Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Kenaikan Isa Almasih dalam Islam dan Hikmahnya untuk Umat

Kenaikan Isa Almasih dalam Islam dan Hikmahnya untuk Umat
Freepik/rawpixel.com
Intinya Sih
  • Versi pertama menyebut sosok yang diserupakan untuk menggantikan Nabi Isa AS saat percobaan penyaliban adalah seorang pemuda pemberani dari kalangan sahabat yang ikhlas berkorban.

  • Versi kedua menyebut sosok yang diserupakan adalah Yudas Iskariot, murid pengkhianat yang wajahnya diubah Allah agar menyerupai Nabi Isa, sehingga rencana musuh gagal dan malah membunuh Yudas.

  • Kenaikan Nabi Isa AS ke langit menegaskan kuasa Allah, melindungi Nabi-Nya, dan mengingatkan umat Islam untuk bersabar serta meyakini hikmah setiap ketetapan Ilahi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Nabi Isa Almasih (Isa AS) memiliki kisah yang unik dalam Islam. Beliau tidak wafat saat disalib, melainkan diangkat ke langit oleh Allah dalam keadaan hidup.

Peristiwa ini bukan hanya penting dari sisi sejarah, tetapi juga memiliki makna spiritual dan eskatologis yang mendalam bagi umat Islam.

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal penting terkait kenaikan Nabi Isa AS lengkap dengan ayat Al-Qur’an!

Table of Content

1. Misteri sosok yang diserupakan

1. Misteri sosok yang diserupakan

Salib
Freepik/wirestock

Dalam keyakinan Islam, peristiwa kenaikan Nabi Isa Almasih ke langit merupakan mukjizat besar yang membuktikan kekuasaan Allah SWT dalam melindungi utusan-Nya.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّۢ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا ١٥٧

Wa qaulihim innā qatalnal-masīḥa ‘īsabna maryama rasūlallāh(i), wa mā qatalūhu wa mā ṣalabūhu wa lākin syubbiha lahum, wa innal-ladzīnakhtalafū fīhi lafī syakkim minhu, mā lahum bihī min ‘ilmin illat-tibā‘aẓ-ẓanni, wa mā qatalūhu yaqīnā.

Artinya: “dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang siapa yang dibunuh. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya,”

Ayat ini menjadi dasar bahwa Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib, melainkan ada seseorang yang "diserupakan" (shubbiha lahum) untuk menggantikan posisi beliau.

Terdapat 2 versi yang menjelaskan sosok yang menyerupai Nabi Isa. Versi pertama mengisahkan tentang seorang pemuda paling muda di antara para sahabat yang memiliki keberanian luar biasa. Ia mengangkat tangan bukan hanya sekali, melainkan hingga tiga kali untuk menunjukkan kesungguhan dan keikhlasannya dalam berkorban.

Di tengah kepungan kaum yang memusuhi dan berniat membunuhnya, Nabi Isa dengan tenang menawarkan sebuah kemuliaan kepada para sahabatnya dengan bertanya, “Siapa yang mau diserupakan denganku, dibunuh menggantikan aku, dan menjadi temanku di surga?” Di sinilah muncul dua versi besar mengenai siapa sosok yang akhirnya diserupakan tersebut.

Namun, terdapat versi kedua yang juga populer dalam berbagai tafsir, yang menyebutkan bahwa sosok yang diserupakan adalah Yudas Iskariot. Sebagai murid yang berkhianat dan membocorkan lokasi persembunyian demi imbalan materi, Allah memberikan balasan setimpal dengan mengubah wajah Yudas menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa di tengah kekacauan pengepungan tersebut.

Akibatnya, para prajurit salah menangkap orang dan justru menyalib sang pengkhianat, sementara Nabi Isa telah diangkat ke langit.

Kedua versi ini pada akhirnya bermuara pada satu keyakinan yang sama, bahwa rencana manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan ketetapan Ilahi.

2. Penyelamatan oleh Allah sebagai bentuk kemuliaan

Allah
Freepik/starline

Kenaikan Nabi Isa ke langit bukan sekadar pelarian dari ancaman, melainkan bentuk penyelamatan langsung sekaligus pemuliaan dari Allah kepada Nabi-Nya.

Ketika situasi sudah benar-benar genting dan secara logika manusia tidak ada jalan keluar, Allah justru menunjukkan kekuasaan-Nya dengan cara yang luar biasa, mengangkat Nabi Isa dalam keadaan hidup dan menggagalkan seluruh rencana musuhnya sebagaimana ditegaskan dalam surah An-Nisa ayat 158:

بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Bal rafa'ahullāhu ilaih, wa kānallāhu 'azīzan ḥakīmā

Artinya: "Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke sisi-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana."

Peristiwa ini menegaskan bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang bisa diprediksi manusia. Dalam kondisi terdesak, ketika semua jalan tampak tertutup, Allah bisa membuka jalan yang sama sekali di luar nalar.

3. Diangkat dalam keadaan hidup

Kuburan
Freepik/mdjaff

Salah satu poin paling penting dalam akidah Islam adalah bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dalam keadaan hidup, bukan wafat. Artinya, jasad dan ruh beliau tetap utuh, tidak mengalami kematian seperti manusia pada umumnya.

Pada saat peristiwa tersebut terjadi, usia Nabi Isa diperkirakan sekitar 33 tahun, yang menunjukkan bahwa beliau diangkat pada masa puncak kehidupannya.

