Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anak Laki-laki Menjauh Saat Pubertas, Ini Penjelasannya
Freepik
  • Perubahan sikap anak laki-laki saat pubertas, seperti menjadi lebih pendiam dan menjaga jarak, sering membuat Mama khawatir meski sebenarnya hal ini adalah proses tumbuh dewasa.

  • Di masa ini anak mengalami perubahan fisik, emosi, dan cara berkomunikasi, sehingga orangtua perlu memahami kondisi anak dan tetap menjaga komunikasi yang terbuka.

  • Dengan dukungan, pengertian, dan kesabaran orangtua, masa pubertas dapat dilalui anak dengan sehat dan hubungan dengan keluarga tetap terjaga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masa pubertas adalah fase yang penuh tantangan, baik bagi anak maupun orangtua. Banyak Mama yang tiba-tiba merasa kehilangan kedekatan dengan anak laki-laki yang tadinya sangat manja dan dekat, kini berubah menjadi lebih pendiam dan sering mengurung diri di kamar.

Perubahan ini adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak laki-laki menuju kedewasaan. Memahami apa yang terjadi pada anak dan bagaimana cara menghadapinya adalah kunci untuk tetap menjaga kedekatan di masa-masa sulit ini.

Berikut Popmama.com rangkum hal-hal penting yang perlu dipahami ketika anak laki-laki Mama sedang di fase pubertas!

1. Pubertas bukan hanya soal perubahan fisik

Freepik

Anak laki-laki yang sedang pubertas bukan hanya mengalami perubahan fisik yang terlihat mata. Lebih dari itu, pasti ada perubahan di sisi emosi dan kepercayaan diri yang sering tidak tampak di mata orangtua, tetapi sangat terasa oleh anak.

Anak jadi lebih mudah tersinggung karena perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuhnya. Hal-hal kecil yang dulu tidak masalah, tiba-tiba bisa membuatnya marah atau kesal. Ini bukan karena anak jadi nakal atau tidak menghargai orangtua, tetapi karena dia sendiri sedang mengelola perubahan yang terjadi.

Anak juga bisa merasa canggung dengan tubuhnya sendiri. Tubuh yang berubah dengan cepat membuat anak merasa asing dengan dirinya sendiri. Suara yang tiba-tiba ber atau jerawat yang mulai bermunculan membuat anak merasa tidak nyaman.

Bahkan tidak jarang anak mengalami penurunan kepercayaan diri yang signifikan di masa ini. Mereka mulai membandingkan diri dengan teman-teman sebaya, khawatir tentang penampilan, atau merasa tidak cukup baik dalam berbagai aspek.

2. Anak laki-laki sering kesulitan mengekspresikan perasaan

Freepik

Tidak semua anak laki-laki mudah mengungkapkan perasaan mereka, terutama saat memasuki masa pubertas. Banyak dari mereka merasa bingung dengan emosi yang muncul, tetapi tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada orang lain.

Akibatnya, anak bisa terlihat lebih diam, tertutup, atau memilih menyendiri. Padahal bukan berarti mereka tidak ingin bercerita, melainkan mereka belum terbiasa mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata.

Di sinilah peran orangtua menjadi penting untuk membantu anak mengenali dan memahami emosinya. Mama bisa memberi contoh dengan berbicara tentang perasaan secara terbuka, misalnya mengatakan sedang lelah, senang, atau bangga pada anak.

Ketika anak melihat bahwa emosi adalah hal yang wajar untuk dibicarakan, ia akan merasa lebih aman untuk mulai membuka diri. Lambat laun, anak juga akan belajar bahwa berbagi perasaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses memahami diri sendiri.

3. Cara membahas topik sensitif dengan anak

Freepik

Salah satu tantangan bagi orangtua ketika anak memasuki masa pubertas adalah membicarakan hal-hal sensitif, seperti mimpi basah, seksualitas, atau hubungan dengan lawan jenis. Orangtua tentu tidak ingin anak mendapatkan informasi yang keliru dari sumber yang tidak tepat.

