Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Penting untuk Berkata “Tidak” pada Anak? Ini Kata Psikolog

Kenapa Penting untuk Berkata “Tidak” pada Anak? Ini Kata Psikolog
Freepik
Intinya Sih
  • Mengatakan 'tidak' pada anak adalah bentuk kasih sayang yang membantu membangun karakter, ketahanan, dan kesabaran mereka dalam menghadapi tantangan hidup.
  • Menetapkan batasan dengan empati membuat anak merasa aman sekaligus memahami bahwa aturan bukan berarti hilangnya kasih sayang dari orangtua.
  • Cara penyampaian penolakan penting: gunakan kontak mata, bahasa positif, validasi perasaan, serta alasan logis agar anak lebih mudah menerima larangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjadi orangtua, rasanya ada kepuasan tersendiri saat kita mengiyakan permintaan mereka. Namun, pernahkah Mama merasa terjebak dalam kebiasaan selalu berkata "iya" hanya untuk menghindari tantrum atau kemarahan si Kecil?

Ternyata, selalu menuruti kemauan anak tidak selamanya berdampak baik, lho. Psikolog anak asal Amerika Serikat, Becky Kennedy, menjelaskan bahwa berkata "tidak" justru merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang nyata. 

Yuk, simak penjelasan lengkap yang sudah  Popmama.com rangkum mengenai kenapa penting untuk berkata “tidak” pada anak?

Kenapa Penting untuk Berkata “Tidak” pada Anak?

Freepik
Freepik

Melansir dari laman CNBC Internasional, Kennedy menekankan bahwa membatasi keinginan anak adalah cara penting untuk menunjukkan bahwa kita peduli pada perkembangan karakter mereka di masa depan.

Menghindari risiko anak menjadi mudah menyerah

Dalam jangka panjang, selalu menuruti kemauan si Kecil berpotensi membuat mereka merugi. Tanpa adanya hambatan atau penolakan, anak-anak cenderung kurang memiliki daya usaha dan kesabaran. 

Mereka terbiasa mendapatkan apa pun dengan mudah, sehingga saat menghadapi tantangan yang sebenarnya, mereka bisa memiliki sikap mudah menyerah karena tidak terbiasa berjuang atau menunggu.

Menurut Kennedy, yang terpenting adalah membantu anak merasa bahwa keinginan dan kebutuhan mereka tetap dihargai meski Mama harus berkata tidak. Dengan begitu, si Kecil belajar bahwa penolakan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar.

Memahami Bahwa "Boundaries" Bukan Berarti Menghilangkan Empati

Freepik
Freepik

Sebagai orangtua, Mama mungkin sering merasa tidak nyaman saat harus mendisiplinkan anak. Ada ketakutan jika kita akan menjadi orang tua yang otoriter dengan prinsip "pokoknya jangan karena Mama bilang jangan."

Menetapkan batasan atau boundaries sebenarnya tidak membatalkan empati yang Mama miliki. Terkadang, hal paling lembut yang bisa Mama lakukan bukanlah terus-menerus memberikan penjelasan yang panjang lebar, melainkan mulai membimbing anak dengan kejelasan dan konsistensi. 

Sesekali, kata "tidak" yang tegas justru menjadi panduan yang dibutuhkan anak untuk merasa aman dalam batasan yang jelas. Di sinilah pentingnya memahami bahwa Mama bisa tetap menjadi gentle parent sambil tetap teguh pada aturan. 

Mengatakan tidak bukan berarti Mama tidak sayang, tapi justru sedang mengajari anak tentang realitas kehidupan bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan mereka, dilansir dari laman Motherly.

Langkah Efektif agar si Kecil Mau Mendengarkan Larangan

Freepik
Freepik

Terkadang, masalahnya bukan pada kata "tidak"-nya, melainkan bagaimana cara kita menyampaikannya sehingga si Kecil benar-benar mau mendengarkan.

Dilansir dari laman Lovevery, ada beberapa langkah konkret yang bisa Mama coba agar anak lebih kooperatif saat dilarang:

  • Lakukan eye contact dengan anak: Sebut nama anak dan tunggu sampai ia menatap Mama. 
  • Berikan instruksi yang jelas: Katakan, "Itu tidak boleh", lalu tambahkan penjelasan singkat seperti, "Kita tidak menyentuh tanaman itu."
  • Beri ruang untuk berhenti: Setelah melarang, cobalah berpura-pura sibuk sebentar. Ini memberikan kesempatan bagi anak agar tidak merasa sedang dipelototi atau ditekan.
  • Gunakan pengalihan jika perlu: Jika ia tetap melakukan hal tersebut, ulangi langkah sebelumnya dan berikan pengalihan seperti, "Ayo, main mainan yang di sini saja." Jika masih gagal, Mama bisa memindahkan si Kecil secara fisik ke tempat lain dan jangan lupa ucapkan terima kasih saat ia akhirnya mau mendengarkan.

Kapan dan Bagaimana Cara Bilang "Tidak" ke Anak?

