Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Istilah “Failure to Thrive” Kini Jadi “Faltering Weight”, Apa Artinya?
Popmama.com/Sofya Wardhani/AI
  • Istilah failure to thrive kini diganti menjadi faltering weight karena dinilai lebih netral untuk menggambarkan masalah kenaikan berat badan anak.

  • Penilaian faltering weight tidak hanya melihat berat badan, tetapi juga perubahan pertumbuhan anak dari waktu ke waktu dengan menggunakan ukuran seperti z-score pada kurva pertumbuhan.

  • Deteksi dan evaluasi sejak dini penting agar penyebab berat badan sulit naik dapat diketahui dan anak mendapat penanganan yang sesuai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Istilah failure to thrive kini diubah menjadi faltering weight untuk menggambarkan kondisi ketika kenaikan berat badan anak tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perubahan istilah ini menjadi bagian dari pedoman klinis terbaru yang diterbitkan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) dan North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) pada 2026.

Informasi mengenai perubahan istilah dan kriteria faltering weight ini juga disampaikan oleh dr. Wiranty Ramadhani, Sp.A., dokter spesialis anak dari AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center, melalui unggahan di Instagram resmi @apap_pediatric.

Mama penasaran dengan artinya? Berikut Popmama.com telah merangkum informasi mengenai istilah “Failure to Thrive” kini jadi “Faltering Weight”.

Yuk, disimak!

Istilah “Failure to Thrive” kini jadi “Faltering Weight”

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Failure to thrive merupakan istilah yang selama ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika pertumbuhan atau kenaikan berat badan anak tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun, pedoman klinis terbaru dari AAP dan NASPGHAN mengganti istilah tersebut menjadi faltering weight atau gangguan kenaikan berat badan. 

Perubahan ini bukan sekadar mengganti istilah. Menurut penjelasan dr. Wiranty, failure to thrive dinilai dapat memberikan kesan seolah-olah kondisi tersebut merupakan kegagalan anak untuk tumbuh atau berkaitan dengan kesalahan orangtua.

Sementara itu, faltering weight dinilai lebih netral dalam menggambarkan kondisi anak yang mengalami masalah pada kenaikan berat badan. Istilah faltering sendiri juga telah digunakan dalam panduan National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris sejak 2017.

Kriteria “Faltering Weight” Kini Dibuat Lebih Jelas

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Dalam pedoman terbaru, dokter tidak hanya melihat apakah berat badan anak berada di bawah persentil tertentu pada kurva pertumbuhan. Perubahan berat badan dari waktu ke waktu juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Salah satu ukuran yang digunakan adalah z-score, yaitu angka yang menunjukkan seberapa jauh hasil pertumbuhan anak dari standar anak seusianya. Sederhananya, dokter dapat melihat apakah berat badan si Kecil masih sesuai harapan dan apakah mengalami penurunan dibandingkan pemeriksaan sebelumnya. 

Berdasarkan kriteria baru, faltering weight dapat ditandai ketika berat badan menurut tinggi badan atau BMI menurut usia berada di bawah -1,65 z-score, yang setara dengan sekitar persentil ke-5. Penurunan setidaknya 1 z-score dari pengukuran sebelumnya juga perlu diperhatikan.  

Dengan kata lain, Mama tidak perlu terpaku pada satu angka di timbangan. Pola dan perubahan pertumbuhan si Kecil dari waktu ke waktu juga penting untuk dinilai.

Mengapa Perubahan Istilah Ini Penting bagi Orangtua?

Magnific

Perubahan dari failure to thrive menjadi faltering weight diharapkan dapat membantu orangtua dan tenaga kesehatan melihat kondisi anak secara lebih objektif. Pasalnya, masalah kenaikan berat badan tidak selalu disebabkan oleh satu faktor dan tidak otomatis berarti ada kesalahan dalam pola asuh orangtua.

Pedoman terbaru menyebutkan bahwa faltering weight merupakan kondisi yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena itu, dokter perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, mulai dari riwayat kesehatan, pola makan, pemeriksaan fisik, perkembangan, hingga kondisi sosial dan keluarga. 

Dengan begitu, istilah ini bukan berarti anak “gagal tumbuh”, melainkan menjadi penanda bahwa pola kenaikan berat badannya perlu diperhatikan dan dievaluasi untuk mencari penyebabnya.

Bagaimana Menangani “Faltering Weight” pada Anak?

Magnific/rawpixel.com

Penanganan faltering weight tidak bisa disamaratakan untuk setiap anak karena penyebabnya perlu dicari terlebih dahulu. Pedoman terbaru menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh sebelum menentukan langkah penanganan.

Salah satu pendekatan utama adalah meningkatkan asupan kalori atau energi, termasuk melalui suplementasi nutrisi oral bila diperlukan. Jika ditemukan masalah makan atau pediatric feeding disorder, terapi terkait masalah makan juga dapat menjadi bagian dari penanganan.

Dokter Wiranty juga mengingatkan pentingnya melakukan pengukuran berat dan tinggi badan dengan benar. Penilaian sebaiknya tidak hanya berdasarkan satu hasil pengukuran, tetapi melihat tren pertumbuhan dari waktu ke waktu. 

“Jika berat badan anak turun atau tidak mengalami peningkatan selama sekitar 2–3 bulan, orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut,” tulis dr. Wiranty seperti yang dikutip Popmama.com pada Instagram AP&AP Pediatric, Selasa (1/9/2026).

Nah, itu dia penjelasan mengenai arti istilah “failure to thrive” yang kini menjadi “faltering weight”. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article