5 Kebiasaan Bercanda Orangtua yang Membahayakan Kesehatan Bayi

Jika terus dilakukan, maka si Kecil bisa saja mengalami cidera parah

17 Desember 2019

5 Kebiasaan Bercanda Orangtua Membahayakan Kesehatan Bayi
Flickr/chris mcbrien

Melihat si Kecil tertawa bahagia merupakan keinginan setiap orangtua, namun bagaimana jika ternyata candaan Mama berdampak buruk bagi sang Bayi?

Inilah yang sering terjadi bagi banyak orangtua. Demi melihat tawa si Kecil, terkadang tanpa disadari orangtua seringkali bercanda secara berlebihan dengan anaknya.

Beberapa kegiatan yang seringkali orangtua lakukan pada anak adalah menggelitik hingga melempar tangkapnya ke udara.

Menyenangkan memang ketika Mama dapat tertawa bersama si Kecil, namun ternyata hal tersebut tidak boleh dilakukan!

Kelakuan tersebut nyatanya dapat menyebabkan cidera serius pada bagian otak dan tulangnya. Parahnya lagi, candaan tersebut dapat merusak motorik serta tumbuh kembangnya kelak.

Untuk mencegah hal tersebut, berikut Popmama.comtelah merangkum 5 candaan orangtua yang ternyata berdampak buruk bagi bayi!

1. Menggelitik

1. Menggelitik
Flickr/quinn dombrowski

Tertawa saat digelitiki bisa jadi hanya merupakan cara untuk mengatasi ketidaknyamanan fisik. 

Ketika bayi sudah menetapkan batas kemampuan tubuh saat menerima rangsangan, maka Mama harus memahaminya. Jangan terlena dengan terus menggelitik. 

Perhatikan juga bahasa tubuh anak, hentikan jika ia terlihat tidak nyaman atau jika tertawanya berlebihan.

Menurut beberapa peneliti, aktivitas menggelitik melibatkan sentuhan tubuh seseorang dengan cara yang membuat seseorang tertawa paksa dan tawa ini dianggap sebagai reaksi positif.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The New York Times disebutkan dalam Anatomy of a Tickle Is Serious Business at the Research Lab, para peneliti setuju bahwa kegiatan menggelitik antara orangtua dan bayi dapat menjadi cara yang efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang si Kecil, tetapi di lain pihak memiliki pendapat berbeda jika hal ini dilakukan secara kasar hingga membuatnya tidak nyaman.

Dr Richard Alexander, seorang profesor biologi dari University of Michigan, Ann Arbor mengatakan dalam artikelnya bahwa tertawa geli akibat gelitik bukan tanda anak senang seperti yang banyak diasumsikan. 

"Seorang anak akan menunjukan ketidaknyamanannya saat digelitiki dengan mengubah tawa riangnya menjadi tawa air mata," jelasnya.

Selain itu, berikut dampak menggelitik anak terlalu keras:

  • Tersedak

Sadarkah Ma, si Kecil tentu akan pasrah terhadap setiap hal yang terjadi pada dirinya. Hal ini dikarenakan ia belum dapat menolak dengan kata-kata maupun gerakan lain saat orang lain menyentuhnya.

Dengan kata lain, menggelitik bayi merupakan sebuah bentuk penyiksaan baginya, terlebih bila dilakukan secara agresif.

Bayi memang mungkin saja tertawa, tapi kemungkinan untuk tersedak air liur sendiri saat tertawa sangatlah besar. Karenanya, berhati-hatilah dalam menggelitiknya.

  • Merusak sensori

Rupanya, pendapat bahwa menggelitik dapat melatih sensori bayi dengan baik tidak sepenuhnya benar lho, Ma.

Penelitian lain menunjukkan bahwa sentuhan tidak berhubungan dengan sensori si Kecil. Pasalnya, pada beberapa bayi ada yang dapat mengenali di mana sumber getaran sedangkan ada juga yang dapat mengenali sumber gelitikan dengan menyilangkan kakinya.

Dengan kata lain, menggelitik bayi tidak ada hubungannya dengan apa yang mereka dengar dan mereka cium. Bila Mama tetap suka menggelitik bayi, sebenarnya sah-sah saja namun sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan dan terlalu sering ya.

Editors' Picks

2. Melempar tangkap ke udara

2. Melempar tangkap ke udara
militaryonesource.mil

Pernah melihat orangtua melempar-lemparkan bayinya ke udara lalu menangkapnya untuk mendengar bayi tertawa?

Yup, kegiatan yang satu ini paling sering dilakukan oleh orangtua pada anaknya.

Meskipun si Kecil terlihat riang, namun ternyata shaken baby syndrome (SBS) bisa saja mengancamnya jika Mama terus melakukan hal yang satu ini.

