5 Tanda Tiger Parenting, Terlalu Banyak Mengatur Anak!

Tiger parenting bukanlah cara pengasuhan yang tepat dan baik

16 November 2021

5 Tanda Tiger Parenting, Terlalu Banyak Mengatur Anak
Freepik/peoplecreations

Tiger parenting merupakan gaya pengasuhan yang kuno dan keras. Umumnya, gaya pengasuhan ini menerapkan bagaimana orangtua mendorong anak-anaknya untuk berprestasi di sekolah dan mencapai banyak hal di usia muda.

Bukan tanpa alasan, tentu saja tujuannya adalah agar sang anak dapat meraih kesuksesan di kemudian hari. Itulah mengapa orangtua bersikeras untuk mendorong anaknya selalu menjadi yang terbaik dalam setiap hal.

Jika mengetahui hal di atas, sekilas mungkin terdengar biasa dan baik ya, Ma? Tapi justru tiger parenting ini tidak baik karena menerapkan cara ekstrem yang bisa memengaruhi mental anak secara negatif.

Mengetahui hal tersebut, apakah Mama dan Papa termasuk orangtua dengan pengasuhan demikian?

Untuk mengetahuinya, berikut Popmama.com telah merangkum dari berbagai sumber terkait 5 tanda tiger parenting yang sebaiknya segera diperbaiki.

1. Terlalu banyak mengatur anak

1. Terlalu banyak mengatur anak
Freepik/Mego-studio

Sesuai namanya, tiger parenting cenderung senang membuat aturan yang kaku dan ketat. Mama dan Papa mungkin tanpa sadar menetapkan aturan yang begitu banyak dan membuat anak merasa kesulitan untuk menerapkannya.

Ketika anak tidak bisa menerapkan aturan yang sudah ditentukan Mama dan Papa, biasanya akan membuat frustasi dan melampiaskan kemarahannya pada anak. Alhasil, kesehatan mental anak pun menjadi terpengaruh, Ma, Pa.

Editors' Pick

2. Anak tidak diberi kebebasan untuk berkembang

2. Anak tidak diberi kebebasan berkembang
Freepik/user18526052

Tiger parenting bukan hanya menetapkan banyak aturan ketat dan kaku, tetapi mereka sebagai orangtua akan selalu mengawasi anak secara berlebihan. Ketika anak selalu diawasi demikian, maka anak pun menjadi tidak bebas dalam berkembang dan menikmati hidup mereka.

Itulah mengapa tiger parenting adalah metode pengasuhan yang ekstrem dan tidak baik diterapkan pada anak. Hal ini karena bisa membuat anak mama merasa bahwa kerja keras yang sudah mereka hasilkan tidak memberikan kesenangan pada dirinya sendiri.

Menginginkan anak yang berprestasi memang tak salah kok, hanya saja beri mereka ruang untuk tetap berkembang dan menikmati hidupnya ya. Jangan sampai anak merasa terbebani dan berakhir tidak bisa memberikan hasil maksimal untuk orangtuanya.

3. Semua yang anak lakukan hanya belajar tanpa bermain

3. Semua anak lakukan ha belajar tanpa bermain
Freepik/DCStudio

Meneruskan poin sebelumnya, orangtua yang menerapkan pola asuh tiger parenting umumnya akan menetapkan banyak rutinitas yang kaku dan isinya hanyalah belajar tanpa ada waktu bermain. Ketika menerapkan demikian, anak pun sama sekali tidak memiliki waktu bermain untuk bersenang-senang dengan teman seusianya.

Hal yang lebih mengkhwatirkan dari pola asuh yang otoriter ini adalah, anak mama mungkin tidak memiliki teman karena sikap yang Mama dan Papa terapkan padanya untuk terus belajar tanpa bermain.

Selain itu, anak juga lebih rentan mengalami burnout karena anak tidak memilki hobi dan aktivitas yang bisa membuat mereka bahagia. Alhasil, kembali lagi kepada masalah kesehatan mental anak pun dipertaruhkan.

4. Orangtua sangat kompetitif

4. Orangtua sangat kompetitif
Unsplash/andreapiacquadio

Sikap kompetitif ini sebenarnya baik untuk memenangkan sesuatu namun jika terlalu kompetitif juga tidak baik. Begitu pula yang dilakukan orangtua dengan pola asuh tiger parenting.

Orangtua umumnya bersikap sangat kompetitif karena ingin anak-anaknya menjadi yang terbaik dalam berbagai hal. Saat sang anak berhasil meraih kemanangan, orangtua dengan pola asuh ini akan sangat menikmatinya.

Sebaliknya, Mama dan Papa akan merasa hampa dan kecewa ketika anak kalah atau tidak menjadi yang terbaik. Ini yang kemudian bisa membuat anak merasa sering cemas, mereka takut tidak bisa menjadi yang terbaik sebagaimana orangtuanya harapkan pada mereka.

5. Sering mengancam anak

5. Sering mengancam anak
Freepik/peoplecreations

Tiger parenting juga tidak akan segan-segan mengancaman sang anak untuk membuat mereka menuruti perkataan orangtuanya. Meski tidak selalu kasar seperti memukul saat anak berbuat hal buruk, tetapi bisa juga dalam bentuk tidak akan memberikan uang jajan, tidak mengizinkan anak bermain dengan gadget, dan lainnya.

Tahukah Mama, bahwa ancaman apapun yang diberikan pada anak justru akan memberikan hasil yang negatif pada mereka. Bersikap tegas pada anak memang perlu dilakukan, namun ancaman bukanlah cara terbaik. Justru ancaman membuat anak akan membalas dengan pemberontakan.

Dalam sebuah studi yang melibatkan 444 keluarga dan dimuat oleh Asian American Journal of Psychology menyatakan, tiger parenting bukanlah metode pengasuhan yang baik dan tepat.

Jika Mama dan Papa menemukan tanda-tanda di atas, yuk segera perbaiki dengan pola asuh yang lebih baik dan tepat. Sebab bagaimana pola asuh yang diberikan pada anak akan sangat memengaruhi karakter yang terbentuk, caranya memandang diri dan orang sekitar, serta meraih kesuksesan.

Jadi, coba introspeksi diri dan perbaiki sebelum terlambat yuk, Ma, Pa!

Baca juga:

The Latest