Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kasus Anak Dibully oleh 3 Temannya, Orang Dewasa Justru Hanya Merekam

3 min read
Kasus Anak Dibully oleh 3 Temannya, Orang Dewasa Justru Hanya Merekam
Instagram.com/beritasemaranghariini
  • Seorang anak dikeroyok tiga temannya di Perum Citra Mutiara Pringsari, Kabupaten Semarang, sementara anak tetangga yang merekam kejadian menuai kecaman warganet.

  • Setelah video viral, keluarga korban mengunggah kasus untuk meningkatkan kepedulian terhadap perundungan. Perselisihan akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan pada 17 September.

  • Orangtua dianjurkan membekali anak dengan kepercayaan diri, keberanian verbal, dan cara melindungi diri; orang dewasa diminta segera mengamankan korban, bukan merekam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fenomena perundungan atau bullying pada anak belakangan ini kembali menjadi sorotan hangat di media sosial. 

Mirisnya, saat insiden kekerasan anak terjadi di depan mata, orang dewasa justru sibuk merekam aksi tersebut demi konten. 

Padahal, dibandingkan mengincar popularitas sesaat di media sosial, tindakan nyata untuk melindungi fisik dan mental anak jauh lebih berharga.

Penting untuk diingat bahwa reflek orangtua dalam menolong anak seharusnya jauh lebih cepat dibandingkan reflek membuat konten. 

Paparan aksi kekerasan yang direkam dan disebarluaskan justru bisa menambah rasa malu serta trauma mendalam pada anak. 

Berikut Popmama.com rangkum kasus anak dibully oleh 3 temannya, orang dewasa justru hanya merekam.

  1. 1. Kronologi awal kejadian

    Kronologi kasus perundungan anak di Semarang
    Instagram.com/beritasemaranghariini

    Peristiwa pengeroyokan ini terjadi di Perum Citra Mutiara Pringsari, Kabupaten Semarang.

    Kasus ini menjadi viral setelah diunggah oleh salah satu akun di Instagram.

    Berdasarkan penjelasannya, sang anak dikeroyok oleh tiga temannya secara tidak seimbang, baik dari segi usia maupun jumlah. 

    Mirisnya lagi, aksi tersebut justru direkam oleh anak tetangga yang sudah duduk di bangku SMP. 

    Alih-alih melerai atau menghentikan perkelahian anak di dekatnya orang yang merekam justru fokus pada kamera ponselnya demi konten.

    Tindakan tersebut justru yang kemudian memicu kecaman luas dari warganet. 

  2. 2. Hasil akhir kasus berdamai secara kekeluargaan

    Kronologi kasus perundungan anak di Semarang
    Instagram.com/beritasemaranghariini

    Setelah video tersebut viral dan menuai banyak perhatian publik, pihak keluarga korban memilih langkah tegas.

    Yaitu dengan mengunggahnya agar masyarakat lebih peduli dan tidak menganggap remeh perundungan. 

    Papa korban sempat menyayangkan respons awal pihak terduga pelaku yang hanya meminta maaf lewat pesan WhatsApp yang dianggap kurang serius. 

    Namun, setelah melalui proses komunikasi antar pihak, masalah pengeroyokan ini akhirnya resmi diselesaikan secara kekeluargaan pada tanggal 17 September lalu.

    Sang Papa berharap kejadian tersebut dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh lingkungan sekitar agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.  

  3. 3. Peran orangtua untuk membekali anaknya ilmu membela diri

    Anak belajar ilmu bela diri
    Pinterest.com/Lisa Bonack

    Berkaca dari peristiwa ini, orangtua diingatkan untuk tidak hanya menunggu anak menjadi korban baru kemudian sibuk mencari bantuan.

    Bekali anak sejak dini dengan ilmu bela diri seperti program anti-bully survival agar postur, tatapan mata, dan gestur tubuhnya tampil percaya diri serta tidak terlihat sebagai target empuk. 

    Latih pula keberanian verbal anak untuk mengucapkan kata "Stop!" dengan tegas, menjaga jarak dari kelompok anak beritikad buruk.

    Serta ajarkan anak untuk mengetahui cara melepaskan diri. 

    Selain itu, orang dewasa diimbau agar tidak hanya diam atau sibuk merekam saat melihat perundungan, melainkan segera mengamankan korban.

    Mendidik anak di era digital memang menghadirkan tantangan tersendiri bagi setiap orangtua. 

    Itu dia rangkuman kasus anak dibully oleh 3 temannya, orang dewasa justru hanya merekam.

    Sebagai pendamping utama anak, mari terapkan pola pengasuhan yang bijak dengan mengutamakan aksi nyata dan empati di atas kepopuleran konten.

    Dengan membekali anak rasa percaya diri, ilmu menjaga diri, serta dukungan emosional yang kuat, kita membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani dan tangguh.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More