Latih Anak Meregulasi Emosi, Yuk Kenali Emosi Anak dan Perkembangannya

Ketahui juga faktor penyebab masalah emosi pada anak, Ma

8 Juni 2021

Latih Anak Meregulasi Emosi, Yuk Kenali Emosi Anak Perkembangannya
Freepik/Karlyukav

Sama seperti orang dewasa, anak-anak pun memiliki ragam perasaan atau emosi, Ma. Tak hanya itu, setiap anak juga memiliki karakteristik sendiri yang menjadi pembeda antara ia dengan teman seusianya.

Sebagai orangtua, kita perlu mengenali emosi anak dan perkembangannya guna melatih anak meruglasi emosi sejak sedini mungkin. 

Sebab di usia sekolah, tak hanya kecerdasan akademis saja yang anak butuhkan, tetapi ada pula kecerdasan emosional yang bisa mengekspresikan dan mengelola perasaan dengan tepat, serta menghargai perasaan orang lain.

Lantas, bagaimana cara melatih regulasi emosi anak sesuai perkembangannya? Dilansir dari ragam sumber, berikut Popmama.com telah merangkum informasi selengkapnya.

1. Cara anak mengekspresikan perasaannya

1. Cara anak mengekspresikan perasaannya
Freepik/Drobotdean

Kemampuan emosional seseorang sudah terbentuk sejak lahir seperti menangis, tersenyum, frustasi. Dalam Desmita, 2006:19 disebutkan bahwa beberapa minggu setelah lahir, bayi sudah dapat memperlihatkan ragam ekspresi.

Mulai dari emosi dasar seperti kebahagiaan, perhatian, keheranan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan kebosanan sesuai dengan situasinya. Itulah mengapa penting mengenali emosi anak sejak dini, Ma.

Sebab, anak-anak umumnya belum mampu mengemukakan perasaan mereka, sehingga emosi-emosi yang beragamlah yang menjadi komunikasi mereka untuk mengungkapkan perasaan tersebut.

Bahkan, untuk mengekspresikan perasaannya, anak-anak akan mengungkapkannya melalui perilaku yang tidak tepat dan menimbulkan masalah.

Editors' Picks

2. Usia sekolah, emosi anak mulai berkembang

2. Usia sekolah, emosi anak mulai berkembang
Freepik/pch-vector

Setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, anak usia 2-6 tahun mulai dapat merasakan perasaan kasih sayang serta empati. Saat sudah memasuki usia sekolah yakni 6-12 tahun, kemampuan kognitif dalam mengekspresikan emosinya pun semakin berkembang.

Di usia ini, umumnya anak mulai mengetahui kapan mereka harus mengontrol ekspresi emosi. Sehingga anak mulai bisa menguasai keptrampilan regulasi perilaku yang memungkinkannya untuk menyembunyikan emosin dengan cara yang sesuai aturan sosial.

3. Melatih anak meregulasi emosi

3. Melatih anak meregulasi emosi
Freepik/Racool_studio

Memiliki anak yang cerdas secara kognitif maupun emosional memang memerlukan waktu dan pembelajaran yang tidak instan. Langkah pertama yang bisa Mama lakukan adalah dengan melatih meregulasi emosinya.

Dilansir dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak & Remaja menyebutkan beberapa langkah dalam membantu anak memiliki regulasi emosi. Antara lain:

  • Kenali emosi/perasaan diri (name the feeling)
  • Kenali emosi/perasaan orang lain
  • Hadir dan dengarkan perasaan anak
  • Menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak
  • Tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah
  • Jadi role model atau panutan untuk anak
  • Senang bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas anak
  • Ajarkan teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox

4. Ledakan emosi anak yang perlu diwaspadai

4. Ledakan emosi anak perlu diwaspadai
Freepik/Rawpixel-com

Meski sudah dilatih untuk dapat merugalasi emosinya, namun tak jarang anak-anak juga alami emosi negatif yang menjadi ledakan emosi.

Meski hal seperti ini dianggap wajar, namun dr. Anggia menjelaskan beberapa ledakan emosi anak yang perlu Mama waspadai. Antara lain jika anak mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Tantrum dan ledakan (outbursts)terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun
  • Tantrum dan perilaku anak telah membuat distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga
  • Perilaku anak sudah membahayakan dirinya atau orang lain
  • Perilaku anak menimbulkan masalah serius di sekolah
  • Perilaku anak memengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan teman, sehingga anak dikucilkan atau diabaikan oleh teman-temannya
  • Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya dan merasa dirinya “buruk”

5. Faktor penyebab ledakan emosi anak

5. Faktor penyebab ledakan emosi anak
Freepik

Bukan tanpa sebab anak alami emosi negatif yang akhirnya menimbulkan ledakan emosi. Terdapat beberapa faktor penyebab masalah emosinya yang terjadi pada anak, antara lain:

  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
  • Kecemasan/anxiety
  • Trauma
  • Kesulitan belajar
  • Gangguan pemrosesan sensori (sensory processing issues)
  • Spektrum autisme
  • Sedikit mendapat kasih sayang dari keluarga maupun teman
  • Terlalu terikat dengan satu figur yang dominan

Guna menghindarinya, kepercayaan serta panutan yang anak amati terhadap orangtua dan keluarga sangatlah berperan penting untuk membentuk rasa percaya diri anak.

Dengan terbentuknya rasa percaya diri, maka akan membantu anak meregulasi emosi, mendorong anak menjadi mandiri, serta berani mengambil risiko. Ketika anak mama memiliki karakteristik tersebut, bukan tidak mungkin anak dapat berperilaku dengan baik dan terhindar dari masalah penyesuaian diri dalam hidupnya.

Itulah serba-serbi seputar emosi pada anak, serta tahap perkembangannya pada usia sekolah. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pembelajaran bagi Mama dan Papa guna melatih regulasi emosi anak agar tetap terkendali dengan baik.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.