Bayi Tak Sengaja Memakan Kecoa, Apa Bahaya bagi Kesehatannya?

Bayi bisa mengalami mual hingga gejala serius lainnya

15 September 2021

Bayi Tak Sengaja Memakan Kecoa, Apa Bahaya bagi Kesehatannya
Freepik/Jigsawstocker

Pernahkah Mama mendengar berita di dunia maya tentang bayi memakan kecoa? Yup, memakan serangga kecil yang kotor dengan bau khasnya. Mungkin terdengar seperti cerita kalangan belakang, namun bayi di Tiongkok dan juga Indonesia pernah mengalaminya. 

Pengalaman buruk tersebut sebagian besar disebabkan oleh lengahnya pengawasan orangtua. Akan tetapi, usia tersebut juga merupakan fase oral bayi di mana ia aktif menggunakan mulutnya untuk mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya.

Lantas, apa bahaya bagi kesehatan jika bayi tak sengaja memakan kecoa? Untuk menemukan jawabannya, kesehatannya Popmama.com telah merangkum informasi tentang bahaya bayi memakan kecoa bagi kesehatannya.

Yuk, dibaca sampai habis, Ma!

1. Memangnya ada kasus bayi memakan kecoa?

1. Memang ada kasus bayi memakan kecoa
Pixabay/Erik_Karits

Baik di Indonesia maupun di mancanegara, ada sejumlah kasus bayi tak sengaja memasukkan hingga memakan kecoa. Salah satu yang terjadi di Tanah Air ialah pengalaman mengerikan yang menimpa bayi dari seorang ibu berinisial RR.

Kejadian tersebut bermula ketika si Ibu sedang bermain ponsel sembari menjaga bayinya. Akan tetapi, ia lengah hingga tak menyadari bahwa anaknya tersebut telah memakan kecoa yang ada di dekatnya. Bisa dibilang, si Bayi hampir menelan sekujur tubuh serta hanya menyisakan potongan kaki dan kepala dari serangga tersebut.

Tidak hanya itu, terdapat bekas tubuh kecoa yang remuk di tangan bayinya. Karena bingung harus berbuat apa, RR hanya bisa memberikan anaknya air putih, membersihkan tangannya yang lengket, sambil mendoakan agar anaknya tidak kenapa-kenapa.

Kejadian serupa juga dialami oleh dua balita asal Negeri Tirai Bambu. Sang Ibu baru saja menggantikan popok kedua anaknya. Sembari menunggu makanan anaknya siap, perempuan tersebut pun memutuskan membersihkan rumah dan membiarkan balitanya bermain sendiri di kamar.

Namanya anak-anak pasti akan berisik ketika bermain. Namun setelah beberapa saat, kedua anaknya tiba-tiba senyap. Curiga sesuatu telah terjadi sesuatu, sang Ibu langsung ke kamar dan menemui anaknya yang sedang memakan kecoa. Dengan sigap, dirinya langsung membersihkan mulut kedua anaknya dan membuang sisa-sisa tubuh kecoa yang telah dikunyah.

Editors' Picks

2. Mengapa bayi bisa sampai memakan kecoa?

2. Mengapa bayi bisa sampai memakan kecoa
Freepik/Pch.vector

Mungkin Mama bertanya-tanya, kok bisa sih bayinya memakan kecoa? Tidak diketahui pasti umur bayi dan balita dari berita di atas, namun bisa jadi mereka masih dalam usia fase orang nih, Ma. Pastinya Mama sudah tahu istilah tersebut, kan?

Jadi, fase oral bayi merupakan salah satu tahap perkembangan anak. Biasanya akan dimulai sejak dirinya menginjak umur 3–4 bulan sampai dengan umur 2 tahun.

Sesuai dengan namanya, bayi mama akan semakin aktif memasukkan tangan, mainan, ataupun benda-benda di sekitar ke dalam mulutnya. Bukan karena dirinya lapar, namun mulut untuk sementara menjadi 'alat pendeteksi' di umurnya tersebut.

Hal ini dikarenakan bayi masih belum dapat menggunakan tangan dan jemarinya dengan sempurna untuk mengeksplorasi benda di sekitarnya hingga umur 7 bulan. Kebetulan, saraf dalam mulut anak sedang pesat-pesatnya berkembang sehingga bayi memasukkan apapun ke mulut untuk mengetahui rasa maupun teksturnya. 

3. Pentingnya fase oral bagi tumbuh-kembang bayi

3. Penting fase oral bagi tumbuh-kembang bayi
Freepik/Freepic.diller

Bayi mama yang mulai memasuki fase oral biasanya menunjukkan sejumlah kebiasaan, mulai dari menyusu lebih lama hingga menggigit puting payudara ataupun mainannya. Atau, tidak jarang juga dirinya kerap mengisap jari-jemarinya.

Perlu Mama ingat, kondisi ini sangatlah wajar dan tak perlu dikhawatirkan. Hal ini karena menggigit jari ternyata memberikan kenyamanan dan kepuasan baginya. Malahan jika Mama mengusik fase oralnya, akan mengakibatkan efek negatif secara fisik maupun psikologis.