Namun di sisi lain, Mama mungkin khawatir anak merasa canggung, malu, atau justru semakin menjauh jika topik tersebut dibicarakan. Kekhawatiran ini sering membuat sebagian orangtua memilih menghindari percakapan tersebut, padahal sikap ini justru bisa membuat anak mencari jawaban di tempat lain.

Dalam situasi seperti ini, peran Papa bisa sangat membantu. Karena pernah melalui pengalaman serupa, Papa biasanya lebih mudah berbicara dari sudut pandang yang dipahami anak dan suasananya pun terasa tidak terlalu kaku.

Papa juga dapat menceritakan pengalaman pribadinya saat menghadapi masa pubertas, termasuk perasaan yang pernah ia rasakan dan bagaimana ia menghadapinya. Cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa perubahan yang dialaminya adalah hal yang wajar.

Meski begitu, bukan berarti Mama sepenuhnya menyerahkan pembicaraan ini kepada Papa. Mama tetap dapat terlibat agar anak merasa didukung oleh kedua orangtuanya, sehingga mereka bisa mendampingi anak sebagai satu tim.

Yang terpenting adalah menciptakan suasana yang aman bagi anak untuk terbuka. Anak perlu merasa bahwa ia bisa bertanya tentang apa pun tanpa takut disalahkan, dimarahi, atau dipermalukan.

4. Jangan bingung ketika anak mulai berubah

Freepik

Ada beberapa perubahan yang umum terjadi pada anak laki-laki saat puber yang sering membuat orangtua, terutama Mama, merasa bingung dan khawatir. Memahami bahwa ini normal akan membantu Mama merespons dengan lebih tepat.

  • Anak mulai menjaga jarak dari orangtua, jika dulu ia sangat lengket dan sering mencari Mama, kini ia cenderung lebih pendiam dan memilih banyak waktu sendirian di kamar. Sikap ini bukan berarti kasih sayangnya berkurang, melainkan bagian dari proses mencari jati diri dan belajar mandiri.

  • Anak juga mengalami perubahan fisik yang pesat, misalnya tinggi badan bisa bertambah dengan cepat, suara mulai berubah menjadi lebih berat, serta tubuh mulai tampak lebih berotot. Perubahan yang terjadi dalam waktu singkat ini sering membuat anak perlu waktu untuk beradaptasi.

  • Kondisi emosinya pun bisa naik turun, pengaruh hormon membuat anak lebih sensitif, mudah tersinggung, atau cepat marah. Situasi ini kadang membuat Mama bingung menentukan apakah perlu lebih sabar atau bersikap tegas.

  • Di sisi lain, Mama mungkin merasa hubungan dengan anak mulai berubah. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman, terlihat lebih acuh, atau justru lebih dekat dengan Papa, sehingga Mama bisa merasa tersisih atau tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Semua perubahan ini adalah bagian normal dari masa pubertas. Anak sedang berusaha mencari jati dirinya, membangun identitas sebagai pribadi yang terpisah dari orangtua, dan belajar menjadi lebih mandiri.

5. Hal-hal yang perlu dilakukan orangtua pada anak

Freepik

Ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan orangtua untuk membantu anak melewati masa pubertas dengan sehat dan tetap menjaga kedekatan hubungan.

  • Berikan ruang privasi untuk anak, hormati kebutuhan anak untuk memiliki waktu sendiri dan ruang pribadi. Jangan selalu memaksa anak untuk terbuka atau bercerita jika dia belum siap. Ketuk pintu sebelum masuk kamar anak, dan hormati jika anak meminta waktu sendiri.

  • Dengarkan anak tanpa menghakimi, ketika anak mau bercerita atau curhat, dengarkan dengan sepenuh hati tanpa langsung memberikan nasihat atau kritik. Biarkan anak mengekspresikan perasaannya tanpa takut disalahkan atau dianggap bodoh.

  • Normalisasikan perubahan yang terjadi pada anak. Jelaskan bahwa semua perubahan fisik dan emosional yang dialami adalah bagian normal dari tumbuh dewasa. Ceritakan bahwa Papa dan Mama juga pernah mengalami hal yang sama.

