Dunia media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah video yang memperlihatkan kecerdasan luar biasa seorang anak laki-laki asal China.
Viral! Anak Kelas 3 SD di China Rakit Drone dalam 5 Menit

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di China viral setelah berhasil merakit drone hanya dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit.
Aksi tersebut menyoroti perbedaan sistem pendidikan antara China dan Indonesia, terutama dalam penerapan praktik langsung sains dan teknologi sejak usia dini.
Video ini menjadi pengingat bagi orangtua untuk tidak membatasi potensi anak, melainkan memberi dukungan agar mereka bebas bereksperimen dan mengasah kreativitas teknisnya.
Melalui unggahan Steven Howard di akun TikTok @stevenhoward_, terlihat anak asal China tengah memperlihatkan bentuk drone rumit yang dibuat oleh dia dan teman-temannya.
Berikut Popmama.com rangkum 3 poin utama dari aksi anak jenius rakit drone tersebut!
Table of Content
1. Anak berusia 10 tahun sudah membuat drone

Keajaiban teknologi yang mencuri banyak perhatian ini berasal dari China dan semakin viral setelah dibagikan oleh Steven Howard.
Anak laki-laki yang baru berusia 10 tahun dan duduk di kelas 3 SD ini menunjukkan hasil keterampilan tangannya, sebuah drone yang dibuat hanya dalam waktu 5-10 menit.
Diketahui waktu pengisian daya baterai yang dibutuhkan adalah sekitar 45 menit hingga 1 jam untuk performa optimal.
2. Perbedaan sistem pendidikan Indonesia dan China

Aksi anak tersebut ini menjadi pemantik untuk melihat kembali perbedaan sistem pendidikan, terutama jika dibandingkan dengan di Indonesia.
Di China, kurikulum sains dan teknologi sering kali diintegrasikan dengan praktik langsung seperti robotika sejak sekolah dasar. Sementara di Indonesia, pendidikan dasar umumnya masih dominan pada aspek teoretis.
Kurangnya fasilitas laboratorium yang merata menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak Indonesia untuk mengeksplorasi bakat teknis mereka.
Padahal, dengan dukungan alat peraga yang tepat dan lingkungan yang memandang teknologi sebagai alat kreativitas, anak-anak
3. Jangan batasi potensi anak

Video viral ini adalah pengingat yang kuat bagi para orangtua bahwa potensi anak tidak boleh dibatasi oleh angka usia. Mungkin Mama merasa anak "masih terlalu kecil" untuk belajar hal-hal berat seperti mekanika.
Namun, jika diberikan wadah yang tepat dan dukungan fasilitas, mereka mampu menyerap ilmu tersebut dengan sangat cepat. Tugas Mama sebagai orangtua adalah menjadi fasilitator yang suportif.
Jangan ragu membiarkan anak "mengoprek" atau membongkar-pasang mainan di bawah pengawasan, karena dari rasa penasaran itulah logika berpikir dan kemampuan problem solving mereka terasah untuk menjadi inovator hebat di masa depan.
Jadi, jika anak di rumah tiba-tiba minta dibelikan alat rakitan robot atau drone daripada mainan biasa, Mama bakal langsung dukung atau malah khawatir rumah makin berantakan?


















