"Musik dan bahasa sama-sama dibangun dari pola. Ketukan dalam musik tersusun seperti suku kata yang membentuk kata dalam percakapan," ujar Gorman.
Studi: Bayi yang Diperkenalkan Musik Sejak Lahir Lebih Cepat Berbicara

- Studi menunjukkan bayi yang diperkenalkan musik sejak lahir lebih cepat mengenali pola suara, membantu mereka memahami struktur bahasa dan mempercepat kemampuan berbicara.
- Penelitian EEG pada bayi usia 6–9 bulan menemukan bahwa otak memproses ritme musik dan pola bahasa dengan cara serupa, menandakan keterkaitan antara keduanya.
- Kemampuan ritme bayi tidak ditentukan genetik, melainkan dari interaksi musikal bersama orangtua seperti bernyanyi dan bermain musik yang mendukung perkembangan bahasa.
Setiap orangtua tentu berharap si Kecil tumbuh sehat dan berkembang secara optimal. Bahkan sejak masih di dalam kandungan hingga lahir, bayi sudah mulai menerima berbagai rangsangan dari lingkungan di sekitarnya.
Stimulasi sejak dini dipercaya berperan penting dalam mendukung perkembangan otak sekaligus kemampuan belajar anak di masa depan. Salah satu stimulasi yang sering diberikan adalah memperdengarkan musik sejak bayi lahir.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan musik dan nyanyian dapat membantu bayi mengenali pola suara, yang menjadi dasar penting dalam proses belajar bahasa dan mendukung kemampuan berbicara lebih cepat.
Berikut Popmama.com telah rangkum studi mengenai bayi yang diperkenalkan musik sejak lahir lebih cepat berbicara. Yuk, simak selengkapnya, Ma!
1. Bayi yang diperkenalkan musik sejak lahir lebih cepat berbicara

Mengutip dari Parents, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Science menunjukkan bahwa bayi yang lebih peka dalam mendeteksi ritme musik juga lebih mampu mengenali pola dalam ucapan.
Kemampuan mengenali pola ini merupakan keterampilan penting dalam mempelajari kata-kata dan memahami bahasa. Jordyn Koveleski Gorman, seorang pediatric speech-language pathologist sekaligus pakar perkembangan anak, menjelaskan bahwa musik dan bahasa memiliki kesamaan struktur.
Menurutnya, ketika otak bayi mampu menemukan dan mengikuti pola suara, kemampuan tersebut dapat membantu proses belajar bahasa sejak dini.
Pandangan serupa juga disampaikan Rachel Albert, PhD, profesor psikologi di Lebanon Valley College dan direktur LVC Baby Lab. Ia menekankan bahwa bayi secara alami memiliki kemampuan mengenali pola sejak lahir.
Menurutnya, kesamaan pola dalam musik dan bahasa membantu bayi memahami struktur bunyi sejak dini, sehingga mendukung perkembangan kemampuan komunikasi dan proses belajar berbicara.
2. Terdapat kemiripan dalam cara otak bayi memproses musik dan bahasa

Studi ini melibatkan 44 bayi berusia antara 6 hingga 9 bulan. Untuk mengetahui bagaimana otak mereka merespons suara, para peneliti menggunakan metode elektroensefalogram (EEG) sebagai alat pengukur aktivitas otak saat bayi mendengarkan rangsangan audio.
Penulis utama studi, Iris van der Wulp, kandidat PhD di Utrecht University, menjelaskan bahwa penelitian EEG pada bayi cukup menantang. Bayi harus mengenakan topi khusus yang dilengkapi elektroda dan kabel selama sesi penelitian.
Untuk menjaga kenyamanan mereka, bayi ditempatkan di pangkuan orangtua dan diberikan mainan agar tetap tenang dan tidak bergerak berlebihan. Selama penelitian, bayi diperdengarkan dua jenis audio.
Pertama, rangkaian ucapan buatan tanpa jeda yang dirancang dengan pola suku kata berulang menyerupai kata. Kedua, pola musik berirama. Para peneliti kemudian mengamati apakah aktivitas otak bayi dapat selaras dengan pola suara yang mereka dengarkan.
"Bayi yang mampu menyelaraskan gelombang otaknya secara akurat dengan ketukan ritme musik juga mampu menyelaraskan gelombang otaknya dengan kata-kata dalam bahasa buatan. Hal ini menunjukkan bahwa memang terdapat keterkaitan dalam cara bayi memproses musik dan bahasa," ujarnya.
3. Kemampuan musikal orangtua tidak menentukan kemampuan ritme bayi

