Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Bermain Futsal, Cara Dukung dan Bangun Mental Baja untuk Anak

Bermain Futsal, Cara  Dukung dan Bangun Mental Baja untuk Anak
Pexels/Ibrahim Halil Degerli
Intinya Sih
  • Futsal bantu anak tingkatkan kesehatan fisik, koordinasi tubuh, serta daya tahan yang kuat sejak dini lewat aktivitas intens seperti berlari dan menendang bola.

  • Melalui futsal, anak belajar kerja sama tim, komunikasi, dan solidaritas yang memperluas pertemanan serta mendukung perkembangan emosionalnya.

  • Dukungan Mama dan Papa penting agar anak merasa aman saat bermain, tidak takut gagal, dan tetap percaya diri mengembangkan mental tangguh di lapangan maupun kehidupan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Berdiri di pinggir lapangan terkadang ikut membuat Mama tegang, terlebih jika melihat anak mulai sering melirik ke arah Mama tiap kali dia melakukan kesalahan saat bertanding. 

Rasanya serba salah ya, Ma? Ingin memberi semangat tapi takut membuat anak semakin merasa tertekan karena merasa harus selalu tampil sempurna. 

Tanpa Mama sadari, dukungan dari Mama sebenarnya adalah kunci utama agar anak tetap mencintai olahraga tanpa harus merasa tertekan oleh ekspektasi.

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal penting mengenai manfaat ofutsal dan cara Mama memberi dukungan mental anak!

Table of Content

1. Futsal meningkatkan kesehatan fisik

1. Futsal meningkatkan kesehatan fisik

Seorang anak mengenakan seragam biru sedang menggiring bola di lapangan sepak bola hijau saat pertandingan berlangsung.
Pexels/Angelo Festi

Bermain futsal bukan sekadar hobi, tapi investasi kesehatan jangka panjang bagi anak sejak usia dini. Aktivitas yang intens seperti berlari, melompat, dan menendang bola sangat efektif untuk memicu kepadatan tulang kaki dan memperkuat persendiannya. 

Gerakan lincah di lapangan futsal juga melatih koordinasi motorik serta keseimbangan tubuh anak agar lebih optimal. Selain itu, rutin bermain futsal membantu menjaga kesehatan jantung dan stamina, sehingga ia tidak mudah lelah dalam menjalani aktivitas harian. 

Dengan fisik yang kuat dan bugar, anak akan tumbuh dengan postur tubuh yang baik serta memiliki daya tahan tubuh yang lebih prima untuk menangkal berbagai risiko penyakit di masa pertumbuhannya.

2. Memperluas lingkup pertemanan anak

Anak-anak mengenakan seragam sepak bola putih berpelukan di lapangan hijau setelah pertandingan melawan tim berbaju merah.
Pexels/Марина Шишкина

Futsal adalah olahraga tim yang membuat anak keluar dari zona nyaman dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Di lapangan, ia belajar bagaimana cara berkomunikasi, bekerja sama, hingga memahami perbedaan karakter dalam sebuah tim. 

Hubungan pertemanan yang terbentuk di klub futsal sering kali sangat kuat karena mereka berbagi tujuan, kegembiraan, hingga rasa kecewa bersama. Anak belajar untuk menghargai rekan satu tim dan memahami arti solidaritas yang sesungguhnya. 

Kemampuan sosialisasi ini akan membuatnya lebih mudah bergaul di lingkungan baru dan membantu anak membangun jaringan pertemanan yang sehat serta suportif yang sangat berharga bagi perkembangan emosionalnya.

3. Dampak positif pada sekolah dan karier anak

Seorang anak laki-laki mengenakan setelan jas biru berdiri di belakang jaring gawang di lapangan hijau sambil tersenyum lebar.
Pexels/Thirdman

Banyak yang tidak menyadari bahwa kedisiplinan di lapangan futsal berkorelasi positif dengan prestasi akademik anak di sekolah.

Olahraga ini mengajarkan tentang manajemen waktu, fokus, dan kerja keras yang secara tidak langsung terbawa ke dalam kebiasaan belajarnya. 

Selain itu, prestasi di bidang olahraga bisa menjadi "jalur prestasi" yang mempermudah anak masuk ke sekolah atau universitas impian di masa depan.

Dalam jangka panjang, nilai-nilai seperti kepemimpinan, daya saing yang sehat, dan mentalitas pemenang adalah modal besar untuk kariernya nanti. 

