Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

7 Manfaat Menangis pada Anak, Proses Alami Tubuh Mengatur Emosi

7 Manfaat Menangis pada Anak, Proses Alami Tubuh Mengatur Emosi
Freepik/8photo
Intinya Sih
  • Tangisan anak adalah proses alami tubuh untuk menyalurkan emosi dan melepaskan hormon stres, membantu mereka kembali tenang serta menyeimbangkan kondisi fisiologis.
  • Menangis berperan penting dalam perkembangan emosional anak, membantu mereka mengenali, memahami, dan mengelola perasaan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan kecerdasan emosional.
  • Momen anak menangis dapat memperkuat ikatan emosional dengan orangtua melalui respons empatik, menciptakan rasa aman dan mendukung kesehatan mental anak secara menyeluruh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tangisan anak sering kali membuat orangtua merasa khawatir. Tidak sedikit orangtua yang langsung berusaha menghentikan tangisan agar suasana kembali tenang. Padahal, di balik tetesan air mata yang keluar, tubuh anak sejatinya sedang menjalankan proses alami yang penting Ma.

Menangis bukanlah suatu tanda kelemahan. Studi menjelaskan bahwa tangisan merupakan salah satu cara tubuh anak berkomunikasi, sekaligus melepaskan tekanan emosional yang belum mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.

Untuk memahami hal ini secara lebih mendalam, berikut Popmama.com telah merangkum 7 manfaat menangis pada anak yang perlu diketahui. Disimak, ya!

Table of Content

1. Membantu melepaskan emosi yang terpendam

1. Membantu melepaskan emosi yang terpendam

anak laki-laki sedang menangis
Freepik

Pada usia dini, anak sejatinya anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan Ma. Ketika beragam emosi seperti marah, sedih, atau kecewa muncul, menangis menjadi saluran utama anak untuk mengekspresikannya.

Menurut studi dalam bidang neurosains, mengungkapkan bahwa sistem limbik di otak akan aktif saat seseorang mengalami emosi yang kuat. Aktivasi ini memicu produksi air mata sebagai respons biologis untuk membantu mengurangi intensitas emosi.

2. Mengurangi hormon stress dalam tubuh

anak sedang mengalami depresi di rumah
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Saat anak menangis, tubuh sebenarnya sedang berusaha menyeimbangkan kondisi internal secara alami. Air mata emosional diketahui mengandung zat-zat tertentu seperti hormon stres, termasuk kortisol, yang dilepaskan sebagai bagian dari respons tubuh terhadap tekanan.

Sejumlah penelitian menjelaskan bahwa menangis dapat memicu pelepasan hormon endorfin dan oksitosin. Kedua hormon ini berperan dalam memberikan rasa nyaman dan menenangkan setelah seseorang mengalami tekanan emosional. Itulah sebabnya setelah menangis, anak sering terlihat lebih rileks, napasnya lebih teratur, dan emosinya perlahan mereda.

Dengan kata lain, menangis dapat menjadi cara alami tubuh anak untuk mengelola tekanan emosional sekaligus memulihkan keseimbangan diri secara menyeluruh.

3. Mengaktifkan sistem saraf yang menenangkan tubuh

gambar anak dan orangtua sedang berbicara
Freepik

Setelah menangis, tubuh anak biasanya akan terasa lebih rileks. Hal ini terjadi karena sistem saraf parasimpatis mulai aktif, yaitu bagian dari sistem saraf yang berperan dalam menenangkan tubuh.

Ketika sistem ini bekerja, detak jantung melambat dan pernapasan menjadi lebih teratur. Kondisi ini membantu anak kembali ke keadaan emosional yang lebih stabil.

Tak heran jika setelah menangis, anak sering terlihat mengantuk atau lebih tenang. Itu adalah tanda bahwa tubuhnya sedang memulihkan diri secara alami.

4. Membantu perkembangan emosional anak

anak dan orangtua sedang menikmati waktu bersama
Freepik

Menangis tidak hanya sekadar reaksi sesaat Ma. Proses ini dinilai membantu otak anak dalam menyimpan dan memahami pengalaman emosional yang sedang terjadi.

Menurut studi dari Harvard Medical School, pengalaman emosional yang diproses dengan baik akan tersimpan lebih sehat dalam memori. Hal inilah yang membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya di masa depan.

Dengan memberi ruang pada anak untuk menangis, Mama sebenarnya sedang membantu mereka dalam membangun kecerdasan emosional sejak dini.

5. Sebagai bentuk komunikasi anak

young asian family read fairy tale
Freepik

Seiring bertambahnya usia, kemampuan anak dalam berbicara memang semakin berkembang. Namun, tidak semua perasaan dapat mereka ungkapkan dengan mudah melalui kata-kata.

Pada fase ini, anak mulai menghadapi dinamika emosi yang lebih kompleks, seperti rasa kecewa, tekanan dari lingkungan, hingga kebingungan terhadap perasaan sendiri. Dalam kondisi tersebut, menangis tetap menjadi cara alami tubuh untuk “berbicara” ketika kata-kata terasa tidak cukup.

Studi mengungkapkan bahwa anak pada tahap perkembangan ini masih dalam proses mematangkan keterampilan regulasi emosi. Artinya, mereka belum sepenuhnya mampu mengelola atau menjelaskan emosi secara jelas.

6. Menjadi momen kedekatan emosional dengan orangtua

ayah sayang dan memeluk anak
Freepik

Saat anak menangis dan orangtua hadir dengan sikap tenang, momen tersebut tentunya menjadi pengalaman emosional yang sangat berharga untuk anak Ma. Hal ini tentunya berkaitan dengan rasa emosional anak akan diterimanya mereka tanpa merasa dihakimi.

Menurut Dr. Laura Markham, respon empatik seperti mendengarkan, memvalidasi perasaan, dan dapat memperkuat ikatan emosional antara orangtua dan anak.

Hal ini juga sejalan dalam konsep secure attachment. Menjelaskan bahwa anak yang merasa aman secara emosional cenderung memiliki kepercayaan diri dan kemampuan sosial yang lebih baik.

Ketika Mama berkata, “Mama di sini,” atau “Tidak apa-apa, kamu boleh menangis,” anak belajar bahwa perasaannya penting dan layak dihargai. Sentuhan sederhana seperti pelukan atau usapan lembut juga dapat membantu menenangkan anak.

7. Membantu anak menerima emosi dengan sehat

anak berbaju kuning sedang berpose ide
Freepik/stockking

Menangis dapat menjadi momen penting bagi anak untuk memahami bahwa semua emosi, baik sedih, marah, maupun kecewa, adalah hal yang wajar. Ketika anak diizinkan mengekspresikan perasaannya tanpa rasa takut atau malu, mereka belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Sebaliknya, jika anak sering diminta berhenti menangis atau merasa perlu meminta maaf karena menangis, mereka bisa belajar untuk menekan emosi. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko membuat anak kesulitan mengenali dan mengelola perasaannya sendiri.

Oleh karena itu, memberikan ruang bagi anak untuk menangis dengan didampingi secara empatik merupakan langkah awal yang penting dalam mendukung kesehatan mental dan perkembangan emosionalnya secara menyeluruh.

Itulah Ma, berbagai manfaat menangis pada anak. Dengan memahami hal ini, orangtua dapat lebih bijak dalam merespons tangisan anak, bukan hanya segera menghentikannya, melainkan hadir, mendampingi, dan memberikan rasa aman pada anak.

 

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More