1. Dampak Buruk bagi Kesehatan Fisik Bayi

Salah satu kesalahan yang umum dilakukan orangtua selama fase oral bayi adalah memberikan anak MPASI (Makanan Pendamping ASI) terlalu cepat. Meskipun semakin aktif menggunakan mulutnya, MPASI tidak boleh diberikan kepada bayi sebelum umurnya menginjak 6 bulan.

Apa yang terjadi jika bayi sudah diberi MPASI di umur segitu? Berikut beberapa kemungkinan gangguan kesehatan yang akan anak alami:

  • Meningkatkan risiko kelebihan berat hingga obesitas pada bayi;
  • Bisa saja mengalami pneumonia aspirasi atau masuknya makanan ke saluran pernapasan;
  • Asupan kalori dan nutrisinya menjadi tidak terpenuhi–sebab, asupan utama bayi adalah ASI atau susu formula. 

2. Dampak Buruk bagi Kesehatan Psikologis Bayi

Mengganggu fase oral bayi ternyata berdampak pada psikologis anak lho, Ma. Hal ini seperti yang telah diteliti oleh Sigmund Freud, seorang psikoanalis dari Austria.

Menurut pandangannya, fase oral bayi merupakan fase dimana aspek psikoseksual manusia pertama kali berkembang sehingga tidak boleh diganggu apalagi dihentikan. Apabila fase tersebut terganggu, Freud mengatakan bahwa bayi mama akan terjebak (fiksasi) pada tahapan tersebut.

Maksudnya, karena dirinya belum selesai melalui masa tersebut secara sempurna, kemungkinan besar ia akan mengulangi fase oral tersebut ketika dewasa nanti supaya mendapatkan kepuasan. Oleh sebab itu, bayi yang fase oralnya terganggu akan tumbuh menjadi individu yang:

  • Gemar menggigiti kuku;
  • Makan secara berlebihan;
  • Senang mengunyah permen karet;
  • Hobi merokok;
  • Minum minuman keras.

4. Bahaya yang mengancam jika bayi memakan kecoa

4. Bahaya mengancam jika bayi memakan kecoa
freepik.com

Karena fase oral memang krusial bagi tumbuh kembang bayi, ini berarti Mama perlu memberikan pengawasan ekstra ketika anak beraktivitas. Jangan sampai anak memasukkan benda-benda asing nan berbahaya ke dalam mulut, atau bahkan sampai memakan kecoa.

Hal ini karena kecoa merupakan serangga yang hidup di tempat kotor. Ia tinggal di antara dan memakan sampah, feses, dan lainnya. Tidak heran jika kecoa mampu menularkan sejumlah bakteri, seperti Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella sp.

Pastinya, terdapat sejumlah bahaya yang menanti apabila bayi tak sengaja memakan kecoa, terlebih karena imun dan sistem pencernaan mereka masih sensitif. Di antaranya adalah:

  • Mual dan muntah,
  • Diare,
  • Kolik,
  • Batuk,
  • Sesak,
  • Gatal-gatal/bengkak-bengkak,
  • Muncul ruam pada kulit,
  • Sakit tipes, dan sebagainya.

Namun perlu Mama ketahui, tidak semua bayi/anak akan menunjukkan gejala gejala berat di atas. Bisa jadi dirinya hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Kondisi ini mungkin dialami anak salah satunya lantaran sistem kekebalan tubuhnya yang baik. 

Kalau anak tidak mengeluhkan sakit apapun, maka tidak perlu adanya penanganan khusus. Melainkan, bayi mama hanya sebatas dicukupi kebutuhan minum air putih dan makanan bernutrisinya.

Di samping itu, untuk menghindari kejadian berulang bayi memakan kecoa, maka Mama perlu meningkatkan kembali kebersihan lingkungan rumah. Caranya adalah:

  • Membuang sampah secara teratur,
  • Menaruh bahan ataupun makanan ke dalam wadah tertutup,
  • Segera membersihkan area rumah yang terkena tumpahan makanan/minuman.

5. Yang perlu Mama lakukan selama fase oral bayi

5. perlu Mama lakukan selama fase oral bayi
Freepik/Master1305

Pastinya, Hal pertama yang harus Mama lakukan adalah dengan senantiasa mengawasi bayi ketika beraktivitas. Tentu Mama tidak ingin dirinya memakan kecoa, bukan?

Tidak hanya itu, berikut beberapa langkah yang bisa Mama lakukan selama fase oral bayi:

  • Menjauhkan anak dari benda-benda berbahaya, seperti yang berukuran kecil, tajam, atau yang mengandung zat kimia;
  • Selalu membersihkan barang-barang yang digigit anak;
  • Jika melihat dirinya menggenggam benda yang berbahaya, langsung ambil dan gantikan dengan barang yang lain, misalnya teether;
  • Menjaga kebersihan tangan bayi mulai dari memotong kukunya sampai dengan mencuci/mengelap tangannya.

Itulah tadi informasi tentang bahaya bayi memakan kecoa bagi kesehatannya. Dari cerita diatas, Mama perlu mengambil pelajaran bahwa perlu memberikan perhatian ekstra dalam mengurus dan mengawasi anak. 

Namun, jangan sampai pengawasan tersebut berakhir menghambat tumbuh-kembangnya. Semoga informasi tadi bermanfaat!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.