Popmama.com/Sysilia Tanhati/AI
Tragedi memilukan ini sontak memicu gelombang kritik tajam terkait standar keselamatan dan pengelolaan bangunan rumah sakit pemerintah. Padahal, PIMS merupakan salah satu rumah sakit pemerintah terbesar di Islamabad.
Sejumlah kerabat pasien mengungkapkan bahwa gedung yang menampung ruang perawatan bayi tersebut sebenarnya sedang berada dalam proses renovasi dan perbaikan saat insiden terjadi.
Jaweria, ibu dari korban lainnya, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pintu ruang bersalin terkunci.
“Selama 2 jam saya terus menangis dan meratap,” katanya. “Polisi tiba setelah 4 jam dan mengatakan mereka di sini untuk menyelidiki. Mengapa para dokter meninggalkan anak-anak di sana?” tanyanya.
Jaweria menyuarakan kekecewaannya terhadap tim penyelamat dan polisi. Pasalnya bayi-bayi terbakar sampai mati di sana, tetapi tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka.
Saksi mata juga menyebutkan jika pintu ruang perawatan bayi terkunci sehingga sulit untuk menyelamatkan para bayi ketika api mulai berkobar.
Rana Imran Sikander, direktur eksekutif rumah sakit, mengatakan kepada BBC bahwa pintu ruang bersalin tidak terkunci tetapi dijaga. Ia menyebutkan perlunya melindungi bayi dari pencurian, sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya di rumah sakit pemerintah.
Menanggapi insiden mematikan ini, Pakistan Medical Association (PMA) selaku organisasi perwakilan dokter di Pakistan melontarkan kecaman keras. PMA menilai kematian belasan bayi tersebut murni merupakan cerminan dari kegagalan sistemik. Baik secara administratif maupun regulasi dalam pengelolaan infrastruktur kesehatan di Pakistan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedi tersebut.
Kehilangan belasan nyawa bayi baru lahir ini sebagai duka mendalam yang tak tergantikan bagi bangsa Pakistan, ungkapnya.
Itu tadi kabar soal 14 bayi baru lahir meninggal dunia akibat kebakaran di rumah sakit di Pakistan. Kita doakan keluarga korban dan semoga peristiwa ini tidak terulang kembali, ya, Ma.