“Saat menstruasi, ada perubahan hormon yang sangat berpengaruh dengan mood kita. Hormon serotonin dan dopamin seketika menurun, hal itu yang membuat kita lebih sensitif ketika menstruasi. Ada perubahan neurotransmitter yang bikin perempuan lebih galak pas menstruasi,” jelas Psikiater, dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, saat acara ‘Laurier Press Conference: Comfort, Made Together’ di kawasan Menteng, Selasa (21/4/2026).
Anak Alami Mood Swing saat Menstruasi, Apa yang Orangtua Perlu Lakukan?

- Perubahan hormon saat menstruasi menurunkan kadar serotonin dan dopamin, membuat anak lebih sensitif dan mudah mengalami perubahan suasana hati.
- Mood swing saat haid merupakan reaksi biologis normal, sehingga orangtua perlu memberi dukungan emosional tanpa memarahi atau menuntut anak untuk selalu tenang.
- Edukasi terbuka tentang menstruasi dan komunikasi hangat membantu anak memahami proses tubuhnya serta merasa diterima tanpa stigma negatif.
Menstruasi adalah fase alami yang akan dialami setiap anak perempuan seiring bertambahnya usia. Namun, perubahan yang terjadi bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional.
Tak jarang, anak menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau bahkan terlihat murung tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini sering membuat orangtua bingung, bahkan khawatir.
Padahal, perubahan suasana hati saat menstruasi merupakan hal yang normal secara biologis. Kunci utamanya adalah bagaimana orangtua memahami kondisi ini dan memberikan dukungan yang tepat.
Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan berdasarkan penjelasan Psikiater.
Table of Content
1. Perubahan hormon saat haid dapat memengaruhi emosi anak

Saat menstruasi, tubuh anak mengalami fluktuasi hormon yang cukup signifikan. Penurunan hormon estrogen berpengaruh langsung terhadap kadar serotonin dan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang berperan dalam mengatur suasana hati. Inilah yang membuat anak lebih mudah merasa sedih, marah, atau sensitif.
Memahami bahwa perubahan ini bersifat biologis akan membantu orangtua untuk tidak langsung menilai perilaku anak sebagai ‘berlebihan’ atau ‘manja’. Justru di sinilah anak membutuhkan dukungan emosional yang lebih besar dari orang terdekatnya.
2. Mood buruk saat haid adalah hal yang normal

Sering kali, perubahan emosi saat menstruasi dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Padahal, kondisi ini adalah respons alami tubuh terhadap perubahan hormonal yang sedang terjadi.
Hindari memarahi atau menuntut anak untuk selalu ‘tenang’ ketika mengalami mood swing saat menstruasi, karena justru hal tersebut bisa membuatnya semakin tertekan.
“Bad mood ketika mens adalah hal normal karena ketika estrogen turun, biasanya serotonin dan dopamin juga turun. Di momen itu, itu pasti menjadi bermasalah, motivasi menjadi bermasalah,” jelas dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ.
3. Jangan beri stigma pada kondisi anak

Salah satu hal penting yang perlu dihindari orangtua adalah memberikan label negatif pada anak saat ia sedang mengalami perubahan mood. Stigma seperti cengeng atau terlalu sensitif justru bisa membuat anak merasa tidak dipahami.
“Ketika proses hormonal itu membaik, kondisi serotonin dan dopamin di otak juga membaik, jadi jangan menstigma orang yang punya masalah dengan kondisi menstruasinya karena itu adalah hal yang normal dan biologis,” ungkap dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ.
Sebaliknya, orangtua bisa membantu anak mengenali emosinya dan memahami bahwa apa yang ia rasakan adalah bagian dari proses tubuhnya. Ini akan membantu anak belajar menerima dirinya sendiri dengan lebih baik.
4. Edukasi tentang menstruasi perlu dilakukan sejak dini

Masih banyak keluarga yang menganggap pembicaraan tentang menstruasi sebagai hal yang tabu. Padahal, edukasi yang terbuka justru sangat penting agar anak tidak merasa bingung atau takut saat mengalaminya.
Dengan memberikan pemahaman sejak awal, anak akan lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Ia juga akan merasa lebih nyaman untuk berbagi cerita atau keluhan kepada orangtua.
“Edukasi penting sekali, jangan sampai kita mentabukan tentang seksualitas. Sebagai orangtua, kita harus hadir, harus juga memahami bahwa proses menstruasi adalah hal normal yang dirasakan oleh semua anak perempuan,” ujar dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ.
5. Bangun komunikasi yang hangat dan tanpa tekanan bersama anak

Pendekatan orangtua sangat menentukan bagaimana anak memaknai pengalaman menstruasinya. Komunikasi yang terbuka dan penuh empati akan membuat anak merasa diterima dan didukung.
“Jadi, orangtua bisa mengedukasinya dengan tidak memberikan stigma, biasanya anak akan lebih menerima momennya sebagai perempuan,” pungkasnya.
Cobalah untuk menjadi pendengar yang baik. Tanyakan perasaan anak tanpa menghakimi, dan beri ruang baginya untuk mengekspresikan emosi. Dengan begitu, anak tidak hanya merasa lebih tenang, tetapi juga belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat.
Demikian pembahasan mengenai cara menghadapi anak yang alami mood swing saat haid. Semoga bisa lebih mengerti apa yang dialami anak ya, Ma.


