Iris van der Wulp menjelaskan bahwa sebelumnya kemampuan ritme dianggap diwariskan dalam keluarga. Sebaliknya, faktor yang terbukti berpengaruh adalah seberapa sering orangtua dan bayi terlibat dalam aktivitas musik bersama.
“Sebelumnya diperkirakan bahwa kemampuan ritme musik bersifat genetik dan dapat diwariskan. Namun, kami tidak menemukan bukti bahwa hal tersebut benar," ujarnya.
Bayi yang rutin diajak bernyanyi, mendengarkan musik, atau melakukan kegiatan musikal menunjukkan kemampuan ritme yang lebih kuat. Kemampuan ritme ini kemudian berkaitan dengan keterampilan bahasa yang lebih baik pada tahap perkembangan selanjutnya.
Iris van der Wulp juga menekankan pentingnya menghadirkan aktivitas musik dalam keseharian anak.
“Berdasarkan hasil ini, saya merekomendasikan orangtua untuk meluangkan waktu membuat dan mendengarkan musik bersama anak mereka, karena temuan kami menunjukkan bahwa hal ini bermanfaat bagi perkembangan musikal dan bahasa anak," jelasnya.
Jordyn Koveleski Gorman juga menambahkan bahwa keterlibatan musik antara orangtua dan anak jauh lebih penting dibandingkan kemampuan musikal orangtua.
"Orangtua tidak perlu berbakat dalam musik atau bernyanyi dengan nada sempurna. Mereka hanya perlu mau bernyanyi, bertepuk tangan, mengayun, dan bersenang-senang bersama bayi," tambah Gorman.
4. Pentingnya berinteraksi melalui musik bersama anak

Memutar musik sebagai latar belakang tidak sama dengan menciptakan musik bersama si Kecil. Menurut Jordyn Koveleski Gorman, justru interaksi langsung antara orangtua dan bayi yang berperan besar dalam mendukung proses belajar sejak dini.
"Saat orangtua bernyanyi bersama bayinya, mereka memperlambat bahasa, menekankan bunyi, menggunakan pengulangan, serta memadukan suara dengan gerakan dan ekspresi wajah. Semua hal tersebut memudahkan otak bayi mulai mengatur dan memahami ujaran," jelas Gorman.
Rachel Albert, PhD, juga menekankan pentingnya waktu dan perhatian dalam proses belajar bayi. Ia menjelaskan bahwa bayi belajar paling baik ketika suara, baik musik maupun percakapan, berkaitan dengan apa yang sedang mereka perhatikan.
"Bayangkan bayi sedang bermain dengan balok. Orangtua yang menanggapi ocehan bayi dengan kata-kata atau lagu yang berkaitan dengan aktivitasnya saat itu akan lebih mendukung pembelajaran dibandingkan membicarakan hal lain atau memberikan narasi tanpa henti tentang balok tersebut," ujarnya.
5. Interaksi musik dapat membantu perkembangan bahasa bayi

Gorman menekankan bahwa orangtua tidak perlu terburu-buru memberikan pelajaran musik formal pada bayi. Hal yang paling penting adalah menciptakan kedekatan dan interaksi.
Jika orangtua aktif terlibat melalui percakapan, bernyanyi, bermain, dan merespons ocehan bayi, hal itu sudah sangat mendukung perkembangan bahasa mereka.
"Bernyanyi saat mengganti popok, bertepuk tangan saat bermain, mengayun tubuh mengikuti lagu, atau membuat nyanyian lucu saat waktu mandi adalah aktivitas yang bermakna bagi perkembangan anak," ujar Gorman.
Ia juga mengingatkan orangtua untuk tidak terlalu menafsirkan satu penelitian secara berlebihan. Meskipun riset menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan ritme dan pembelajaran bahasa, hal itu tidak berarti bayi yang kurang tertarik pada musik akan kesulitan berbahasa.
Nah, itu dia rangkuman studi mengenai bayi yang diperkenalkan musik sejak lahir lebih cepat berbicara. Semoga informasinya dapat membantu, ya, Ma.


















