Perubahan perilaku dan emosi yang drastis
KPAI Sebut Kasus Bunuh Diri Remaja di Indonesia Darurat!

- Indonesia menghadapi kondisi darurat dengan angka kasus bunuh diri remaja tertinggi di Asia Tenggara menurut KPAI
- Tekanan akademis, masalah keluarga, dan norma sosial patriarki menjadi faktor utama yang mendorong remaja mengambil keputusan bunuh diri
- Bunuh diri bisa dicegah jika Mama peka terhadap tanda bahaya dan memberikan ruang aman bagi anak untuk berbicara
Kesehatan mental anak dan remaja merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama Mama sebagai orang terdekat. Sayangnya, tidak semua anak mampu mengungkapkan perasaan dan kesulitan yang mereka hadapi, yang pada akhirnya dapat berujung pada keputusan tragis.
KPAI menyebut Indonesia sebagai negara dengan angka kasus remaja mengakhiri hidup tertinggi di Asia Tenggara dan menilai kondisinya sudah darurat. Data yang ada menunjukkan angka yang terus meningkat dari tahun ke tahun, menjadi alarm bagi semua pihak untuk segera bertindak.
Berikut Popmama.com rangkum data, faktor penyebab, tanda bahaya, hingga upaya pencegahan bunuh diri remaja di Indonesia yang perlu Mama ketahui!
Table of Content
1. Data remaja bunuh diri di Indonesia

Survei oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengenai kesehatan mental pada remaja di Indonesia tahun 2022 mendapatkan hasil 5,5% remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental. Di antaranya adalah 11% remaja mengalami depresi, 3,7% cemas, 0,9% mengalami post traumatic stress disorder (PTSD), dan 0,5% mengalami attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).
KPAI juga mencatat selama bulan November 2022 hingga Januari 2023 terdapat 37 aduan kasus mengenai anak mengakhiri hidupnya. Kasus tersebut terjadi pada usia rawan, yaitu kelas 5-6 SD, kelas 1 atau 2 SMP, dan kelas 1 atau 2 SMA. Polanya menunjukkan kasus terjadi di usia rawan dan di usia yang mengalami perubahan dari SD ke SMP serta SMP ke SMA.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menyatakan bahwa 6,2% penduduk berusia 15-24 tahun mengalami depresi.
Memasuki tahun 2025, situasi semakin mengkhawatirkan. Menurut data Pusiknas Bareskrim Polri, sebanyak 1.270 kasus bunuh diri ditangani Polri sejak Januari hingga Jumat, 7 November 2025. Rata-rata, ada lebih dari 100 kasus setiap bulan. Dari total 1.343 pelaku bunuh diri, 7,66% di antaranya berusia di bawah 17 tahun.
Dalam sepekan pertama November 2025, sudah tercatat 26 kasus, atau 18,3% dari total kasus bulan sebelumnya. Kasus terbanyak terjadi pada Oktober 2025, yaitu 142 kasus, meningkat 10,93% dibanding September.
2. Faktor penyebab bunuh diri pada remaja

Pada usia remaja, kasus bunuh diri muncul akibat berbagai faktor kompleks.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut tekanan akademis sebagai salah satu pemicu utama, karena harapan untuk berprestasi dan bersaing di bidang akademik sering menjadi beban.
Perubahan hormon dan emosi selama masa remaja juga berperan, ditambah masalah keluarga, bullying, cyberbullying, dan pengaruh media yang mudah diakses, membuat remaja menghadapi tekanan dari berbagai sisi.
Masalah identitas diri dan keterbatasan akses pada sumber dukungan juga menjadi faktor penting.
KPAI menambahkan, riwayat kesehatan mental dalam keluarga, kemampuan mengelola emosi yang rendah, resiliensi diri yang kurang, pola asuh yang tidak optimal, serta hubungan keluarga yang buruk turut memperburuk kondisi.
Secara gender, laki-laki menunjukkan angka bunuh diri lebih tinggi, dipengaruhi norma sosial patriarki di Indonesia yang menuntut laki-laki bersikap tegar, sehingga mereka kesulitan untuk mengekspresikan perasaan dan masalah yang dihadapi.
3. Tanda-tanda kecenderungan bunuh diri pada remaja

