Cara Melindungi Anak dari Bahaya Tayangan Film Porno

Pendidikan seksual menjadi kunci untuk mencegah anak dari pelecehan seksual

24 Juni 2020

Cara Melindungi Anak dari Bahaya Tayangan Film Porno
Pixabay/mojzagrebinfo

Pendidikan seksual menjadi hal yang tabu bagi sebagian orangtua, namun sebenarnya memberikan pemahaman pada anak tentang pendidikan seksual yang aman dan sehat merupakan kunci untuk mencegahnya dari pelecehan seksual.

Orangtua tidak bisa kalah cepat dengan industri pornografi. Dalam mengedukasi anak, biarlah orangtua yang lebih dulu menjelaskan apa itu pendidikan seks dan kesehatan area intim kepada anak sejak dini.

Pendidikan seksual dan kesehatan organ intim perlu dilakukan dengan melakukan komunikasi yang tepat pada anak, baik dimulai dari lingkungan rumah atau pun komunitas. Anak perlu memahami apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.

Sehingga anak secara sadar dapat menjaga dirinya sendiri. 

Pada masa kecil, anak bisa menyusun harapan dan cita-cita untuk masa depannya. sayangnya, paparan pornografi dapat menghalangi tujuan anak. Terlebih lagi jika anak sudah candu dengan tayangan pornografi.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui cara mengurangi efek dari gambar “terbuka” yang dilihat oleh anak-anak.

Kali ini Popmama.com akan mengulas tentang cara melindungi anak dari tayangan film porno dari pakar Cordelia Anderson yang merupakan Presiden Koalisi Nasional dalam Mencegah Pelecehan dan Eksploitasi Seksual Anak.

1. Pahami pengaruh bahaya pornografi pada anak lalu berikan pendidikan seksualitas yang sehat

1. Pahami pengaruh bahaya pornografi anak lalu berikan pendidikan seksualitas sehat
Freepik

Dengan memahami pengaruh pornografi terhadap anak, Mama mulai dapat memberikan pendidikan seksualitas yang sehat. Paparan pornografi dapat berbahaya bagi anak-anak dari usia berapapun.

Melihat tubuh yang tampak asing sedang melakukan sebuah tindakan pornografi merupakan hal belum bisa dipahami oleh anak, sehingga dapat menjadi pengalaman yang membingungkan dan mungkin menakutkan bagi anak atau remaja.

Anak atau remaja dapat mengalami rangsangan seksual saat melihat pornografi, yang dapat membingungkan mereka untuk berpikir bahwa mereka sebenarnya “menyukai” apa yang mereka lihat, padahal sebenarnya tubuh mereka bereaksi secara alami tanpa “persetujuan” otak mereka.

2. Bagi orangtua yang melihatnya, memiliki kewajiban dalam memastikan anak tak dapat mengaksesnya

2. Bagi orangtua melihatnya, memiliki kewajiban dalam memastikan anak tak dapat mengaksesnya
Freepik/Jannoon028

Anak-anak dan remaja dapat menjadi "tidak peka" terhadap paparan pornografi, sehingga dapat berakibat pada tindakan perilaku seksual dengan anak-anak lainnya dan bagi remaja dapat berakibat terlibat pada pengalaman seksual berisiko tinggi.

Orangtua yang memilih untuk melihat pornografi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa anak-anak tidak dapat mengaksesnya.

Mengunci semua akses, menghapus history internet, dan menggunakan setiap sumber daya teknologi yang memungkinkan. Penggunaan pornografi dewasa atau materi seksual lainnya di rumah tidak boleh diakses oleh anak-anak.

Editors' Picks

3. Berikan informasi positif dan akurat pada anak serta jelaskan nilai-nilai yang ditanamkan keluarga

3. Berikan informasi positif akurat anak serta jelaskan nilai-nilai ditanamkan keluarga
Freepik

Dalam pendidikan seksual yang tepat, penting untuk selalu bagikan informasi positif dan akurat dengan anak. Orangtua dapat membuat perbedaan besar dan positif dengan berbicara dengan anak-anak mereka.

Seperti pendidikan seksualitas pada umumnya, topik pornografi bukanlah satu pembicaraan besar melainkan serangkaian diskusi yang dengan mudah dapat muncul dari konten lagu, video musik, video game, film, dan paparan yang tidak diinginkan atau dimaksudkan untuk gambar-gambar eksplisit secara seksual.

Mama dapat dengan jelas menyatakan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga, lalu bantu anak untuk menjelaskan nilai-nilai mereka sendiri yang nantinya digunakan untuk membantu membimbing perilakunya.

