Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

​​​​​​​Stenosis Pilorus pada Bayi: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

​​​​​​​Stenosis Pilorus pada Bayi: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya
Freepik/user18526052

Tubuh bayi sangat lemah dan sangat rentan untuk mengalami sakit yang ringan maupun berat. 

Namun, biasanya penyakit yang berat cenderung disebabkan oleh faktor genetik ataupun faktor kehamilan dari ibunya, misalnya stenosis pilorus. 

Stenosis pilorus merupakan kondisi yang menyebabkan apa pun yang dicerna oleh bayi tidak dapat masuk ke saluran pencernaan, sehingga makanan yang dicerna terhambat dan menyebabkan bayi mengalami muntah. 

Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut Popmama.com telah merangkum stenosis pilorus pada bayi. Yuk, disimak, Ma!

Mengenal Stenosis Pilorus yang Terjadi pada Bayi

Mayoclinic.com
Mayoclinic.com

Stenosis pilorus merupakan suatu kondisi yang di mana makanan yang dicerna tidak dapat memasuki pilorus (katup otot). Biasanya kondisi ini dialami oleh bayi yang usianya di bawah satu tahun. 

Dilansir dari Mayo Clinic, kondisi ini menyebabkan pilorus (katup otot) yang letaknya berada di antara lambung dan usus kecil menjadi lebih tebal dan besar secara tidak normal. Sehingga makanan yang dicerna akan terhalangi untuk mencapai usus kecil. 

Gejala Stenosis Pilorus pada Bayi

Parenting.firstcry.com
Parenting.firstcry.com

Biasanya, gejala stenosis pilorus sering muncul pada bayi yang berusia 3-5 minggu setelah lahir, dan jarang terjadi pada bayi yang berusia di atas 3 bulan. 

Adapun gejala-gejala stenosis pilorus yang seringkali terjadi, seperti:

  • Terus menerus merasa lapar
    Biasanya setelah muntah, bayi akan terus menerus merasa lapar dan lebih sering makan dan minum susu. 
  • Muntah setelah makan atau minum susu
    Pada awalnya, bayi akan mengalami muntah ringan dan secara bertahap menjadi lebih parah, apabila saat lubang pilorus menyempit. Terkadang, bayi akan mengalami muntah yang mengandung darah. 
  • Mengalami dehidrasi 
    Mama akan menyadari si Kecil mengalami dehidrasi ketika Mama mendapati popok yang sedikit basah, dan bayi mama yang menangis tanpa mengeluarkan air mata atau lesu. 
  • Perubahan gerak usus
    Bayi akan mengalami konstipasi atau sulit buang air besar yang disebabkan oleh makanan yang dicerna bayi tidak mencapai usus. 
  • Kontraksi perut 
    Bayi akan mengalami kontraksi perut yang terlihat adanya gelombang yang menyerupai beriak di bagian perut bagian atas. Hal ini biasanya disebabkan oleh otot perut yang berusaha untuk memaksakan makanan masuk melalui pilorus yang menyempit. 
  • Penurunan berat badan
    Ketika mengalami kondisi ini, sangat tidak heran lagi jika berat badan bayi tidak bertambah. Sehingga, hal ini akan menyebabkan bayi akan terus mengalami penurunan berat badan. 

Penyebab Stenosis Pilorus pada Bayi

Freepik/kwangmoop
Freepik/kwangmoop

Hingga saat ini, belum diketahui secara jelas penyebab dari stenosis pilorus. Namun, ada kemungkinan jika kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan sekitar. 

Meskipun belum diketahui penyebab pastinya, stenosis pilorus dapat berisiko pada:

  • Sering terjadi pada bayi laki-laki, terutama anak sulung
  • Bayi yang terlahir prematur
  • Faktor genetik yang sebelumnya pernah diderita oleh keluarga
  • Penggunaan antibiotik sejak dini pada bayi dan juga ibu yang sering mengonsumsi antibiotik tertentu pada akhir kehamilan
  • Mama yang sering merokok selama hamil yang sangat berisiko bayi dapat menderita stenosis pilorus

Komplikasi Stenosis Pilorus pada Bayi

Freepik/rawpixel.com
Freepik/rawpixel.com

Stenosis pilorus akan sangat berbahaya bagi pertumbuhan bayi dan dapat berisiko pada kematian bayi, apabila tidak segera ditangani. 

Perlu Mama ketahui bahwa stenosis pilorus dapat memiliki risiko komplikasi yang dapat membahayakan bayi, seperti:

  • Berisiko gagal tumbuh dan berkembang 
  • Sering mengalami dehidrasi dan ketidakseimbangan mineral (elektrolit) yang disebabkan oleh muntah
  • Iritasi perut yang dapat menyebabkan pendarahan ringan karena muntah yang berulang kali
  • Penyakit kuning 

Diagnosis Stenosis Pilorus pada Bayi

Unsplash/cdc
Unsplash/cdc

Stenosis pilorus dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa perut bayi, dan akan merasakan benjolan pada otot pilorus yang membesar. 

Selain itu, tidak jarang dokter akan menemukan kontraksi seperti gelombang (peristaltik) saat memeriksa perut bayi. 

Terdapat beberapa tes tambahan yang dapat membantu dokter untuk mendiagnosis gejala stenosis pilorus, yaitu:

  • Ultrasonografi (USG) untuk melihat apakah perut pada bayi mama mengalami stenosis pilorus atau bukan
  • Tes darah yang dilakukan untuk memeriksa ketidakseimbangan elektrolit dan dehidrasi
  • Jika hasil USG tidak jelas, maka dokter akan mendiagnosis penyakit ini melalui x-ray untuk mendapatkan kepastian yang jelas

Penanganan Stenosis Pilorus

Freepik/rawpixel.com
Freepik/rawpixel.com

Penanganan pada stenosis pilorus sangat memerlukan tindakan pembedahan yang biasanya dikenal dengan piloromiotomi. 

Biasanya, prosedur pada tindakan ini akan segera dilakukan di hari yang sama setelah dokter mendiagnosis gejala-gejala penyakit ini.

Dokter bedah akan melakukan tindakan pembedahan dengan memotong lapisan luar otot pilorus yang menebal, sehingga lapisan dalam menonjol keluar. Hal inilah yang membuat saluran makanan dapat melewati usus kecil dan pilorus tidak terhambat. 

Pada tindakan ini, dokter seringkali menggunakan operasi minimal invasif atau tindakan bedah yang berisiko rendah luka sayatan, rasa nyeri,dan pemulihan yang lebih singkat, seperti laparoskopi. 

Setelah bayi mendapatkan tindakan piloromiotomi, bayi akan lebih sering menyusu dan muntah yang dapat berlanjut selama beberapa hari. 

Stenosis pilorus dapat membahayakan kondisi bayi jika tidak ditangani segera. Oleh karena itu, jika Mama curiga dengan gejala-gejala yang ditimbulkan, maka Mama harus menghubungi dokter untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat untuk si kecil. 

Itu dia gejala, penyebab, dan penanganan stenosis pilorus pada bayi. Semoga informasi ini bermanfaat, Ma!

Baca juga : 

Share
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Latest in Baby

See More

Status Hukum Anak dari Perkawinan Berbeda Kewarganegaraan

06 Apr 2026, 16:20 WIBBaby