Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Bayi Sering Digendong Bisa Jadi Manja? Ini Kata Dokter
Pexels/jovan curayag
  • Bayi yang menangis belum memiliki kemampuan kognitif untuk sengaja memanipulasi orangtua atau berpura-pura membutuhkan perhatian.

  • Pelukan, gendongan, tatapan, dan respons yang konsisten dapat membantu bayi membangun rasa aman.

  • Menggendong bukan berarti harus sepanjang waktu karena bayi juga membutuhkan kesempatan bergerak, bermain, dan mengeksplorasi lingkungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Anggapan bahwa bayi yang sering digendong akan menjadi manja dan terus bergantung pada orangtua dibahas.
  • Who?
    Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K), orangtua, dan bayi.
  • Where?
    Dalam buku Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja.
  • When?
    Pada masa bayi, terutama di usia awal kehidupannya.
  • Why?
    Bayi menangis dapat karena lapar, tidak nyaman, mengantuk, membutuhkan sentuhan, atau ingin dekat dengan orang yang merawatnya.
  • How?
    Orangtua dapat merespons kebutuhan bayi dengan menggendong, menenangkan, menyusui, mengganti popok, atau memastikan bayi tidak merasa tidak nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi yang sering digendong tidak jadi manja. Saat bayi menangis, ia bisa lapar, mengantuk, atau ingin dekat dengan orangtua. Mama dan papa dapat memeluk atau menggendongnya supaya bayi merasa aman. Bayi juga boleh bermain dan bergerak saat ia nyaman, dengan tetap diawasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kedekatan melalui pelukan, gendongan, tatapan, dan respons terhadap tangisan memberi ruang bagi bayi untuk merasa aman. Rasa aman tersebut mendukung bayi mengenali bahwa ada orang yang dapat menolong saat dibutuhkan. Di sisi lain, kesempatan bergerak, bermain, dan mengeksplorasi tetap dapat diberikan sesuai tahap perkembangannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menggendong bayi sering kali menjadi cara orangtua untuk menenangkan si Kecil ketika menangis, rewel, atau membutuhkan kedekatan. Namun, masih ada anggapan bahwa terlalu sering menggendong bayi bisa membuatnya menjadi manja dan terus bergantung pada orangtua.

Apakah benar seperti itu?

Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K) dalam bukunya "Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja" juga menjelaskan bahwa semakin sering orangtua memberikan pelukan, tatapan, dan interaksi kepada bayi, semakin besar kesempatan bayi untuk merasa aman. Rasa aman tersebut dapat menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan kemandirian anak.

Lantas, benarkah bayi yang sering digendong justru bisa tumbuh menjadi anak manja? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya.

1. Bayi belum bisa sengaja menjadi manja

Pexels/Nasirun Khan

Pada masa bayi, terutama di usia awal kehidupannya, si Kecil belum memiliki kemampuan kognitif untuk sengaja memanipulasi orangtua atau berpura-pura membutuhkan perhatian.

Misalnya ketika bayi menangis, ia mungkin sedang lapar, merasa tidak nyaman, mengantuk, membutuhkan sentuhan, atau ingin merasa dekat dengan orang yang merawatnya. Karena itu, menggendong dan memeluk bayi merupakan bagian dari respons terhadap kebutuhannya, bukan berarti sedang memanjakannya.

Bayi juga belum dapat memahami konsep seperti, "kalau menangis nanti mama atau papa akan menggendong”. Respons orangtua terhadap kebutuhan bayi justru membantu mereka mengenali bahwa lingkungan di sekitarnya aman dan ada orang yang dapat memberikan pertolongan ketika dibutuhkan.

2. Sering digendong membantu membangun rasa aman

Freepik

Kedekatan yang diberikan orangtua melalui pelukan, gendongan, tatapan, dan respons terhadap tangisan dapat membantu membangun secure attachment atau kelekatan yang aman.

