“Semakin prematur bayi dilahirkan, respons mereka terhadap sentuhan semakin berkurang dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Bayi baru lahir prematur memang tidak memproses sentuhan dengan cara yang sama, dan tentu tidak seperti cara bayi cukup bulan memprosesnya,” ujar Nathalie Maitre, MD, PhD, ahli neonatologi.
Pentingnya Sentuhan Pertama bagi Perkembangan Sensorik Bayi

- Penelitian pada 116 bayi menunjukkan kontak kulit ke kulit, ASI dini, dan pijatan lembut membantu bayi mengenali serta merasa nyaman terhadap stimulasi sentuhan.
- Pemantauan EEG menemukan bayi prematur memiliki respons otak lebih lemah terhadap hembusan udara lembut dibanding bayi cukup bulan, terutama jika lahir semakin dini.
- Pengalaman sensorik di NICU berbeda dari rahim; tenaga medis dan keluarga perlu memberikan sentuhan lembut sesuai kebutuhan untuk mendukung perkembangan sensorik bayi prematur.
Momen pertama kali menggendong dan menyentuh bayi tentu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi orangtua. Setelah lahir, bayi mungkin akan mendapatkan belaian lembut sebelum akhirnya beristirahat dengan nyaman di dada Mama atau Papa.
Ternyata, sentuhan pertama yang diterima bayi tidak hanya menciptakan kedekatan emosional, tetapi juga memiliki peran penting bagi perkembangan sensoriknya.
Sebuah penelitian dari Vanderbilt University dan Nationwide Children’s Hospital menunjukkan bahwa pengalaman sentuhan sejak awal kehidupan dapat memengaruhi perkembangan kemampuan bayi dalam merasakan sentuhan di kemudian hari.
Berikut Popmama.com telah merangkum pentingnya sentuhan pertama bagi perkembangan sensorik bayi, dilansir The Bump.
Table of Content
1. Sentuhan lembut membantu bayi mengembangkan kemampuan sensoriknya

Pexels/Masood Aslami Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology melibatkan 59 bayi yang lahir cukup bulan dan 57 bayi prematur. Hasil penelitian terbukti adanya manfaat dari kontak kulit ke kulit, pemberian ASI sejak dini, dan pijatan lembut bagi bayi.
Tak sampai di situ, penelitian ini juga menyoroti bahwa sentuhan yang lembut dapat membantu bayi belajar mengenali serta merasa lebih nyaman ketika mendapatkan stimulasi tersebut.
2. Bayi prematur dapat memiliki respons yang berbeda terhadap sentuhan

Pexels/Vidal Balielo Jr. Untuk mengamati respons bayi terhadap rangsangan sentuhan, para peneliti menggunakan alat electroencephalogram (EEG) untuk memantau aktivitas otak bayi.
Setelah itu, bayi diberikan hembusan udara yang sangat lembut pada bagian tangan. Respons otak mereka kemudian diamati untuk melihat bagaimana tubuh dan otak memproses stimulasi sentuhan tersebut.
Dari situ, bayi prematur diketahui menunjukkan respons yang lebih lemah terhadap hembusan udara lembut dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.
Para peneliti menduga bahwa berbagai prosedur medis yang harus dijalani bayi prematur sejak awal kehidupannya dapat memengaruhi cara mereka merasakan dan memproses sentuhan lembut.
3. Semakin dini bayi lahir, respons terhadap sentuhan juga semakin berkurang

Pexels/Enrique Hoyos Semakin dini bayi lahir, respons terhadap sentuhan juga cenderung semakin berkurang jika dibandingkan dengan bayi cukup bulan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena pengalaman sentuhan selama masa awal kehidupan memiliki kaitan dengan perkembangan kemampuan sensorik bayi.
Perbedaan tersebut tidak berarti bayi prematur tidak dapat memperoleh pengalaman sentuhan yang positif. Justru, pengalaman sentuhan yang lembut dan tepat dapat menjadi salah satu bentuk dukungan yang penting untuk membantu memenuhi kebutuhan sensorik mereka.
4. Bayi prematur membutuhkan pengalaman sentuhan yang lembut selama perawatan

Pexels/Vidal Balielo Jr. Salah satu alasan bayi prematur memiliki pengalaman sensorik yang berbeda adalah karena lingkungan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dapat memberikan rangsangan yang jauh berbeda dibandingkan suasana di dalam kandungan.
Bayi prematur mungkin lebih sering terpapar suara alat medis, alarm, dan aktivitas di sekitarnya. Suara di NICU bisa lebih beragam dan berasal dari berbagai sumber yang belum tentu ditujukan langsung kepada bayi.
“Bayi memang terpapar suara saat berada di dalam kandungan, tetapi jenis suaranya tidak sama. Suara tersebut tersaring, tidak mencakup seluruh rentang frekuensi, dan volumenya lebih teredam. Sementara di NICU, bayi mendengar alarm dan suara orang-orang yang biasanya tidak ditujukan kepada mereka,” jelas Maitre.
Meski begitu, lingkungan NICU bukanlah lingkungan yang berbahaya karena perawatan di sana justru sering kali sangat penting untuk menyelamatkan nyawa bayi.
Hanya saja, berbagai pengalaman sensorik yang diterima bayi selama berada di NICU dapat terasa sangat berbeda dibandingkan lingkungan rahim yang lebih tenang dan terlindungi.
Karena itu, tenaga medis dan keluarga perlu memiliki pengetahuan serta cara yang tepat untuk memberikan pengalaman sentuhan lembut kepada bayi prematur
Dengan dukungan sentuhan yang lembut dan sesuai kebutuhan, bayi prematur diharapkan dapat memperoleh pengalaman sensorik yang lebih positif sejak awal kehidupannya.
Hal ini pun dapat membantu mendukung perkembangan kemampuan sensorik mereka ketika nantinya sudah melanjutkan tumbuh kembang di rumah bersama keluarga.
Demikian pembahasan mengenai pentingnya sentuhan pertama bagi perkembangan sensorik bayi. Jadi, jangan sepelekan kegiatan sederhana satu ini, ya, Ma!





