  • Bangun komunikasi setiap hari meski hanya sebentar, tidak perlu percakapan panjang, bahkan pertanyaan sederhana seperti "Hari ini gimana?" atau "Ada yang mau diceritain?" sudah cukup untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.

  • Jangan menyebarkan cerita anak ke orang lain, termasuk saudara atau teman. Anak perlu tahu bahwa apa yang diceritakan kepada orangtua akan tetap menjadi rahasia. Kepercayaan ini sangat penting untuk menjaga keterbukaan anak.

  • Jadilah contoh positif untuk anak, tunjukkan bagaimana cara mengelola emosi dengan sehat, bagaimana berkomunikasi dengan baik, dan bagaimana menghargai orang lain. Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar.

  • Berikan apresiasi atas segala usaha anak, sekecil apapun itu. Fokus pada usaha dan proses, bukan hanya pada hasil. Ini membangun mental growth mindset pada anak.

  • Berikan edukasi dari sumber yang terpercaya, jangan biarkan anak mendapat informasi tentang pubertas dan seksualitas dari sumber yang tidak jelas. Sediakan buku, artikel, atau video edukatif yang age-appropriate untuk anak.

Hal-hal ini mungkin terlihat sederhana tetapi memiliki dampak yang sangat besar.

6. Dukungan Mama menentukan bagaimana anak menerima perubahan

Freepik

Masa pubertas menjadi masa di mana anak laki-laki mulai sadar ada perubahan fisik yang signifikan seperti tinggi badan yang melonjak dan perubahan bentuk tubuh. Kesadaran ini bisa menjadi sesuatu yang positif atau justru menjadi beban, tergantung bagaimana orangtua meresponsnya.

Dukungan dari orangtua sangat menentukan apakah perubahan fisik ini dapat diterima anak dengan sehat atau malah menjadi sumber tekanan dan kecemasan. Komentar yang salah dari orangtua bisa membuat anak menjadi insecure tentang tubuhnya.

Anak laki-laki yang saat pubertas merasa diterima dan dihargai oleh orangtuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat. Mereka tidak terlalu khawatir tentang penampilan atau membandingkan diri dengan orang lain karena mereka tahu bahwa orangtua menerima mereka apa adanya.

Sebaliknya, anak yang sering mendapat komentar negatif tentang tubuhnya, meski dalam bentuk candaan, bisa mengembangkan masalah body image yang serius. Mereka bisa menjadi terlalu fokus pada penampilan fisik dan kehilangan fokus pada hal-hal penting lainnya.

Orangtua perlu sangat berhati-hati dalam berkomentar tentang perubahan fisik anak. Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya. Jangan membuat lelucon tentang suara yang pecah, jerawat, atau perubahan fisik lainnya.

Yang dibutuhkan anak adalah validasi bahwa perubahan yang terjadi adalah normal dan bahwa mereka tetap berharga terlepas dari bagaimana penampilan fisik mereka. Fokus pada perkembangan lain anak seperti kebaikan, kecerdasan, atau bakat mereka, bukan hanya pada penampilan luar.

7. Perubahan ini tidak berlangsung selamanya

Freepik/Wiroj Sidhisoradej

Banyak orangtua merasa khawatir ketika anak laki-laki mulai berubah saat pubertas. Anak yang dulu sangat dekat tiba-tiba terlihat lebih tertutup dan jarang bercerita.

Namun penting untuk diingat bahwa fase ini bersifat sementara. Seiring waktu, anak akan belajar memahami dirinya sendiri, emosinya menjadi lebih stabil, dan hubungan dengan orangtua biasanya kembali lebih hangat.

Banyak orangtua justru merasakan hubungan yang lebih dewasa dan saling menghargai ketika anak sudah melewati masa pubertas. Komunikasi menjadi lebih terbuka dan hubungan terasa lebih setara.

Karena itu, masa ini lebih tepat dilihat sebagai proses transisi, bukan kehilangan kedekatan dengan anak. Kesabaran dan kehadiran orangtua akan sangat membantu anak melewati fase ini dengan baik.

Bagaimana pengalaman Mama mendampingi anak melewati masa pubertas?

Editorial Team