5 Kebiasaan Remaja yang Bisa Merusak Kepercayaan Dirinya

Jangan biarkan anak mama memiliki kebiasaan ini ya!

9 Juni 2021

5 Kebiasaan Remaja Bisa Merusak Kepercayaan Dirinya
Freepik

Setiap anak punya tingkat kepercayaan diri yang berbeda-beda, sebagian anak memilikinya dalam jumlah yang sangat tinggi, namun beberapa anak bahkan tidak memilikinya sama sekali. Kepercayaan diri penting bagi seorang remaja, baik untuk bersosialisasi dan untuk mengambil keputusan.

Ketika anak memiliki kepercayaan diri yang baik, ia sadar akan kekuatan diri sendiri dan mampu meyakinkan diri sendiri kalau ia adalah seseorang yang kuat.

Namun, ada kebiasaan yang tanpa anak sadari justru menghilangkan kepercayaan dirinya. Kebiasaan ini perlu diubah sesegera mungkin untuk kembali merangkul kekuatan yang ada di dalam diri anak.

Apa saja kebiasaan yang bisa menghilangkan kepercayaan diri anak? Berikut Popmama.com merangkum informasi selengkapnya yang telah dilansir dari laman Everyday Power. Simak informasinya berikut ini!

1. Membanding-bandingkan diri sendiri dengan seseorang di media sosial

1. Membanding-bandingkan diri sendiri seseorang media sosial
Freepik/Odua

Tak dapat dipungkiri, bahwa media sosial seringkali menjadi alat remaja untuk membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Melihat apa yang dimiliki idolanya, keberhasilan yang telah dicapai temannya, dan lain-lain.

Namun, penting untuk memahami bahwa media sosial menjadi tempat bagi orang-orang untuk menempatkan momen terbaiknya agar dilihat oleh orang lain. Anak mungkin tidak melihat bagaimana temannya sempat mengalami kegagalan dalam kompetisi.

Maka ingatkan anak bahwa media sosial tidak selalu seperti kehidupan sehari-hari yang dijalani, bahkan mungkin orang-orang yang anak follow di media sosial juga memiliki kehidupan yang sama seperti kehidupan sehari-hari anak.

Editors' Picks

2. Berpikir negatif tentang diri sendiri

2. Berpikir negatif tentang diri sendiri
Freepik/Pixel-shot.com

Mungkin anak akan terkejut ketika ia berhenti dan membayangkan, berapa kali ia melakukan penilaian buruk terhadap diri sendiri dalam waktu sehari. Sederhananya, ketika anak mengkritik ada jerawat yang muncul di pipi, dan mengatakan bahwa ia terlihat “jelek”.

Berpikir negatif mungkin sudah menjadi kebiasaan sehari-hari remaja, jadi butuh waktu untuk mengubahnya. Di mana Mama perlu membantu anak untuk mengganti pikiran negatifnya dengan pikiran positif dan realistis.

Sebuah tips untuk menghilangkan pikiran negatif adalah, ketika anak menemukan pikiran negatif tentang diri sendiri, cobalah untuk menentang pemikiran itu. Jika tidak memiliki manfaat, segera ganti pikiran tersebut. Nah, anak bisa merasa lebih positif dalam waktu singkat!

3. Perfeksionis dan terlalu keras pada diri sendiri

3. Perfeksionis terlalu keras diri sendiri
Freepik/Zinkevych

Beberapa remaja memiliki gagasan bahwa ia harus sempurna pada sesuatu yang dihasilkan. Remaja perfeksionis tidak bisa berhenti dan melihat sekeliling untuk menyadari bahwa kesempurnaan sejati itu tidak ada.

Perfeksionis dapat menempatkan tingkat tekanan dan beban yang sama sekali tidak dapat dicapai oleh diri sendiri. Ini menciptakan situasi di mana anak menjadi sangat keras pada dirinya sendiri, ketika merasa tidak mampu mencapai tingkat “kesempurnaan” yang diinginkan.

Setelah anak belajar bahwa tidak ada yang namanya kesempurnaan, anak dapat memperoleh gambaran yang lebih realistis tentang dirinya sendiri, dan mulai membangun harga dirinya.

4. Memberikan kekuatan kepada orang lain

4. Memberikan kekuatan kepada orang lain
Freepik/Wavebreakmedia-micro

Ketika anak merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya, ia memiliki kepercayaan diri yang rendah. Sehingga anak tidak mampu melawan ketika diperlakukan dengan buruk, atau tidak diberi kesempatan.

Anak yang memberikan kekuatan pada orang lain juga ditunjukkan dengan sikap percaya bahwa orangtua atau orang terdekat harus membuat semua keputusan untuknya. Karena anak merasa dirinya bisa membuat pilihan yang buruk untuk diri sendiri dan orang lain.

Untuk mengurangi kebiasaan ini, yakinkan anak bahwa ia mampu membuat keputusan yang sangat baik, dan keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Ketika terjadi kesalahan, buatlah keputusan ini menjadi hal yang bisa dipelajarinya untuk masa depan.

5. Saat merasa tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan

5. Saat merasa tidak memiliki sesuatu dibicarakan
Freepik/Pressmaster

Saat makan malam keluarga, apakah Mama melihat anak mama yang sangat pendiam? Salah satu alasan mengapa anak tidak ikut berbincang, adalah ia memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Anak mungkin berpikir bahwa orang lain akan bosan, orang akan berpikir bahwa ia tidak pintar, atau orang akan mengolok-olok apa yang anak katakan. Faktanya adalah ini sama sekali tidak benar, ini adalah kisah yang diceritakan anak pada dirinya sendiri,

Perilaku ini seringkali terjadi pada remaja yang memiliki masalah pada kepercayaan diri yang rendah dan kecemasan sosial. Jika anak dapat belajar untuk bertindak santai dalam percakapan, ia akan terkejut betapa mudahnya menjadi bagian aktif dari sebuah percakapan.

Beri tahu anak bahwa setiap manusia adalah individu yang unik, sehingga memiliki sesuatu yang berharga untuk diceritakan.

Nah itulah beberapa kebiasaan sehari-hari remaja yang berdampak pada kepercayaan diri rendah. Rasa percaya diri yang rendah adalah hal yang sangat umum. Namun, ada sesuatu yang dapat anak lakukan untuk membantu meningkatkan kepercayaan dirinya.

Anak dapat bekerja keras untuk mengubah pemikiran negatifnya menjadi lebih positif dan realistis. Selain itu, anak perlu menerima kenyataan sepenuhnya bahwa tidak ada orang yang sempurna, sehingga anak tidak perlu berusaha keras untuk menjadi sempurna.

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.