, selama tidak disertai gejala lain.

  • Darah dapat muncul akibat pelepasan tali pusar atau gesekan popok dan pakaian. Rawat dengan kasa bersih, jaga tetap kering, ganti popok rutin, serta biarkan tali lepas alami.

  • Segera periksakan bayi bila perdarahan sulit berhenti atau banyak, keluar nanah atau bau, kulit memerah dan hangat, demam 38°C, atau bayi kesakitan saat pusar disentuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pusar bayi kadang keluar sedikit darah saat tali pusarnya mengering dan lepas. Ini biasanya tidak berbahaya. Mama bisa menjaga pusar tetap bersih dan kering, lalu jangan menarik talinya. Kalau darah tidak berhenti, ada nanah, bau, kulit merah, atau bayi demam, bayi perlu dibawa ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat merawat bayi baru lahir, Mama mungkin merasa khawatir ketika menemukan pusar si Kecil mengeluarkan darah.

Kondisi ini bisa membuat orangtua bertanya-tanya apakah hal tersebut normal atau justru menandakan masalah kesehatan tertentu.

Pada beberapa kasus, keluarnya sedikit darah dari pusar bayi merupakan bagian dari proses penyembuhan setelah tali pusar terlepas. Namun, perdarahan yang sulit berhenti atau disertai gejala lain perlu diwaspadai.

Untuk itu, mari kita simak penjelasan lengkap dari Popmama.com terkait pusar bayi keluar darah apakah berbahaya, dilansir dari Medical News Today.

1. Pusar bayi keluar darah umumnya normal, tetapi perlu diperhatikan

Pexels.com/Foden Nguyen

Perdarahan ringan pada pusar bayi baru lahir umumnya tidak berbahaya dan merupakan bagian dari proses penyembuhan, terutama saat tali pusar mulai terlepas dalam minggu pertama setelah kelahiran.

Selama dalam kandungan, tali pusar berfungsi menyalurkan nutrisi dari Mama kepada janin. Setelah bayi lahir, tali pusar dipotong karena si Kecil sudah tidak lagi membutuhkannya.

Sisa tali pusar kemudian akan mengering dan terlepas dengan sendirinya, meninggalkan pusar. Dalam proses tersebut, Mama mungkin menemukan sedikit darah pada area pusar si Kecil.

Perdarahan ringan umumnya akan mereda dalam beberapa minggu pertama setelah kelahiran.

Meski begitu, Mama tetap perlu waspada karena dalam kasus yang jarang terjadi, perdarahan pada pusar dapat menjadi tanda infeksi di area bekas tali pusar.

Jika perdarahan disertai tanda-tanda infeksi, segera bawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan.

2. Penyebab pusar bayi keluar darah

Pexels.com/Анастасия Триббиани

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan pusar bayi mengeluarkan darah. Sebagian besar berkaitan dengan proses pelepasan tali pusar dan iritasi pada area sekitarnya.

Berikut beberapa penyebab yang perlu Mama ketahui:

  • Tali pusar mulai terlepas. Saat sisa tali pusar mengering dan mulai terpisah dari kulit, sedikit perdarahan dapat terjadi. Hal ini umumnya merupakan bagian normal dari proses penyembuhan.

  • Gesekan popok atau pakaian. Popok maupun pakaian bayi yang bergesekan dengan sisa tali pusar dapat menyebabkan iritasi. Akibatnya, area tersebut bisa mengeluarkan sedikit darah.

Walaupun kedua kondisi tersebut umumnya tidak berbahaya, Mama tetap perlu memperhatikan jumlah darah yang keluar dan kondisi kulit di sekitarnya.

3. Cara merawat pusar bayi yang keluar darah

Pexels.com/Huynh Van

Perawatan pusar yang tepat dapat membantu proses penyembuhan sekaligus mengurangi risiko iritasi dan infeksi. Jika pusar si Kecil mengeluarkan sedikit darah, Mama dapat melakukan beberapa langkah berikut.

  • Tekan dengan kasa bersih. Tempelkan kasa bersih pada area pusar, lalu berikan tekanan lembut tetapi mantap untuk membantu menghentikan perdarahan. Jika darah tidak berhenti, segera bawa si Kecil ke dokter.

  • Jaga area pusar tetap kering. Pastikan sisa tali pusar tidak terus-menerus terkena air atau kelembapan agar dapat mengering secara alami.

  • Mandikan bayi dengan hati-hati. Selama sisa tali pusar belum terlepas, Mama dapat membersihkan tubuh si Kecil menggunakan spons atau kain lembut yang dibasahi. Hindari merendam tubuh bayi hingga area tali pusar terendam.

