Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah DHA Saja Cukup untuk Perkembangan Otak Anak? Ini Kata Dokter

Apakah DHA Saja Cukup untuk Perkembangan Otak Anak? Ini Kata Dokter
Pexels/Bruno Bueno
Intinya Sih
  • dr. Yuni Astria menegaskan anak picky eater berisiko kekurangan nutrisi penting yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak bila tidak segera dievaluasi pola makannya.
  • DHA memang penting untuk otak, namun tidak bisa bekerja sendiri; dibutuhkan kombinasi nutrisi lain agar fungsi kognitif anak berkembang optimal.
  • Sphingomyelin, fosfolipid, dan alfa-laktalbumin berperan melengkapi DHA dalam membentuk myelin, menjaga sel saraf, serta mendukung tidur dan fokus anak melalui sinergi nutrisi multimodal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bagi Mama, menghadapi fase anak yang susah makan atau picky eating tentu menjadi tantangan tersendiri. Selain khawatir berat badannya tidak naik, kekhawatiran terbesar sering kali muncul pada perkembangan otaknya. Banyak orangtua bertanya-tanya, apakah DHA (Docosahexaenoic Acid) saja cukup untuk perkembangan otak anak?

dr. Yuni Astria, Sp.A, melalui akun Instagramnya @dryunianak, membagikan edukasi penting mengenai hal ini. Ternyata, DHA tidak bisa bekerja sendirian dalam membentuk kecerdasan anak, lho.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Memahami risiko nutrisi tidak adekuat pada anak picky eater

ilustrasi bayi makan
Pexels/www.kaboompics.com

Anak yang memilih-milih makanan berisiko mengalami kekurangan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). dr. Yuni menekankan bahwa asupan yang tidak optimal dapat berdampak langsung pada proses tumbuh kembang yang tidak maksimal.

Jika kondisi ini dibiarkan, otak tidak mendapatkan "bahan bakar" yang cukup untuk membentuk koneksi saraf yang kuat. Oleh karena itu, Mama perlu segera mengevaluasi pola makan si kecil sebelum dampaknya memengaruhi performa kognitifnya di masa depan.

2. Peran DHA untuk perkembangan otak: Tidak bisa berdiri sendiri

ilustrasi bayi makan
Pexels/Vanessa Loring

DHA memang dikenal sebagai asam lemak esensial yang krusial untuk otak. Namun, dr. Yuni meluruskan bahwa DHA hanyalah satu bagian dari sistem nutrisi yang lebih luas. Mengandalkan satu jenis nutrisi saja tidak akan cukup untuk mendukung fungsi otak yang kompleks.

"DHA merupakan bagian dari asam lemak esensial yang berperan dalam mendukung berbagai fungsi tubuh, termasuk perkembangan otak. Namun, DHA tidak bekerja secara tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem nutrisi yang lebih luas. Dalam pemenuhan nutrisi anak, dibutuhkan kombinasi berbagai komponen nutrisi," ungkap dr. Yuni.

3. Pentingnya Sphingomyelin untuk kecepatan berpikir

ilustrasi bayi aktif
Pexels/Polesie Toys

Selain DHA, terdapat nutrisi bernama Sphingomyelin. Nutrisi ini adalah bagian dari fosfolipid yang berfungsi membentuk selubung myelin pada saraf otak. Myelin bekerja seperti isolator kabel listrik yang mempercepat hantaran sinyal antar sel saraf.

Dengan kadar Sphingomyelin yang cukup, proses pengiriman informasi di otak menjadi lebih cepat. Hal ini sangat berkaitan dengan seberapa cepat anak menangkap perintah atau mempelajari hal baru dalam kesehariannya. Adapun sumber Sphingomyelin dari makanan yakni susu sapi, telur, daging hewani hingga susu khusus pertumbuhan. 

4. Manfaat Fosfolipid dalam struktur sel otak

ilustrasi bayi aktif
Pexels/Ivan S

Fosfolipid adalah komponen utama penyusun membran sel, termasuk sel-sel di otak. Bersama dengan DHA, fosfolipid menjaga fleksibilitas dan integritas sel saraf sehingga komunikasi antar sel (sinaps) berjalan dengan lancar.

Melansir dari Journal of Nutrition and Metabolism, asupan fosfolipid yang baik sejak dini mendukung daya ingat dan kemampuan belajar anak. Adapun salah satu sumber fosfolipid bisa didapatkan dari telur (terutama jenis fosfatidilkolin) yang paling padat dan mudah diserap oleh tubuh. Fosfolipid dalam kuning telur sangat penting untuk fungsi memori dan kesehatan hati. 

Jadi, pastikan menu harian si kecil mengandung sumber lemak sehat yang beragam, ya, Ma.

5. Protein spesifik: Alfa-laktalbumin

ilustrasi bayi aktif
Pexels/Julion

Tidak semua protein diciptakan sama untuk otak. dr. Yuni menyebutkan Alfa-laktalbumin sebagai fraksi protein penting. Protein ini kaya akan triptofan, yakni asam amino yang menjadi bahan baku serotonin untuk mengatur suasana hati dan pola tidur anak.

Tidur yang berkualitas adalah saat di mana otak melakukan konsolidasi memori. Jika asupan Alfa-laktalbumin terpenuhi, anak cenderung lebih tenang, fokus, dan memiliki kualitas tidur yang baik untuk mendukung perkembangan otaknya.

6. Pentingnya sinergi nutrisi dalam makanan anak

ilustrasi bayi makan
Pexels/Vanessa Loring

Kunci utama dari video dr. Yuni adalah sinergi. Kombinasi antara Sphingomyelin, Fosfolipid, Alfa-laktalbumin, dan DHA bekerja saling melengkapi. Jika salah satu hilang, maka dukungan terhadap fungsi kognitif menjadi kurang seimbang.

Pendekatan ini sering disebut sebagai nutrisi multimodal. Fokusnya bukan lagi pada satu "zat ajaib", melainkan pada keseimbangan asupan secara keseluruhan yang saling memperkuat satu sama lain dalam membentuk kecerdasan si kecil.

Jika asupan makanan padat si Kecil tetap tidak mencukupi setelah berbagai upaya, dr. Yuni menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. 

"Apabila asupan dari makanan sehari-hari belum mencukupi, jika setelah dievaluasi oleh dokter dan terdapat indikasi maka dapat dipertimbangkan pemberian tambahan nutrisi," saran dr. Yuni.

Itulah tadi informasi soal DHA untuk perkembangan otak anak. Semoga informasi ini bisa jadi wawasan baru untuk Mama dan Papa.

Share Article
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara

Related Articles

See More