Merusak Mental Anak, Ini Dampaknya jika Mama Suka Mengkritik Anak

Mengkritik anak secara berlebihan berpotensi merusak mental dan menurunkan harga diri anak

2 Desember 2018

Merusak Mental Anak, Ini Dampak jika Mama Suka Mengkritik Anak
Freepik/Peoplecreations

Mengkritik seringkali dianggap sebagai perilaku negatif yang bertujuan untuk menyakiti perasaan orang lain. Padahal sebenarnya jika dilakukan dengan cara yang baik dan tepat, kritik yang membangun justru sangat dibutuhkan, terutama bagi anak-anak yang belum mampu memahami baik buruk dari apa yang ia kerjakan.

Sayangnya, yang seringkali dilakukan orangtua justru mengkritik anak secara berlebihan. Komentar yang diberikan cenderung bernada tinggi dengan kalimat-kalimat yang mampu melukai hati serta menurunkan rasa percaya diri anak.

Jika dilakuan terus menerus, hal ini bisa merusak mental, perkembangan emosi dan pola pikir anak di kemudian hari. Mama tentu tidak mau anak mama menjadi pribadi yang rendah diri, kan?

Nah, sebelum terlambat, kenali dulu efek negatif yang muncul jika orangtua sering mengkritik anak secara berlebihan. Dengan memahami dampaknya, orangtua diharapkan mampu mengontro emosi dan menemukan cara bagaimana memberikan kritik positif yang bersifat membangun.

1. Menurunkan rasa percaya diri anak

1.	Menurunkan rasa percaya diri anak
Pixabay/Anemone123

Anak yang sering menerima kritik secara berlebihan cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah. Kalimat-kalimat yang bersifat merendahkan yang dilontarkan oleh Mama atau Papa lama kelamaan akan terekam oleh otaknya dan muncul dibawah alam sadar sebagai sesuatu yang harus ia yakini.

Pada akhirnya, anak akan merasa rendah diri, tidak berani menghadapi tantangan dan meremehkan dirinya sendiri. Kritik yang bersifat merendahkan mempengaruhi keyakinan diri anak bahwa ia memang tidak kompeten.

2. Merasa tidak dicintai

2.	Merasa tidak dicintai
Pexels/Kaboompics.com

Jika dilakukan terus menerus, kritik yang berlebihan akan membuat anak merasa tidak dicintai oleh orangtuanya. Anak akan merasa apapun yang ia lakukan selalu salah dimata orangtuanya.

Tudingan dan kritikan tajam yang diucapkan orangtua akan membentuk persepsi dalam diri anak bahwa orangtua membenci dan tidak menginginkannya.

Editors' Picks

3. Perasaan malu yang kompleks

3.	Perasaan malu kompleks
Pexels/Burak Kostak

Hindari mengkritik anak di depan umum. Pasalnya, sekecil apapun kritik yang Mama berikan, namun jika dilakukan dengan cara yang salah dapat membuat anak merasa dipermalukan.

Kemungkinan besar efek yang terjadi, rasa malu tersebut akan berubah menjadi amarah yang akan diluapkannya kepada teman atau justru rasa minder yang membuat anak sulit bergaul dengan teman sebayanya.

4. Membentuk karakter yang negatif dalam diri anak

4.	Membentuk karakter negatif dalam diri anak
Pixabay/ Martakoton

Perlu Mama ingat bahwa anak terlahir tanpa informasi sedikitpun. Oleh sebab itulah anak mempercayai dan cenderung meniru apa yang dikatakan atau dilakukan oleh orangtuanya.

Nah, kebayangkan Ma bagaimana jika kritikan yang bersifat menghakimi dan merendahkan diri anak diresapi serta diyakini sebagai identitas dirinya. Anak akan memahami bahwa apa yang diucapkan orangtuanya adalah benar.

Pada akhirnya, anak akan tumbuh dengan pola pikir yang negatif tentang dirinya. Misalnya merasa tidak mampu menghadapi suatu tantangan baru atau merasa tidak mampu menyelesaikan soal pelajaran tertentu.

5. Begini cara memberi kritik positif kepada anak

5.	Begini cara memberi kritik positif kepada anak
Pixabay/Ambermb

Kritikan tidak selalu harus diungkapkan dengan nada tinggi atau kalimat kasar. Meskipun terkadang sulit mengendalikan emosi saat hendak mengkritik kesalahan anak, sebaiknya koreksi kesalahan anak dengan cara yang baik.

Ada beberapa cara yang bisa Mama lakukan untuk menyampaikan kritik yang baik kepada anak. Pertama, dengan membuka komunikasi antara orangtua dan anak dalam suasana hati yang tenang dan sabar.

Kemudian sebagai alternatif, cobalah menerapkan teknik ‘sandwich’ yang populer digunakan untuk menyampaikan kritik dalam dunia kerja.

Caranya, mulailah dengan kalimat yang menekankan betapa Mama atau Papa sangat mencintainya. Lalu utarakan saran atau kritik dengan lugas dan tenang tanpa menggunakan kalimat yang bersifat tendensius atau melukai harga diri anak. Akhiri perbincangan dengan mengutarakan kembali rasa sayang Mama atau Papa kepada mereka.

Cara ini lebih efektif membuat anak menyadari kesalahan atau kekurangan dirinya tanpa membuat ia merasa terluka atau rendah diri.