4. Bantu anak untuk mengembangkan literasi media untuk menganalisis apa yang mereka lihat

4. Bantu anak mengembangkan literasi media menganalisis apa mereka lihat
Freepik

Orangtua serta keluarga yang peduli harus dapat berbicara tentang dampak dari media yang pada umumnya menunjukan adegan, cerita, lirik yang menyinggung seksual, dan khususnya pornografi pada anak.

Mereka dapat membantu anak dengan mengembangkan literasi media untuk menganalisis apa yang mereka lihat, daripada hanya sekadar mengkonsumsinya tanpa pertanyaan.

Mama atau Papa mungkin berbicara dengan anak tentang berbagai masalah keamanan mulai dari kebakaran, bencana, bahkan hingga obat-obatan. Sehingga orangtua sebenarnya juga dapat berbicara tentang bahaya media dan pornografi yang terlalu seksual.

Ada banyak momen yang dapat diajarkan, yaitu saat mendengarkan musik, menonton iklan, film, acara TV, atau video game.

5. Berikan pemahaman tentang gambar eksplisit seksual di media dan konsekuensi hukumnya

5. Berikan pemahaman tentang gambar eksplisit seksual media konsekuensi hukumnya
Pixabay/Wokandapix

Orangtua dapat mengakui tekanan yang dirasakan saat beberapa anak ingin mendapat perhatian. Seringnya ditampilkan bahwa orang yang hiper-seksualitas mendapat perhatian, lalu anak dapat melihat banyak gambar eksplisit seksual dari orang-orang terkenal.

Mereka melihat gambar seperti itu mendapatkan "suka" di situs jejaring sosial dan mereka mungkin ditekan oleh teman sebaya atau orang asing yang meminta secara online untuk memposting gambar diri mereka sendiri.

Namun, berikan pemahaman pada anak untuk percaya bahwa berbagi gambar-gambar seperti itu jauh lebih pribadi atau seharusnya lebih terkendali. Bantu anak menghadapi tekanan dalam mengirim gambar-gambar seksual.

Serta ajak anak untuk memikirkan konsekuensi jika meminta anak muda lainnya untuk mengirimkan gambar mereka. Diskusikan konsekuensi hukum ketika menghasilkan apa yang dapat dikategorikan sebagai “pornografi anak”.

6. Buatlah batasan paparan konten saat anak belajar membuat pilihan yang bertanggung jawab

6. Buatlah batasan paparan konten saat anak belajar membuat pilihan bertanggung jawab
Freepik/bristekjegor

Mama dapat menetapkan batasan pada anak saat mereka belajar membuat pilihan yang bertanggung jawab untuk diri mereka sendiri, termasuk membatasi paparan konten berbahaya.

Melakukan diskusi dengan anak, membantunya membuat keputusan tentang apa yang nantinya ia unggah melalui media sosial atau webcam.

Kemudian Mama dapat membantu anak dalam mengembangkan sifat kritis mereka saat melihat media. Sehingga anak dapat melihat kebohongan, dan dapat membedakan cerita fiksi itu dari kegembiraan saat dapat mencintai hubungan dengan adil dan saling menghormati.

7. Menyerukan pentingnya pendidikan seksual melalui komunitas atau organisasi

7. Menyerukan penting pendidikan seksual melalui komunitas atau organisasi
Pexels/LinkedIn Sales Navigator

Selain dalam lingkungan keluarga, penting juga untuk menyerukan pendidikan seksual ini dalam komunitas dan organisasi dengan melakukan contoh hal di bawah ini:

  • Jika ada papan iklan atau iklan yang tampaknya eksploitatif secara seksual terhadap anak, tulislah sebuah editorial opini, yang idealnya juga disetujui oleh organisasi sosial. Hal ini untuk menunjukkan normalisasi bahaya seksual serta dalam upaya pencegahan tindakan yang tak diinginkan.
  • Jika bisnis lokal yang membawa produk atau menggunakan iklan yang menggambarkan anak menjadi hiperseksual terkait dengan pelecehan atau eksploitasi seksual anak, lakukan pengaduan, baik kertas atau online. Pertimbangkan dalam memposting gambar produk serta iklan sehingga orang lain sadar dan dapat menambah kekhawatiran mereka.
  • Media sosial bisa menjadi cara terbaik untuk menarik perhatian dari banyak orang pada pesan yang bermasalah. Bagikan kekhawatiran Mama dan sebutkan perusahaan yang melakukan seksual pada anak dalam pemasaran mereka melalui akun media sosial.

Orangtua dapat memberikan informasi dan dukungan bagi anak untuk bertumbuh dan berkembang dalam hubungan yang penuh kasih dan sehat. Bantu anak untuk melihat bahwa pornografi tidak memberikan hal yang mereka butuhkan memiliki perilaku yang penuh kasih.

Itulah cara melindungi anak dari bahaya tayangan porno. Semoga anak-anak bisa tetap berlaku sewajarnya dan menjalani tumbuh kembang sesuai dengan usianya ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.