"Nih bukti nyata bahwa sekolah itu wajib ygy, adik ini pintar banget," tulis seorang netizen berkomentar.
Respons Bijak Remaja Soal Viralnya TikToker Promosikan Nikah Muda di Usia 19 Tahun

Azkia Vidiana Putri atau Azkiave, seorang influencer muda berusia 19 tahun kini tengah viral di media sosial. Namanya yang baru-baru ini menjadi sorotan setelah memutuskan menikah muda dengan pria berusia 29 tahun, setelah lulus SMA.
Pilihannya itu menuai beragam reaksi dari publik, lantaran banyak yang mempertanyakan kesiapan emosional di usia tersebut.
Tak hanya itu, pandangan hidup Azkiave yang kerap menyoroti gaya hidup Generasi Z yang dikaitkan dengan agama juga memicu perdebatan.
Ia dinilai menyederhanakan realita anak muda yang memiliki kondisi beragam, hingga menuai berbagai komentar netizen di media sosial.
Lantas, bagaimana sebenarnya polemik yang muncul dari konten ajakan nikah muda ini? Berikut Popmama.com rangkumkan informasinya.
1. Tanggapan remaja yang mendapat banyak dukungan
Tanggapan seorang influencer muda dengan akun @caterju terkait gaungan nikah muda menjadi salah satu konten yang ikut viral dan disetujui banyak netizen.
Dalam videonya, sang pemilik akun yang diketahui lebih muda dari Azkiave itu menuturkan pendapatnya bahwa pernikahan di usia 19 tahun masih terlalu muda.
Pasalnya, dalam pencarian yang ia lakukan, ia menemukan fakta bahwa otak manusia tidak berhenti berkembang sampai usia 25 tahun.
Hal ini menunjukkan bagaimana usia muda bisa mengembangkan kemampuan melalui pendidikan yang ditempuh.
Ia juga menggarisbawahi bagaimana konten ajakan nikah muda yang digaungkan Azkiave dinilai menyesatkan, lantaran tidak semua orang lahir dengan kondisi berkecukupan untuk siap mengambil tanggung jawab besar dengan menikah.
"Dan dengan konten kakak ini, mereka jadi terhasut pikirannya. Enak kalau dinikahinya sama CEO muda, kalau sama aki-aki yang cuma menjanjikan Alphard gimana? Emang kakaknya mau tanggung jawab kalau nanti bayak anak-anak yang jadi sandwich generation?" ujar Caterju menanggapi.
Pemilik akun juga menuturkan bagaimana Azkiave yang menyebutkan dirinya bertemu dengan sang suami ketika masih duduk di bangku SMA, sementara sang suami berusia 10 tahun lebih tua darinya. Inilah yang membuat ia menilai bahwa Azkiave justru membenarkan hubungan di bawah umur, yang mana seharusnya tidak dilakukan karena dikhawatirkan adanya child grooming.
Penuturan pemilik akun Caterju mendapat banyak tanggapan positif yang menyetujuinya. Bahkan, tak sedikit yang berkomentar bahwa penuturan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan formal adalah hal penting.
"I adore you sooo much, adik. Like seriously your courage and that sharp, critical mind of yours? Insane. Even 19yr old azkia would never think the same way," komentar netizen lain menyetujui.
2. Awal mula ajakan nikah muda 19 tahun ramai diperbincangkan

Nama Azkiave mencuat setelah ia secara terbuka membagikan video yang bernarasikan keputusannya untuk menikah di usia 19 tahun dengan Yuka Bimatara Putra, seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya.
Pilihan hidup ini langsung menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform. Sebagian netizen memberikan dukungan atas keputusannya yang dianggap berani dan matang.
Namun, tak sedikit pula yang mengkritik, menilai usia 19 tahun masih terlalu dini untuk memikul tanggung jawab besar seperti pernikahan.
Azkiave sendiri dikenal sebagai kreator konten dan pebisnis yang aktif membagikan pandangan hidup dan nilai-nilai yang diyakininya dalam ajaran agama Islam.
Konten-kontennya mengenai kedewasaan dan tanggung jawab sering kali terlihat berbeda dari kebanyakan anak muda seusianya.
Polemik ini semakin panas karena Azkiave nggak cuma membagikan pilihan pribadinya, tapi juga menyampaikannya dengan nada yang dianggap menggurui.
Dari sinilah kemudian banyak orang merasa khawatir jika kontennya bisa diikuti tanpa persiapan matang secara mental dan finansial oleh anak muda lainnya.
3. Penyampaian suami Azkiave yang turut mengundang komentar

Sorotan netizen nggak cuma tertuju pada Azkiave, tapi juga pada sang suami, Yuka Bimatara Putra. Dalam sebuah video TikTok yang diunggah pada 1 Juni 2025, Yuka menyampaikan pandangan provokatif tentang dunia perkuliahan.
Ia menyebut bahwa kuliah dapat dianggap "scam" atau penipuan jika dijalani tanpa tujuan dan spesialisasi yang jelas. Menurutnya, banyak mahasiswa yang menghabiskan biaya besar untuk pendidikan yang tidak langsung relevan dengan dunia kerja.
Pernyataan yang sudah ia bagikan di pertengahan tahun 2025 lalu pun ikut memicu spekulasi netizen. Banyak yang menduga bahwa pandangan inilah yang turut memengaruhi Azkiave untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah dan memilih fokus berbisnis serta menikah muda.
Kritik pun bermunculan. Banyak netizen menilai pernyataan tersebut terlalu menggeneralisasi dan mengabaikan nilai lain dari pendidikan tinggi, seperti pengembangan pola pikir, jejaring, dan ilmu yang tidak selalu bersifat teknis.
4. Sebut kuliah hanya formalitas