Dalam QS. Ali Imran: 55 menyebutkan bahwa Allah akan mengangkat Nabi Isa kepada-Nya dan menyucikannya dari orang-orang kafir.

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

Idz qālallāhu yā ‘īsā innī mutawaffīka wa rāfi‘uka ilayya wa muṭahhiruka minal-ladzīna kafarū wa jā‘ilul-ladzīnat-taba‘ūka fauqal-ladzīna kafarū ilā yaumil-qiyāmah(ti), tsumma ilayya marji‘ukum fa’aḥkumu bainakum fīmā kuntum fīhi takhtalifūn.

Artinya: "(Ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu (menyampaikanmu ke akhir ajalmu), mengangkatmu ke sisi-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang kufur, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kufur sampai hari Kiamat. Kemudian, kepada-Kulah tempat kembalimu, lalu Aku beri keputusan di antara kamu tentang apa yang kamu perselisihkan.'”

Keberadaan Nabi Isa di langit ini bukan akhir dari kisah beliau, melainkan bagian dari skenario besar yang berkaitan dengan akhir zaman. Beliau “disimpan” oleh Allah untuk menjalankan misi penting di masa depan, yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa.

4. Turunnya Nabi Isa di akhir zaman

Bumi hancur
Freepik/h9images

Turunnya Nabi Isa ke bumi merupakan salah satu tanda besar kiamat. Beliau akan turun di menara putih yang terletak di sebelah timur Damaskus, tepatnya di kawasan Masjid Umayyah, pada waktu subuh ketika umat Islam sedang bersiap melaksanakan salat.

Ciri fisik beliau digambarkan dengan sangat jelas. Tinggi sedang, kulit putih kemerah-merahan, rambutnya terlihat seperti meneteskan air meskipun sebenarnya tidak basah, dan mengenakan dua pakaian berwarna kekuningan.

Saat turun, beliau meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, menunjukkan kemuliaan dan keagungan momen tersebut. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

يَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشْقَ
Yanzilu ‘Īsā ibnu Maryam ‘inda al-manārati al-bayḍā’i sharqī Dimashq
“Isa putra Maryam akan turun di menara putih di sebelah timur Damaskus…” (HR. Muslim)

Ketika itu, Imam Mahdi yang memimpin kaum Muslimin hendak mempersilakan Nabi Isa untuk menjadi imam shalat. Namun Nabi Isa menolak dan meminta Imam Mahdi tetap maju.

5. Misi membunuh Dajjal dan menegakkan keadilan

Menegakkan keadilan
Freepik/jcomp

Setelah turun ke bumi, Nabi Isa memiliki misi besar yang sangat penting dalam sejarah manusia. Beliau akan membunuh Dajjal di pintu Lud, sebuah wilayah di Palestina, yang menjadi simbol berakhirnya fitnah terbesar di muka bumi.

فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ
Fa yaṭlubuhu ḥattā yudrikahu bibābi Ludd fa yaqtuluh
“Lalu ia mencarinya hingga mendapatkannya di pintu Lud, lalu membunuhnya.” (HR. Muslim)

Selain itu, beliau akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah, sebagai bentuk pelurusan akidah dan penegakan tauhid secara menyeluruh.

لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا
Layūshikanna an yanzila fīkum ibnu Maryam ḥakaman ‘adlan
“Sungguh hampir tiba saatnya Isa putra Maryam turun di tengah kalian sebagai hakim yang adil…” (HR. Bukhari & Muslim)

Nabi Isa akan menjadi hakim yang adil, memimpin manusia dengan syariat Islam, dan memastikan bahwa tidak ada lagi penyimpangan dalam beragama. Pada masa itu juga terjadi kehancuran Yakjuj dan Makjuj.

Kehidupan di masa tersebut digambarkan penuh kedamaian. Harta melimpah hingga tidak ada yang membutuhkan, tidak ada rasa iri dan dengki, bahkan hewan buas hidup berdampingan dengan manusia tanpa saling menyakiti.

6. Wafat dan dimakamkan di Madinah

Ka'bah
Freepik

Setelah menjalankan seluruh misinya, Nabi Isa akan hidup di bumi selama sekitar 40 tahun. Dalam masa tersebut, beliau menjalani kehidupan sebagai manusia biasa, menikah, berkeluarga, dan bahkan menunaikan ibadah haji.

Setelah itu, beliau wafat secara alami, sebagaimana manusia lainnya. Jenazah beliau akan dishalatkan oleh kaum Muslimin, dan kemudian dimakamkan di Madinah.

فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

Fayamkutsu fil-ardhi arba'īna sanatan tsumma yutawaffā fayuṣallī 'alaihil-muslimūn

Artinya: "Lalu ia (Isa) tinggal di bumi selama empat puluh tahun, kemudian ia wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin." (HR. Abu Dawud & Ahmad).

Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa makam beliau akan berada di samping makam Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, menjadi makam keempat di tempat yang mulia tersebut.

Kenaikan Nabi Isa Almasih bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi penuh hikmah spiritual. Beliau diangkat ke langit dalam keadaan hidup, menunggu perintah untuk turun kembali menegakkan keadilan, dan menjadi salah satu tanda besar kiamat.

Peristiwa ini mengajak kita merenungkan perjalanan hidup, kesabaran, dan keyakinan terhadap takdir Allah. Setiap perubahan dalam hidup memiliki hikmah tersembunyi.

Dengan memahami kisah Nabi Isa AS, kita diingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan, bersabar, dan memperkuat hubungan dengan Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More