Freepik/freepic.diller
Freepik/freepic.diller

Berikut langkah dan situasi tepat untuk bilang "tidak" kepada si Kecil, yang bisa Mama perhatikan.

  • Saat tindakannya bisa membahayakan diri sendiri atau orang lain
    Karena anak belum bisa memprediksi bahaya, Mama perlu mengarahkannya ke pilihan yang lebih aman. Contoh: "Tidak sayang, kamu tidak boleh lompat-lompat di sofa karena ada meja yang tajam di dekatnya. Kalau mau lompat, yuk, kita ke halaman luar saja.
  • Saat si Kecil sebenarnya sudah bisa melakukannya sendiri
    Terkadang anak manja dan minta bantuan untuk hal yang sudah ia kuasai. Berkata tidak di sini bertujuan agar ia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Saat permintaannya hanya keinginan, bukan kebutuhan
    Di tengah banyaknya iklan mainan, Mama tidak wajib menuruti semua keinginan anak. Ini membantunya belajar memahami bahwa tidak semua hal harus dimiliki. Contoh: "Tidak, kita tidak membeli mainan itu hari ini. Tapi Mama setuju, mainannya memang sangat bagus!"
  • Saat rencana berubah secara tiba-tiba
    Mengatakan tidak saat rencana batal akan melatih kesabaran dan fleksibilitas si Kecil dalam menghadapi perubahan situasi.
  • Saat kebutuhan orang lain (sementara) lebih penting
    Ini adalah momen yang tepat untuk mengajarkan sifat dermawan dan kepedulian. Anak belajar bahwa dunia tidak hanya berputar di sekelilingnya saja.
  • Saat Mama merasa keberatan atau terpaksa melakukannya
    Melakukan sesuatu dengan rasa kesal justru tidak baik bagi hubungan Mama dan anak. Katakan tidak untuk menetapkan batasan yang sehat atau mencari jalan tengah.
  • Saat permintaannya bertentangan dengan nilai keluarga
    Jangan ragu berkata tidak jika permintaannya tidak sesuai dengan prinsip atau aturan yang Mama pegang teguh di rumah.

Gunakan Bahasa Positif sebagai Alternatif Kata "Tidak"

Freepik
Freepik

Terlalu sering mendengar kata "tidak" bisa membuat anak menjadi kebal. Lama-kelamaan, kata tersebut kehilangan maknanya karena sudah dianggap biasa oleh anak.

Daripada fokus pada apa yang tidak boleh dilakukan, Mama bisa mengarahkan anak pada perilaku yang seharusnya ia tunjukkan. Berikut beberapa perbandingannya:

Saat anak membawa gelas:

  • Hindari: "Jangan sampai tumpah, ya!"
  • Coba: "Terima kasih ya, sudah pakai dua tangan supaya susunya tetap aman di dalam gelas."

Saat anak berinteraksi dengan hewan peliharaan:

  • Hindari: "Jangan tarik ekor kucingnya!"
  • Coba: "Begini cara elus kucing yang lembut, sayang. Kucingnya jadi senang, kan?"

Saat anak mulai melempar mainan:

  • Hindari: "Jangan dilempar-lempar baloknya!"
  • Coba: "Lihat Mama, yuk! Begini cara menyusun baloknya tinggi-tinggi supaya jadi menara."

Saat anak berlarian di dalam rumah:

  • Hindari: "Jangan lari-larian!"
  • Coba: "Di dalam rumah, kita jalan saja, ya. Nanti kalau di taman, baru kita lari'.

Saat anak berteriak:

  • Hindari: "Jangan teriak-teriak!"
  • Coba: "Bisa pakai suara pelan? Mama lebih jelas dengarnya kalau kamu bicara lembut."

Saat anak berebut mainan:

  • Hindari: "Jangan pelit sama teman!"
  • Coba: "Ayo, kita sharing. Sekarang giliran temanmu, habis itu baru giliran kamu lagi."

Validasi Perasaan dan Berikan Alasan yang Logis


Freepik

Anak akan lebih mudah menerima penolakan jika mereka merasa perasaan mereka dipahami. Validasi adalah kunci agar si Kecil tidak merasa diabaikan. Saat si Kecil menginginkan sesuatu di toko mainan, alih-alih langsung membentak "Tidak boleh!", cobalah teknik reframing atau membingkai ulang situasi tersebut dengan penuh empati.

Mama bisa berkata, "Mama tahu kamu mau banget mainan itu. Kelihatannya memang lucu, ya. Tapi, kita tidak akan membelinya hari ini." Dengan kalimat ini, si Kecil merasa keinginan mereka diakui meskipun tidak dipenuhi. Melansir dari laman Lovevery, menjelaskan kenapa sesuatu tidak diperbolehkan juga membantu anak belajar membuat pilihan yang lebih baik di masa depan.

Nah, itu tadi alasan kenapa berkata "tidak" itu penting dan bagaimana cara melakukannya tanpa menyakiti hati si Kecil. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Latest in Baby

See More