Anak akan terbiasa bekerja dalam tim dan memiliki etos kerja tinggi, yang merupakan kualitas paling dicari dalam dunia profesional di masa dewasa.

4. Alasan minat olahraga anak tiba-tiba menurun

Anak laki-laki mengenakan jaket hitam dan celana pendek berlatih mengontrol bola di lapangan sepak bola hijau.
Pexels/Марина Шишкина

Meskipun manfaatnya sangat banyak, terkadang Mama mendapati momen di mana anak tiba-tiba kehilangan semangat untuk melanjutkan hobinya tersebut. 

Satu hal yang perlu Mama pahami adalah anak sering kali berhenti berolahraga bukan karena mereka tidak lagi menyukai jenis olahraganya. Alasan sebenarnya adalah karena rasa takut akan kegagalan mulai mengambil alih kegembiraan mereka saat bermain. 

Ketika tekanan untuk tampil sempurna menjadi terlalu besar, olahraga yang tadinya menyenangkan berubah menjadi beban mental yang menakutkan bagi anak. 

Mereka mulai merasa bahwa setiap kesalahan adalah kegagalan permanen yang menghakimi kemampuan mereka, sehingga mereka lebih memilih untuk menyerah daripada terus merasa gagal. 

5. Memahami perubahan fokus anak terhadap penilaian orangtua

Tiga anak laki-laki mengenakan seragam sepak bola putih dan biru berdiri di lapangan sambil menutupi mata dari sinar matahari.
Pexels/Марина Шишкина

Seiring bertambahnya usia, fokus anak dalam olahraga mengalami pergeseran. Misalnya di usia 6 tahun, mereka bermain dengan bebas seperti saat jam istirahat, namun di usia 9 tahun mereka mulai terobsesi dengan angka di papan skor. 

Puncaknya ketika anak sudah besar dan akan memasuki fase remaja, mereka akan berhenti melihat bola dan mulai sering melirik ke arah wajah Mama untuk mencari validasi atau melihat kekecewaan. 

Mereka mulai percaya bahwa kesalahan berarti "aku tidak cukup baik" dan bukan lagi "aku sedang belajar".

Kondisi ini memicu performance anxiety loop, di mana semakin mereka berusaha sempurna, semakin banyak kesalahan terjadi karena sistem saraf mereka berada dalam mode survival.

6. Menciptakan ruang aman agar anak percaya diri

Seorang anak laki-laki mengenakan seragam sepak bola merah putih menyeimbangkan bola di atas kepalanya di lapangan.
Pexels/Roman Biernacki

Anak akan bertahan dalam olahraga jika mereka merasa aman untuk mencoba, aman untuk gagal, dan aman untuk belajar.

Rasa aman inilah yang menjadi pupuk utama agar kepercayaan diri mereka tumbuh secara alami dan kuat. 

Performa mental bukan tentang "mengeraskan" hati anak, melainkan mengajarkan mereka cara melakukan reset setelah melakukan kesalahan di lapangan. 

Di klub futsal yang tepat, anak belajar untuk tetap tenang di bawah tekanan, membangun kepercayaan diri melalui repetisi, dan belajar memercayai kemampuan diri mereka sendiri lagi. 

Hal-hal inilah yang akan menjaga anak tetap semangat dalam permainan dan tidak mudah merasa jatuh saat menghadapi tantangan hidup.

7. Dorong anak bergabung ke klub olahraga

Pemain sepak bola muda mengenakan seragam hitam putih menggiring bola di lapangan hijau saat pertandingan melawan tim berseragam biru.
Pexels/Franco Monsalvo

Melihat betapa luar biasanya manfaat fisik dan mental yang bisa didapatkan, inilah saatnya Mama memberikan dukungan penuh bagi anak untuk bergabung dalam klub atau ekskul olahraga futsal. 

Pilihlah lingkungan yang tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga memprioritaskan rasa aman bagi anak untuk berkembang tanpa rasa takut salah. 

Jadikan olahraga sebagai cara menyenangkan bagi anak untuk menemukan jati diri dan bakat terbaiknya. Dukungan Mama di pinggir lapangan yang penuh kasih adalah energi terbesar bagi anak untuk terus berlari mengejar mimpinya dengan bahagia.

Jadi, Ma, kapan Mama akan daftarkan anak masuk ke klub olahraga futsal?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More