Apa Itu Sindrom Tourette pada Anak? Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya

- Sindrom Tourette adalah gangguan saraf yang menyebabkan gerakan atau suara tiba-tiba dan berulang, biasanya muncul pada anak usia 5–10 tahun dengan gejala seperti kedipan mata atau suara spontan.
- Penyebab pasti belum diketahui, namun faktor genetik, ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamin, serta stres psikologis dapat memperburuk frekuensi dan intensitas tic pada anak.
- Penanganan meliputi terapi perilaku seperti CBIT, hipnoterapi untuk mengelola emosi, serta dukungan keluarga agar anak merasa aman dan mampu mengontrol gejalanya dengan lebih baik.
Sindorm Tourette merupakan salah satu gangguan neurologis yang dapat terjadi pada anak. Kondisi ini ditandai dengan munculnya gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba, berulang, dan sulit dikendalikan. Dalam dunia medis, gejala tersebut dikenal dengan istilah tic.
Pada beberapa kasus, gejala yang muncul bisa terlihat ringan dan tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun pada kondisi tertentu, tic dapat muncul dan memengaruhi interaksi sosial seperti dalam kehidupan sehari-hari si Anak.
Untuk memahami informasi ini secara lebih mendalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum penjelasan mengenai Sindrom Tourette yang perlu diketahui secara lebih lanjut. Disimak, ya!
Table of Content
1. Apa itu Sindrom Tourette

Secara sederhana, Sindrom Tourette adalah gangguan pada sistem saraf yang menyebabkan seseorang mengalami gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang.
Kondisi ini biasanya muncul pada masa kanak-kanak, antara usia 5 hingga 10 tahun Ma. Gejalanya dapat berupa kedipan mata berulang, menggerakkan kepala, hingga mengeluarkan suara tertentu tanpa disadari oleh anak.
Menurut berbagai studi, Sindrom Tourette termasuk gangguan perkembangan saraf atau neurodevelopmental disorder yang memengaruhi cara otak dalam mengontrol gerakan dan perilaku khususnya saat anak mengalami stress psikologis. Lebih lanjut, studi juga menunjukkan bahwa tekanan emosional dan kecemasan dapat memperberat frekuensi dan intensitas tic.
Artinya faktor neurologis dan faktor emosional bisa saling memengaruhi terjadinya tic pada anak.
2. Mengenal beragam jenis Sindrom Tourette

Penting untuk Mama mengetahui beragam gejala utama Sindrom Tourette. Secara rinci sindorm ini terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu tic motorik dan tic vokal. Tic motorik melibatkan gerakan tubuh yang terjadi secara spontan, seperti berkedip berulang, menggerakkan kepala, atau mengangkat bahu.
Sementara itu, tic vokal berkaitan dengan suara yang muncul tanpa disadari, seperti berdeham, mendengus, atau mengulang kata tertentu Ma. Pada beberapa kasus, anak mungkin mengucapkan kata secara spontan tanpa konteks tertentu.
3. Tanda Sindrom Tourette yang perlu dikenali

Gejala Sindrom Tourette biasanya muncul secara bertahap. Awalnya, orangtua mungkin hanya melihat kebiasaan kecil, seperti anak sering berkedip atau menggerakkan hidung secara berulang. Namun, jika terjadi terus-menerus dan semakin sering, kondisi ini perlu penanganan lebih lanjut Ma.
Beberapa tanda lain yang sering muncul antara lain menggerakkan kepala secara tiba-tiba, mengedipkan mata berulang atau mengeluarkan suara seperti batuk kecil dan berdehem. Gejala ini biasanya muncul lebih sering saat anak merasa lelah, cemas, atau stres.
Menariknya, beberapa anak mampu menahan tic untuk sementara waktu, tetapi biasanya gejala tersebut akan muncul kembali setelahnya. Hal ini membuat anak terkadang merasa tidak nyaman atau frustasi karena sulit mengontrol tubuhnya sendiri.
4. Penyebab dan faktor pada anak

