Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Anemia defisiensi zat besi terjadi ketika asupan zat besi tidak mencukupi kebutuhan tubuh.
Pada usia sekitar 6 bulan, anak lebih rentan mengalami kondisi ini karena kebutuhan zat besi meningkat pesat seiring pertumbuhan. Kondisi ini ditandai dengan kulit pucat, tubuh lemas, mudah rewel, nafsu makan menurun, gangguan tidur, serta keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.
Selain itu, anak dapat mengalami gangguan tidur dan penurunan kemampuan konsentrasi maupun psikomotor. Pada beberapa kasus, anak juga menunjukkan perilaku makan benda yang bukan makanan, seperti es batu atau tanah, yang dikenal sebagai pica.
Adapun kondisi bayi yang lebih berisiko mengalami kondisi ini antara lain:
Bayi yang mendapat ASI tanpa MPASI setelah usia 6 bulan
Pada usia 6 bulan, kebutuhan zat besi bayi meningkat drastis, sementara cadangan zat besi dari lahir mulai menurun. Jika bayi hanya mendapatkan ASI tanpa MPASI yang kaya zat besi, maka asupan zat besi tidak mencukupi kebutuhan tubuh.
Bayi yang mengonsumsi susu sapi sebelum usia 12 bulan
Susu sapi memiliki kadar zat besi yang rendah dan dapat mengganggu penyerapan zat besi di usus. Selain itu, konsumsi susu sapi terlalu dini juga bisa menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan yang berisiko menimbulkan perdarahan mikro, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya kekurangan zat besi.
Bayi dengan riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR)
Bayi prematur atau BBLR umumnya tidak memiliki cadangan zat besi yang cukup karena sebagian besar transfer zat besi dari ibu terjadi pada trimester akhir kehamilan. Akibatnya, kebutuhan zat besi mereka lebih tinggi dibanding bayi cukup bulan, sehingga lebih rentan mengalami anemia jika tidak mendapatkan asupan zat besi yang adekuat.