Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Panduan Menerapkan Feeding Rules Menurut WHO
Pexels.com/Helena Lopes
  • WHO menganjurkan ASI tetap diberikan hingga usia 2 tahun atau lebih, dengan MPASI mulai diperkenalkan saat bayi berusia 6 bulan.

  • Pemberian makan perlu responsif terhadap tanda lapar dan kenyang, disertai peningkatan tekstur, variasi makanan, serta frekuensi MPASI sesuai usia anak.

  • Kebersihan makanan harus dijaga; saat anak sakit, cairan dan ASI ditingkatkan, sementara anak rentan memerlukan dukungan tenaga kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
WHO bilang bayi minum ASI sampai umur 2 tahun atau lebih. Saat umur 6 bulan, bayi mulai makan makanan tambahan sedikit-sedikit. Ibu dan ayah lihat saat anak lapar atau kenyang. Makanan dibuat makin beragam dan bersih. Kalau anak sakit, beri lebih banyak minum dan makanan lembut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pola makan yang tepat berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini. Hal ini bertujuan agar gizi dan nutrisi si Kecil tercukupi.

Karena itu, orangtua perlu memahami cara memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan si Kecil di setiap tahap usianya.

World Health Organization (WHO) memberikan panduan terkait pemberian makan pada bayi dan anak untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan.

Agar Mama memiliki gambaran mengenai pemberian makan yang tepat, berikut rangkuman Popmama.com mengenai panduan menerapkan feeding rules menurut WHO (World Health Organization).

Yuk, disimak, Ma!

1. Tetap berikan ASI hingga usia 2 tahun atau lebih

Pexels.com/jhon macias

ASI merupakan sumber nutrisi penting bagi bayi dan anak. Pemberian ASI eksklusif membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, termasuk diare dan pneumonia.

Menurut WHO, ASI juga berperan dalam memenuhi kebutuhan energi anak setelah usia 6 bulan. Pada usia 6–12 bulan, ASI dapat memenuhi setengah atau lebih kebutuhan energinya. 

Sementara itu, pada usia 12–24 bulan, ASI masih dapat menyumbang sekitar sepertiga kebutuhan energi anak.

Oleh karena itu, Mama dianjurkan untuk tetap memberikan ASI bersamaan dengan MPASI hingga si Kecil berusia 2 tahun atau lebih sesuai kebutuhannya.

2. Kenalkan MPASI saat bayi berusia 6 bulan

Pexels.com/Yan Krukau

Memasuki usia sekitar 6 bulan, kebutuhan energi dan nutrisi bayi mulai melebihi jumlah yang dapat dipenuhi oleh ASI saja. Pada tahap ini, makanan pendamping ASI diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.

WHO menyarankan agar MPASI mulai diperkenalkan ketika bayi berusia 6 bulan. Pemberian MPASI yang terlalu dini atau terlambat dapat membuat kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi secara optimal.

Mama dapat memulai dengan porsi kecil, kemudian meningkatkannya secara bertahap seiring bertambahnya usia si Kecil.

3. Kenali tanda lapar dan kenyang anak

Pexels.com/Foden Nguyen

Pemberian makan yang responsif atau responsive feeding menjadi salah satu prinsip penting dalam panduan WHO. Artinya, orangtua perlu mengenali dan merespons tanda lapar maupun kenyang yang ditunjukkan anak.

Saat si Kecil menunjukkan tanda lapar, Mama dapat menawarkan makanan sesuai kebutuhan dan jadwal makannya. Sebaliknya, ketika anak memperlihatkan tanda kenyang, Mama sebaiknya menghormati sinyal tersebut.

Pendekatan ini membantu orangtua menyesuaikan pemberian makan dengan kebutuhan anak, bukan sekadar berfokus pada jumlah makanan yang berhasil dihabiskan.

4. Tingkatkan tekstur dan variasi makanan secara bertahap

Pexels.com/Orange Ocean

Seiring bertambahnya usia, si Kecil membutuhkan makanan dengan tekstur dan variasi yang semakin beragam. WHO menyarankan agar konsistensi makanan ditingkatkan secara bertahap sesuai perkembangan anak.

Mama juga perlu memperkenalkan berbagai jenis makanan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil.

Penyesuaian tekstur sebaiknya mempertimbangkan kemampuan makan dan perkembangan anak. Dengan begitu, anak dapat beradaptasi dengan makanan yang lebih beragam seiring pertumbuhannya.

5. Sesuaikan frekuensi makan dengan usia anak

Pexels.com/Nguyễn Quốc Thái

Selain memperhatikan jenis dan tekstur makanan, Mama perlu menyesuaikan frekuensi pemberian MPASI dengan usia si Kecil. Menurut WHO, berikut panduan frekuensi makan anak usia 6–23 bulan:

  • Usia 6–8 bulan: Berikan MPASI sebanyak 2–3 kali sehari.

  • Usia 9–23 bulan: Berikan makanan utama sebanyak 3–4 kali sehari.

  • Camilan tambahan: Anak dapat diberikan 1–2 kali camilan sesuai kebutuhan.

Frekuensi tersebut dapat membantu Mama menyusun jadwal makan yang sesuai dengan tahap pertumbuhan si Kecil. Pastikan pula makanan yang diberikan memiliki kandungan gizi yang beragam agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

6. Jaga kebersihan selama menyiapkan makanan

Pexels.com/Helena Lopes

Kebersihan menjadi bagian penting dalam pemberian MPASI untuk membantu mengurangi risiko kontaminasi makanan dan penyakit pada anak.

WHO menyarankan orangtua untuk menerapkan kebersihan yang baik serta menangani makanan dengan benar. Mama dapat membiasakan diri mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan sebelum menyuapi si Kecil.

Pastikan peralatan makan bersih dan makanan diolah serta disimpan dengan cara yang aman. Kebiasaan ini membantu menjaga makanan tetap higienis saat dikonsumsi anak.

7. Sesuaikan pemberian makan saat anak sakit

Pexels.com/Polina Tankilevitch

Ketika si Kecil sakit, kebutuhan cairan dan dukungan nutrisi tetap perlu diperhatikan. WHO menyarankan agar orangtua meningkatkan asupan cairan, termasuk dengan memberikan ASI lebih sering.

Mama juga dapat menawarkan makanan bertekstur lembut yang disukai anak agar ia lebih mudah makan selama masa pemulihan.

Setelah kondisi anak membaik, pemberian makanan tetap perlu diperhatikan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang mungkin belum tercukupi selama sakit.

8. Berikan dukungan khusus pada bayi dan anak dalam kondisi rentan

Pexels.com/@ Prestige by Nature

WHO menekankan bahwa bayi dan anak yang berada dalam situasi sulit membutuhkan perhatian serta dukungan tambahan terkait pemberian makan.

Kelompok yang memerlukan perhatian khusus meliputi bayi prematur atau lahir dengan berat badan rendah, anak yang mengalami kekurangan gizi, serta keluarga yang menghadapi kondisi darurat.

Dalam situasi tersebut, pilihan pemberian makan perlu disesuaikan dengan kondisi ibu dan anak serta ketersediaan dukungan kesehatan.

ASI tetap menjadi pilihan utama dalam hampir semua situasi sulit, tetapi beberapa kondisi mungkin memerlukan penanganan dan pendampingan medis khusus.

Mama dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan cara pemberian makan yang paling sesuai dengan kebutuhan si Kecil.

Itulah panduan menerapkan feeding rules menurut WHO yang dapat Mama jadikan acuan dalam mendampingi si Kecil saat makan. Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article