Ketika kebutuhan bayi direspons secara konsisten dan penuh kasih sayang, ia belajar bahwa orangtua merupakan tempat yang aman untuk mendapatkan kenyamanan. Rasa aman inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi bagi anak untuk lebih percaya diri saat mulai mengeksplorasi lingkungannya.

Hal tersebut juga dijelaskan oleh dr. Meta dalam bukunya. Menurutnya, memberikan kedekatan kepada bayi bukan berarti membuatnya manja, melainkan membantu membangun rasa aman.

"Penelitian justru menunjukkan bahwa semakin sering orangtua memeluk, menatap, dan bermain bersama bayi, bayi makin merasa aman. Ini akan membuat bayi tumbuh menjadi lebih mandiri," jelas dr. Meta di bukunya.

Dengan kata lain, memberikan rasa aman kepada bayi bukan berarti menghambat kemandiriannya. Justru, ketika anak merasa memiliki tempat yang aman untuk kembali, ia cenderung lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru dan berkembang sesuai tahap usianya.

3. Sentuhan fisik juga memberikan manfaat bagi bayi

Pexels/Arina Krasnikova

Menggendong dan melakukan kontak fisik dengan bayi bukan hanya memberikan kenyamanan secara emosional. Sentuhan, termasuk skin-to-skin contact, juga memiliki sejumlah manfaat bagi bayi, terutama pada periode awal kehidupannya.

Kontak kulit antara bayi dan orangtua dapat membantu mendukung kestabilan suhu tubuh, detak jantung, serta pernapasan bayi. Sentuhan yang menenangkan juga dapat membantu mengurangi respons stres pada bayi.

Karena itu, orangtua tidak perlu merasa bersalah ketika ingin memeluk atau menggendong bayi yang sedang membutuhkan kedekatan.

4. Membiarkan bayi menangis bukan satu-satunya cara mengajarkan mandiri

Pexels/Polina Smelova

Ada anggapan bahwa bayi perlu dibiarkan menangis agar tidak terlalu bergantung kepada orangtua. Padahal, kemampuan mandiri tidak terbentuk hanya dengan membiarkan bayi menghadapi tangisannya sendiri.

Pada masa bayi, respons orangtua terhadap kebutuhan si Kecil justru menjadi bagian dari proses membangun rasa aman. Orangtua dapat memberikan respons sesuai kebutuhan bayi, misalnya dengan menggendong, menenangkan, menyusui, mengganti popok, atau memastikan tidak ada kondisi yang membuatnya tidak nyaman.

Seiring bertambahnya usia, anak secara bertahap akan belajar mengatur emosi, menghadapi situasi baru, dan melakukan berbagai hal secara mandiri.

5. Menggendong bayi bukan berarti harus selalu menggendongnya

Freepik/user18526052

Meski menggendong bayi bukan penyebab anak menjadi manja, bukan berarti orangtua harus selalu menggendong si Kecil sepanjang waktu.

Bayi juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak bebas, bermain, mengamati lingkungan, dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya sesuai tahap perkembangannya.

Orangtua dapat memberikan keseimbangan antara kedekatan dan kesempatan bereksplorasi. Saat bayi membutuhkan pelukan, berikan respons yang menenangkan. Ketika ia sedang nyaman bermain atau mengeksplorasi lingkungan, biarkan ia melakukannya dengan tetap berada dalam pengawasan.

Jadi, benarkah bayi yang sering digendong bisa jadi manja? Jawabannya tidak.

Menggendong merupakan salah satu cara orangtua memenuhi kebutuhan kenyamanan dan rasa aman bayi. Alih-alih membuat anak bergantung selamanya, hubungan yang responsif dan penuh kasih sayang dapat menjadi dasar bagi terbentuknya rasa aman yang mendukung proses anak untuk tumbuh semakin percaya diri dan mandiri.

Sehingga rangtua tidak perlu ragu untuk memberikan pelukan atau gendongan ketika si Kecil membutuhkannya. Yang terpenting, tetap berikan kesempatan bagi bayi untuk bergerak, bermain, dan mengeksplorasi lingkungan sesuai dengan tahap perkembangannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article