"Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," ucap Agus, Rabu (14/1/2026).
Viral Kasus Guru Dikeroyok Siswa di Jambi, Picu Keprihatinan Publik

- Guru dikeroyok siswa di Jambi bermula dari peneguran siswa tidak hormat kepada guru, hingga berujung pada pengeroyokan dan ancaman terhadap guru.
- Kasus berujung damai setelah proses mediasi yang melibatkan kedua belah pihak, terjadi kesepakatan perdamaian yang ditandatangani oleh guru dan siswa sebagai komitmen untuk mengakhiri konflik.
- Kasus ini menjadi alarm bagi pentingnya menanamkan nilai moral pada anak sejak dini agar tindakan serupa tidak terjadi di masa depan.
Sekolah sejatinya menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan mengenal nilai-nilai kehidupan. Namun, fungsi tersebut kini dipertanyakan ketika lingkungan pendidikan justru diwarnai dengan tindakan melangar norma sosial.
Belakangan, publik dikejutkan oleh beredarnya vidio yang memperlihatkan seorang guru diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa di Jambi. Peristiwa ini viral di media sosial dan memicu keprihatinan masyarakat.
Merasa mendapat perlakuan tidak hormat di lingkungan pendidikan, Agus kemudian masuk ke kelas tersebut untuk mencari tahu siapa yang mengucapkan kata-kata itu, situasi semakin memanas karena Agus menilai sikap serta bahasa tubuh siswa tersebut terkesan menantang dan tidak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali.
Berikut Popmama.com telah merangkum kejadian guru dikeroyok siswa di Jambi viral. Yuk, simak!
Table of Content
1. Kronologi kasus

Peristiwa ini bermula pada Selasa (13/1/2026), saat Agus Sunaryo, melintas di depan salah satu ruangan di kelas. Secara mengejutkan, dari dalam kelas terdengar seorang siswa meneriakkan kata-kata tidak pantas ditujukan kepada Agus.
Merasa terganggu akan ucapan tersebut, Agus selaku guru masuk ke dalam kelas untuk menanyakan siapa yang berteriak, hingga akhirnya seorang siswa maju mengakui perbuatannya.
Kasus semakin memanas ketika jam pelajaran berakhir pada sore hari. Agus mengaku bahwa konflik tidak berhenti di dalam kelas, melainkan berlanjut dengan adanya ancaman dari sekelompok siswa saat ia hendak meninggalkan sekolah. Menurut keterangan Agus mulai dilempari batu secara bertubi-tubi oleh siswa, yang mengakibatkan luka memar di beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian pipi dan punggung.
Di balik aksi tersebut, muncul kesaksian berbeda dari perspektif murid yang menyebutkan bahwa kericuhan diduga dipicu oleh ucapan Agus yang dianggap menghina dengan menyebut seorang siswa "miskin".
"Ya, saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'Kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ucap Agus.
Meski demikian, Agus mengklarifikasi bahwa pernyataan tersebut hanyalah motivasi agar siswa tetap menjaga martabat di tengah keterbatasan ekonomi, perbedaan persepsi ini telanjur menyulut sakit hati mendalam di kalangan pelajar hingga mendorong terjadinya aksi pengeroyokan.
2. Kasus pengeroyokan berujung damai

Kabar terbaru mengenai kasus yang sempat menghebohkan publik ini, akhirnya membawa angin segar bagi dunia pendidikan. Setelah melalui proses yang cukup panjang dan emosional, konflik antara Agus Sunaryo dan para siswa kini mulai menemui titik terang.
Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Erlan selaku pihak terkait yang menangani kasus ini pada Kamis (15/1/2026).
Erlan menyatakan bahwa telah dilakukan proses mediasi secara mendalam yang melibatkan kedua belah pihak, dengan pengawalan ketat dan disaksikan langsung oleh pihak Polres Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).
"Hasil dari mediasi sementara menunjukkan bahwa kedua belah pihak kini telah saling memahami kesalahan masing-masing. Terjadi kesepakatan perdamaian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak sebagai komitmen untuk mengakhiri konflik ini secara kekeluargaan," ungkap Erlan.
Langkah mediasi ini dilakukan sebagai respons cepat untuk menurunkan ketegangan yang terlanjur meluas dan menjadi sorotan publik di media sosial.
3. Pentingnya menanamkan nilai moral pada anak sejak dini

Pendidikan moral sejatinya adalah hal penting dan wajib ditanamkan bagi setiap anak sejak dini, karena nilai moral adalah fondasi yang menentukan bagaimana anak bersikap di masyarakat.
Belajar dari kasus pengeroyokan guru yang terjadi di Jambi, kita kembali diingatkan bahwa kecerdasan akademik semata tidak akan memiliki arti jika tidak disertai pembentukan karakter moral yang kuat.
Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi para orangtua, pendidik, dan masyarakat luas bahwa pentingnya menamkan nilai moral pada anak usia dini agar tidakan serupa tidak terjadi di masa yang datang.
Itulah ma, fakta kasus viral pengeroyokan guru di jambi. Melalui kejadian ini semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.


