Guncangan yang keras, walaupun terjadi hanya beberapa detik saja, dapat mengakibatkan kerusakan otak bayi. Bahkan banyak bayi yang meninggal akibat mengalami sindrom ini.

Bayi yang selamat dari sindrom ini, kemungkinan besar mengalami beberapa kondisi yang mengganggu kesehatan mereka selama hidupnya seperti:

  • Mengalami kebutaan
  • Kehilangan kemampuan mendengar
  • Perkembangan otak menjadi lambat, mengalami gangguan belajar dan perilaku
  • Keterbelakangan mental
  • Kejang-kejang
  • Cerebral palsy atau kelumpuhan otak

Jika anak mengalami shaken baby syndrome, maka berikut gejala yang biasanya terjadi:

  • Pingsan atau terlihat selalu mengantuk dan tak kuat bangun
  • Mengalami tremor di seluruh badan
  • Kesusahan untuk bernapas
  • Muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Kejang-kejang
  • Koma

3. Mengagetkan

3. Mengagetkan
Flickr/oleg

Sekedar cilukba boleh saja, tapi jangan sampai mengagetkan bayi secara berlebihan! 

Jika itu terjadi, bayi akan menangis karena terkejut dan bukan tak mungkin mengalami trauma. Kontrol intonasi suara dan ekspresi Mama saat melakukan cilukba, jangan terlalu lembut juga jangan terlalu kencang dan kasar.

Ketika terkejut, tubuh secara otomatis akan mengaktifkan mode untuk melindungi diri. Mode ini dikenal dengan istilah fight or flight yang artinya melawan atau melarikan diri.

Otak pun akan membaca situasi ini seolah ada ancaman berbahaya. Sistem saraf otak kemudian memerintahkan bagian-bagian tubuh tertentu untuk menyiapkan diri melawan atau melarikan diri dari ancaman tersebut. 

Antara lain dengan meningkatkan detak jantung, meningkatkan aliran darah ke otot, memperlambat pencernaan, dan melebarkan pupil mata. 

Jangan meremehkan akibat fatal dari kaget. Pasalnya, kaget bisa saja menyebabkan kematian mendadak pada orang dari segala usia dan kondisi kesehatan, apalagi bayi.

4. Mengayun-ayun

4. Mengayun-ayun
Flickr/mark evans

Menggendong dan mengayun dengan mengibaratkan bayi bagai pesawat terbang dengan menelungkupkannya di atas kedua lengan, biasa dilakukan para Papa saat berusaha menyenangkan bayi. Padahal, kegiatan tersebut rentan bahaya. 

Selain dapat mengarah ke perilaku mengguncang bayi dan menimbulkan SBS (shaken baby syndrome), jika tak hati-hati dan terlampau kencang mengayun, bayi bisa saja terlempar atau jatuh dari dekapan tangan.

Struktur tubuh bayi yang masih sangat lemah bila mendapatkan guncangan atau ayunan yang kuat dapat menyebabkan terjadinya tarikan atau rentangan antara otak dengan selaput otak yang melekat pada tulang kepala.

Rentangan ini menyebabkan terjadinya robekan pembuluh darah yang menghubungkan antara otak dengan selaput otak. 

Gejala yang paling ringan pada bayi yang mengalami robekan pembuluh darah otak adalah:

  • Perdarahan di retina (selaput jala) mata. Pendarahan di retina sendiri tidak dapat dilihat secara klinis tetapi harus menggunakan alat oleh ahli saraf mata.
  • Jangka panjang dapat menyebabkan kebutaan
  • Muntah-muntah
  • Penurunan kesadaraan
  • Perubahan pada pupil mata
  • Menyebabkan tulang kaki, tungkai, serta lengan patah. Hal ini dapat terjadi karena saat mengayun bayi yang dipegang bukanlah badannya, melainkan kaki, lengan, atau ketiaknya.

5. Mengguncang

5. Mengguncang
Flickr.com/ecohen

Mengguncang-guncang bahu si Kecil dengan keras sambil berekspresi lucu seringkali dilakukan beberapa orangtua. 
Jika Mama pernah melakukannya, hentikan! 

Sadarkah Mama, bahwa mengguncang bayi terlalu keras dapat membuat otakmya cidera atau yang dikenal sebagai abusive head trauma, shaken impact syndrome, inflicted head injury atau infant whiplash syndrome. 

Istilah-istilah tersebut adalah jenis cidera otak serius yang dapat terjadi saat bayi atau anak batita jika diguncang terlalu keras. 

Tak tanggung-tanggung, guncangan keras selama lima detik saja sudah cukup untuk merusak fungsi-fungsi otak.

Nah, itulah kelima candaan orangtua yang ternyata berdampak buruk bagi anak.

Meskipun terlihat sepele dan seringkali dijadikan kebiasaan, namun ternyata ada bahaya terselubung yang dapat mengancam keselamatan si Kecil.

Stay safe and be aware, Ma!

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.