  • Biarkan area pusar terkena udara. Sesekali biarkan area tersebut terbuka agar tetap kering, selama kondisi lingkungan aman dan si Kecil tetap nyaman.

  • Ganti popok secara rutin. Gunakan popok bersih dan pastikan urine maupun feses tidak mengenai area pusar. Mama juga dapat melipat bagian depan popok agar tidak bergesekan dengan sisa tali pusar.

  • Biarkan tali pusar terlepas sendiri. Hindari menarik atau memotong sisa tali pusar sebelum terlepas secara alami karena dapat menimbulkan perdarahan dan meningkatkan risiko infeksi.

4. Hal yang perlu dihindari saat merawat pusar bayi

Pexels.com/Kampus Production

Selain melakukan perawatan yang tepat, Mama juga perlu menghindari beberapa kebiasaan yang dapat menghambat proses penyembuhan pusar si Kecil. Berikut hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan:

  • Menutupi pusar dengan popok. Gesekan dari popok dapat menyebabkan iritasi. Lipat bagian depan popok ke bawah agar tidak menyentuh sisa tali pusar.

  • Mengoleskan alkohol tanpa anjuran dokter. Penggunaan alkohol dapat memperlambat proses pengeringan tali pusar. Karena itu, hindari mengoleskannya kecuali dokter secara khusus menyarankannya.

  • Mengikat sesuatu di sekitar tali pusar. Hindari memasang ikatan atau benda lain pada sisa tali pusar karena dapat menghambat pengeringan dan berisiko melukai kulit bayi.

  • Menarik sisa tali pusar. Walaupun terlihat hampir terlepas, biarkan sisa tali pusar mengering dan lepas dengan sendirinya.

5. Berapa lama sisa tali pusar bayi akan terlepas?

Pexels.com/Vidal Balileo Jr.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), sisa tali pusar bayi umumnya terlepas dalam waktu 10–14 hari setelah lahir. Namun, proses ini bisa berlangsung lebih cepat, yakni sekitar satu minggu, atau lebih lama hingga tiga minggu.

Selama menunggu tali pusar terlepas, Mama mungkin melihat sedikit darah pada area pusar.

Hal ini dapat terjadi ketika jaringan mulai terpisah dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan jika perdarahannya ringan serta tidak disertai gejala lain.

Mama tidak perlu terburu-buru melepaskan sisa tali pusar yang masih menempel. Cukup jaga area tersebut tetap bersih dan kering, lalu biarkan prosesnya berlangsung secara alami.

Jika tali pusar belum terlepas setelah tiga minggu, sebaiknya konsultasikan kondisi si Kecil kepada dokter untuk memastikan proses penyembuhannya berjalan dengan baik.

6. Kapan pusar bayi keluar darah perlu diperiksakan ke dokter?

Pexels.com/RDNE Stock project

Meskipun perdarahan ringan pada pusar bayi umumnya normal, ada beberapa kondisi yang memerlukan perhatian medis.

Mama sebaiknya segera membawa si Kecil ke dokter apabila perdarahan sulit berhenti atau jumlah darah yang keluar lebih dari sekadar beberapa tetes.

Selain itu, waspadai tanda-tanda infeksi berikut:

  • Keluar nanah atau cairan berbau tidak sedap. Cairan keruh, nanah, atau cairan dengan bau menyengat dari area pusar dapat menjadi tanda infeksi.

  • Kulit di sekitar pusar tampak merah dan terasa hangat. Kemerahan yang menyebar atau kulit yang terasa lebih hangat daripada area sekitarnya perlu diwaspadai.

  • Bayi mengalami demam. Suhu tubuh mencapai 38°C atau lebih pada bayi baru lahir memerlukan pemeriksaan medis segera, terutama pada bayi berusia kurang dari tiga bulan.

  • Bayi tampak kesakitan saat pusar disentuh. Reaksi nyeri ketika area pusar disentuh dapat menandakan adanya peradangan atau infeksi.

Jika Mama menemukan salah satu tanda tersebut, jangan menunda pemeriksaan. Infeksi pada area tali pusar bayi perlu ditangani dengan cepat untuk mencegah komplikasi.

Itulah penjelasan mengenai pusar bayi keluar darah apakah berbahaya. Jangan lupa untuk selalu menjaga area pusar si Kecil tetap bersih dan kering serta menghindari kebiasaan menarik sisa tali pusar sebelum terlepas dengan sendirinya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article