Mewakili Papua, La Ode Jadi Atlet eSport tertua di PON 2021

Usia bukanlah masalah bagi La Ode menjadi seorang atlet eSport

25 September 2021

Mewakili Papua, La Ode Jadi Atlet eSport tertua PON 2021
sport.tempo.co

Bagi anak remaja yang menyukai dunia game, pasti sudah tak asing lagi dengan istilah eSport. Bidang olahraga elektronik ini merupakan sebuah kompetisi game yang paling diminati saat ini. Tim eSport akan melawan tim lain pada tingkat profesional untuk memenangkan kompetisi.

Inilah yang membuat Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) secara resmi mengakui eSport sebagai cabang olahraga prestasi di Indonesia, bahkan ikut dipertandingkan pada kompetisi resmi tingkat nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021.

Salah satu atlet eSport yang ikut PON XX Papua di tahun 2021 ini adalah La Ode Nurdiansah Amir Jaya Mahdi, ia mewakili Papua untuk game eFootball PES 2021 setelah pensiun dari dunia karate.

Kisahnya yang menjadi pemain tertua di cabang olahraga ini pun menarik perhatian publik.

Seperti apa kisah La Ode yang kini menjadi atlet eSport? Simak informasinya yang telah Popmama.com rangkum di bawah ini!

1. Sebelum fokus di eSport, sejak sekolah dasar La Ode lebih banyak menggeluti olahraga karate

1. Sebelum fokus eSport, sejak sekolah dasar La Ode lebih banyak menggeluti olahraga karate
Freepik/Wavebreakmedia-micro

La Ode Nurdiansyah Amir Jaya Mahdi dikenal sebagai atlet esports tertua yang tampil di ekshibisi PON XX Papua 2021. Ia tak pernah membayangkan untuk menjadi atlet eSport sebelumnya, karena sejak berada di bangku sekolah dasar hingga 2021, La Ode lebih banyak menggeluti olahraga karate.

"Tidak ada rencana untuk ke eSport; Cuma sekedar hobi, tapi ada wadah untuk disalurkan tidak menyangka juga bisa sampai sejauh ini." ujar Laode yang dilansir dari Sport Tempo.

Laki-laki asal Merauke ini telah mengikuti berbagai ajang karate, baik tingkat daerah maupun nasional telah ia lalui, Seperti Kejuaraan Daerah Jayapura dan Sorong, Kejuaraan Nasional Piala Mendagri Jambi dan Semarang, Kejuaraan Nasional Inkado DKI Jakarta.

Editors' Picks

2. Dianggap membuang-buang waktu, keinginan La Ode sempat terhalang izin dari sang istri

2. Dianggap membuang-buang waktu, keinginan La Ode sempat terhalang izin dari sang istri
Pexels/Tima Miroshnichenko

La Ode mulai menggeluti permainan simulai sepak bola atau Pro Evolution Soccer (PES), sejak versi pertamanya PES 1 dirilis sekitar tahun 2010. Namun sayangnya, kegemarannya dalam bermain game ini sempat terhalang izin dari sang istri.

Laki-laki berusia 35 tahun ini juga sempat dianggap jika eSport hanya membuang-buang waktunya saja. Namun setelah mengikuti kompetisi di tingkat daerah dan mendapatkan juara, La Ode akhirnya mendapatkan izin dari sang istri.

Kegigihannya ini membuat usaha La Ode berbuah manis, ketika ia berhasil lolos kualifikasi dan menjadi wakil Papua untuk pertama kalinya eSport dipertandingkan di ajang olahraga multicabang nasional, terlebih lagi ketika eSport saat ini masih sangat asing di Papua.

3. Pernah merasa terlalu tua untuk mengikuti kompetisi eSport

3. Pernah merasa terlalu tua mengikuti kompetisi eSport
Freepik/jcomp

Menjadi peserta di ekshibisi esport PON Papua, La Ode kini menjadi peserta dengan usia tertua. Ia terpaut 22 tahun dengan peserta usia termuda, Muhammad Rafli Setiawan, asal DKI Jakarta yang berusia 13 tahun.

Pria yang sehari-hari bekerja dalam bidang jasa di bandara Mopah, Merauke, ini mengaku pernah merasa terlalu tua untuk mengikuti kompetisi eSport.

"Merasanya karena mungkin sudah terlambat karena keadaan. Di zaman sekarang ini baru berkembanglah esport, dengan umur kita sudah melampaui seperti itu," ujar La Ode yang dilansir dari Sport Tempo.

La Ode juga bercerita, saat dirinya mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi eSport, beberapa anak muda usia sekolah menengah (SMP) berbisik sambil berkata bahwa ia terlalu tua untuk bertanding eSport. Namun, anggapan tersebut tak mematahkan semangat La Ode.

4. Perkembangan eSport di Papua terkendala perangkat dan jaringan

4. Perkembangan eSport Papua terkendala perangkat jaringan
Pexels/EVG Culture

Menurut La Ode, perkembangan eSport di Papua terkendala dengan perangkat permainan. Ia pun mengakatakan, di antara 10 orang teman yang bermain, hanya ada dua yang memiliki perangkat, sehingga permainan harus dilakukan secara bergantian.

Selain perangkat, jaringan yang menjadi tulang punggung eSport juga terbatas. Ia juga mengatakan, jika jaringan di Papua setara dengan daerah lain yang lancar, akan ada banyak pemain yang mulai terekspos.

"Kalau bisa jaringan sama rata di Papua ini supaya bisa dapat atlet-atlet yang bagus dari Papua. Saya yakin banyak sekali atlet dari Papua ini," ujarnya.

Tak hanya itu, Merauke juga kekurangan kompetisi untuk mengasah bakat para talenta muda. Namun La Ode bersyukur bahwa saat ini banyak kompetisi yang digelar secara online, termasuk saat kualifikasi PON, walaupun jaringan menjadi kendala utama.

5. La Ode berharap ia bisa menjadi pemain profesional dan memajukan komunitas eSport

5. La Ode berharap ia bisa menjadi pemain profesional memajukan komunitas eSport
Pexels/RODNAE Productions

La Ode juga berharap, setelah mengikuti PON ia dapat bergabung dengan klub dan menjadi pemain profesional. Kecintaannya dengan dunia eSport tak hanya untuk dirinya sendiri, karena La Ode sendiri ingin memajukan komunitas dan ekosistem eSport di Merauke.

"Balik dari sini pasti saya cerita pengalaman saya dengan teman-teman lain di komunitas, harus seperti ini, harus seperti itu, karena di luar sudah seperti ini kita sudah jauh tertinggal," ujarnya.

Ekshibisi eSport PON XX Papua 2021 ini terbilang sukses dan mengejutkan, karena ada banyaknya peserta yang mendaftar.

Ada empat kategori yang dipertandingkan yaitu PUBG Mobile diikuti oleh 19.664 atlet dari 4.916 tim, Free Fire diikuti oleh 13.608 atlet dari 3.402 tim, Mobile Legends diikuti oleh 11.985 atlet dari 2.397 tim, sedangkan PES 2021 diikuti oleh 3.838 atlet.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, dengan besarnya potensi nilai ekonomi yang ditawarkan, eSport diharapkan terus berkembang agar semakin kontributif terhadap pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Nah itulah kisah La Ode Nurdiansyah yang dapat menjadi inspirasi bagi anak, bahwa segala tantangan atau halangan apa pun jangan menghambat diri sendiri untuk mencapai cita-cita.

Serta mengajarkan anak bahwa hobi dapat menjadi karier di masa depan, selama ia terus berusaha dan belajar untuk mendalaminya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.