Dalam caption video yang sama, Yuka menguraikan pandangannya lebih detail. Ia menulis bahwa di zaman sekarang, kuliah kerap terasa seperti sekadar formalitas, dengan silabus yang selalu berubah dan materi yang belum tentu aplikatif.
Ia membandingkannya dengan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau AI, yang menurutnya mampu menggantikan banyak pekerjaan manusia.
Yuka juga menyoroti masalah birokrasi kampus yang dianggap menghambat proses belajar. Dari pandangannya itu, ia menawarkan untuk fokus mempelajari keterampilan praktis yang langsung dibutuhkan di dunia kerja, seperti coding, desain grafis, atau digital marketing.
Menurutnya, cara belajar fleksibel seperti ini lebih sesuai dengan tuntutan masa depan. Meski di akhir ia menyebut kuliah tetap penting, pesan utama yang tertangkap justru mendegradasi nilai pendidikan formal.
Hal ini yang kemudian kembali mengundang perdebatan tentang keseimbangan antara pendidikan akademis dan keterampilan spesifik, yang kemudian membuat netizen menyebutkan bagaimana pola pikir pasangan ini yang bisa memengaruhi anak muda lainnya tentang pendidikan.
5. Kekhawatiran child grooming pada anak yang menikah muda

Perbincangan tentang pernikahan Azkiave dan Yuka yang memiliki selisih usia 10 tahun juga memicu diskusi yang lebih dalam mengenai dinamika hubungan, Ma.
Banyak netizen mempertanyakan kapan dan bagaimana hubungan mereka bermula, mengingat Azkiave memutuskan menikah tak lama setelah lulus SMA.
Kekhawatiran terbesar yang muncul adalah potensi praktik child grooming, yang merupakan proses manipulasi psikologis yang dilakukan seseorang dewasa untuk membangun ikatan emosional, kepercayaan, dan ketergantungan dengan anak atau remaja, dengan tujuan mengeksploitasi mereka di kemudian hari. Eksploitasi ini dapat berbentuk seksual, pernikahan, atau pengendalian.
Meski Azkiave menyebutkan dirinya telah berusia 19 tahun dan sudah masuk ke dalam batas minimal pernikahan di Indonesia, pola hubungan dengan selisih usia signifikan dan dimulai di masa remajanya memunculkan tanda tanya.
Apakah keputusan untuk menikah muda ini betul-betul lahir dari kesadaran penuh dan kemandirian, atau ada pengaruh dari pihak yang lebih dewasa yang telah membentuk pola pikirnya?
Kekhawatiran ini menegaskan bahwa dalam membahas pernikahan muda, aspek kesiapan mental dan psikologis pun berperan penting dari kesiapan finansial itu sendiri. Relasi yang sehat harus dibangun di atas fondasi kesetaraan, kemandirian, dan kebebasan memilih tanpa tekanan atau manipulasi dari pihak mana pun.
6. Kritik Gen Z dan menuai ragam komentar

Tidak berhenti di situ, Azkiave juga secara khusus menyindir gaya hidup Generasi Z. Dalam kontennya, ia berpendapat bahwa narasi "masih muda" sering dijadikan pembenaran untuk menghindari tanggung jawab besar, seperti pernikahan.
Ia mengaitkannya dengan konsep extended adolescence dan perspektif agama, yang justru kian mendapat ragam komentar netizen karena dinilai sebagai bentuk penyederhanaan yang keliru.
Dalam konten-konten yang dibagikan, netizen menyinggung bagaimana sosok influencer yang menggaungkan pernikahan muda itu dinilai punya kesiapan latar belakang yang mumpuni.
Namun, netizen juga menggarisbawahi bahwa setiap individu memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan tujuan hidup yang berbeda-beda, sehingga kesiapan menikah tidak bisa disamaratakan.
Reaksi netizen pun beragam. Banyak yang menggarisbawahi kematangan emosional, mental, finansial, dan menemukan pasangan yang tepat.
Seperti tanggapan pemilik akun Caterju, pernikahan muda tanpa fondasi kuat, justru berisiko menciptakan sandwich generation.
Tanggapan ini menunjukkan kesadaran kolektif bahwa memilih untuk fokus studi, membangun karier, atau mengenal diri sendiri di usia muda bukanlah bentuk penghindaran tanggung jawab, melainkan bagian dari tanggung jawab itu sendiri terhadap masa depan yang lebih stabil.
Polemik Azkiave yang disebut mempromosikan nikah muda mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup setiap orang unik. Pernikahan di usia muda sendiri tidak dilarang, tapi penting untuk dipertimbangkan secara matang dari segala aspek agar tidak terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis.
Bagaimana nih, tanggapan Mama terkait pemberitaan yang beredar ini? Apakah Mama tim setuju untuk membiarkan anak menikah di usia muda? Sharing di kolom komentar, yuk!

















