Salah satu tantangan bagi orangtua ketika anak memasuki masa pubertas adalah membicarakan hal-hal sensitif, seperti mimpi basah, seksualitas, atau hubungan dengan lawan jenis. Orangtua tentu tidak ingin anak mendapatkan informasi yang keliru dari sumber yang tidak tepat.
Namun di sisi lain, Mama mungkin khawatir anak merasa canggung, malu, atau justru semakin menjauh jika topik tersebut dibicarakan. Kekhawatiran ini sering membuat sebagian orangtua memilih menghindari percakapan tersebut, padahal sikap ini justru bisa membuat anak mencari jawaban di tempat lain.
Dalam situasi seperti ini, peran Papa bisa sangat membantu. Karena pernah melalui pengalaman serupa, Papa biasanya lebih mudah berbicara dari sudut pandang yang dipahami anak dan suasananya pun terasa tidak terlalu kaku.
Papa juga dapat menceritakan pengalaman pribadinya saat menghadapi masa pubertas, termasuk perasaan yang pernah ia rasakan dan bagaimana ia menghadapinya. Cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa perubahan yang dialaminya adalah hal yang wajar.
Meski begitu, bukan berarti Mama sepenuhnya menyerahkan pembicaraan ini kepada Papa. Mama tetap dapat terlibat agar anak merasa didukung oleh kedua orangtuanya, sehingga mereka bisa mendampingi anak sebagai satu tim.
Yang terpenting adalah menciptakan suasana yang aman bagi anak untuk terbuka. Anak perlu merasa bahwa ia bisa bertanya tentang apa pun tanpa takut disalahkan, dimarahi, atau dipermalukan.