Menurut pedoman dari Universitas Gadjah Mada, ada beberapa tanda yang perlu Mama perhatikan ketika mendampingi remaja, di antaranya:
Remaja yang mulai merasa hidupnya tidak berarti, kehilangan tujuan hidup, atau merasa menjadi beban bagi orang lain perlu mendapat perhatian khusus. Mereka mungkin mengungkapkan perasaan ini secara langsung. Perasaan benci pada diri sendiri yang sangat kuat, kecemasan berlebihan, serta gangguan pola tidur yang signifikan juga menjadi tanda bahaya.
Penarikan diri dari lingkungan sosial
Remaja yang tiba-tiba mengurung diri di kamar, menghindari interaksi dengan teman dan keluarga, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai menunjukkan ada yang tidak beres. Perubahan suasana hati menjadi sangat sedih secara tiba-tiba, lebih sering menangis, atau justru menjadi sangat datar emosinya patut diwaspadai.
Perubahan fisik yang mengkhawatirkan
Menyakiti diri sendiri dengan cara mengiris kulit, membakar bagian tubuh, atau mencoba meracuni diri adalah sinyal darurat. Penurunan nafsu makan yang drastis tanpa alasan medis jelas, serta kehilangan berat badan signifikan juga perlu diperhatikan.
Membicarakan atau menulis tentang kematian dan bunuh diri
Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika remaja mulai membicarakan topik ini, baik secara serius maupun dalam bentuk candaan. Mereka mungkin bertanya tentang cara-cara mengakhiri hidup, mencari informasi tentang obat atau racun tertentu.
Membereskan urusan-urusan mereka
Tanda yang sering terlewatkan adalah ketika remaja mulai membagikan barang-barang berharga, meminta orang lain menjaga hal-hal penting milik mereka, atau tiba-tiba menghubungi orang-orang untuk mengucapkan selamat tinggal atau meminta maaf.
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua remaja menunjukkan tanda-tanda ini, dan beberapa remaja mungkin sangat pandai menyembunyikannya. Namun, jika Mama melihat kombinasi dari tanda-tanda ini, jangan ragu untuk segera bertindak dan mencari bantuan profesional.
4. Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja

KPAI terus mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan upaya pencegahan dan mensosialisasikan secara masif tentang bahaya mengakhiri hidup serta bagaimana pemulihan terhadap remaja secara optimal dengan melibatkan institusi terkait.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mengajak remaja untuk bicara soal kesehatan mental. Direktur Kesehatan Jiwa Imran Pambudi menekankan pentingnya penerimaan terhadap diri sendiri, fokus pada kemampuan diri, dan tanpa perlu membandingkan dengan orang lain.
Bunuh diri bisa dicegah. Remaja dengan pikiran bunuh diri tidak benar-benar ingin melakukannya. Mereka hanya tidak ingin hidup dengan luka dan merasakan sakit. Membantu remaja dengan kecenderungan bunuh diri untuk mengungkapkan dan mengekspresikan pikiran dan perasaannya bisa menyelamatkan nyawa.
Jangan meremehkan kemampuan Mama untuk bisa menolong remaja. Mengenali tanda-tanda bahaya kecenderungan bunuh diri adalah langkah pertama yang sangat penting. Jika Mama melihat tanda-tanda tersebut pada remaja dan mencurigai adanya kecenderungan bunuh diri, segera ungkapkan kekhawatiran Mama kepadanya.
Apabila Mama memerlukan bantuan, Mama dapat menghubungi hotline Halo Kemenkes melakpai lui nomor 1500-567, SMS 081281562620, atau email kontak@kemkes.go.id. Sudahkah Mama memberikan ruang aman bagi remaja untuk mengungkapkan perasaan dan kesulitannya?


