Hingga saat ini, penyebab pasti Sindrom Tourette belum sepenuhnya diketahui Ma. Namun para ahli meyakini, bahwa kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada bagian otak yang mengatur gerakan tubuh dan perilaku.
Faktor genetik juga diduga memiliki peran penting. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan tic atau Sindrom Tourette dinilai memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.
Selain itu, ketidakseimbangan zat kimia di otak yang disebut neurotransmitter, seperti dopamin, juga dipercaya berperan dalam munculnya gejala. Faktor lingkungan seperti stres atau kelelahan juga dinilai dapat memperburuk gejala yang sudah ada.
5. Memburuk saat mengalami stress psikologis

Gejala Sindrom Tourette pada anak sering kali memburuk ketika mereka mengalami stres psikologis. Kondisi ini dapat terjadi karena tekanan emosional memengaruhi cara otak mengontrol gerakan dan respons tubuh.
Saat anak merasa cemas, tegang, atau kelelahan secara emosional, frekuensi dan intensitas tic biasanya meningkat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa situasi yang memicu tekanan, seperti konflik di rumah, tuntutan akademik di sekolah, atau perubahan lingkungan, dapat memperparah gejala yang muncul.
Para ahli neurologi menjelaskan bahwa stres dapat memengaruhi aktivitas neurotransmitter di otak, terutama dopamin, yang berperan dalam mengatur gerakan tubuh. Ketidakseimbangan pada sistem ini membuat kontrol motorik menjadi lebih sulit, sehingga tic lebih mudah muncul.
6. Terapi untuk membantu mengelola gejala

Dalam beberapa kasus, anak dengan Sindrom Tourette juga dapat terbantu melalui terapi pendukung yang berfokus pada pengelolaan emosi, Ma. Anak sering kali belum mampu mengungkapkan kelelahan atau tekanan yang ia rasakan secara verbal. Ketika emosi seperti cemas, takut, atau marah terus dipendam, tubuh dapat meresponsnya melalui peningkatan tic atau reaksi fisik lainnya.
Oleh karena itu, pendekatan terapi yang tepat sangat penting untuk membantu anak memahami dan menenangkan emosinya dengan jauh lebih baik. Salah satu metode yang sering digunakan adalah hipnoterapi. Dalam pendekatan ini, anak dibimbing untuk memasuki kondisi relaksasi guna mengakses dan memproses emosi secara lebih mendalam.
Para praktisi menggunakan teknik ini untuk membantu anak meredakan kecemasan, meningkatkan rasa tenang, serta mengurangi respons tubuh yang terlalu tegang. Hal ini juga didukung oleh sejumlah studi yang menunjukkan bahwa terapi dinilai dapat membantu menurunkan frekuensi tic bagi sebagian anak.
7. Cara membantu anak yang mengalami Sindrom Tourette

Beberapa cara dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak yang mengalami Sindrom Tourette. Sebelum itu, penting untuk Mama ketahui bahwa tic bukanlah faktor dan perilaku yang disengaja. Oleh karena itu, orangtua dianjurkan untuk tidak memaharahi atau memaksa anak untuk menghentikan gerakan atau suara yang muncul.
Sebaliknya, berikan dukungan emosional dan ciptakan lingkungan yang aman sehingga anak merasa diterima tanpa rasa takut atau malu. Selain dukungan dari keluarga, penanganan medis dan terapi juga dapat membantu mengelola gejala. Dokter biasanya akan melakukan evaluasi untuk menentukan jenis terapi yang sesuai, seperti terapi perilaku yang dikenal dengan Comprehensive Behavioral Intervention for Tics (CBIT).
Terapi ini membantu anak mengenali tanda awal munculnya tic untuk mengontrol respons tubuh. Dalam beberapa kasus yang lebih berat, dokter juga dapat merekomendasikan obat-obatan tertentu untuk membantu mengurangi frekuensi dan intensitas hal tersebut.
Itulah Ma, informasi penting mengenai Sindrom Tourette pada anak. Mari untuk terus memberikan dukungan yang tepat pada anak agar membantu perkembangan si Anak di masa depan.


















