Inilah Dampak Pola Asuh Permisif pada Anak, Penting Diketahui!

Jangan sampai salah memilih pola asuh, Ma karena bisa berdampak pada sikap anak!

26 Februari 2023

Inilah Dampak Pola Asuh Permisif Anak, Penting Diketahui
Pexels/cottonbro studio

Orangtua merupakan sumber pendidikan utama yang berperan dalam tumbuh kembang anak. Adapun perkembangan anak tergantung pada bagaimana orangtua mengasuhnya.

Pola asuh dapat diartikan sebagai suatu cara penerapan dalam membimbing, mengarahkan bahkan mengatur tumbuh kembang anak. 

Dengan pola asuh yang tepat dan sesuai tentunya akan menstimulasi perkembangan anak dengan baik dan optimal. Terdapat beberapa jenis pola asuh yang diterapkan oleh orangtua kepada anak salah satunya adalah pola asuh permisif. 

Pola asuh permisif ditandai dengan cara orangtua mendidik anak yang cenderung bebas, ia diberikan kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. 

Perlu diketahui bahwa pemilihan pola asuh sangat penting untuk menentukan perkembangan anak. Apabila pola asuh yang diberikan tidak sesuai dengan karakter anak, dalam hal ini pola asuh permisif, kelak bisa menjadi bumerang bagi anak. 

Soal memberikan kehangatan, perhatian intens dan interaksi pada anak memang tidak perlu kita ragukan lagi ya, Ma. Namun ada beberapa hal yang harus diketahui para orangtua mengenai gaya pola asuh permisif ini. 

Berikut ini Popmama.com telah rangkum informasi seputar dampak pola asuh permisif pada anak beserta ciri-ciri orangtua, penting diketahui agar orangtua mengenal lebih dalam terkait gaya asuh permisif ini.

Yuk, disimak!

1. Penjelasan dari pola asuh permisif orangtua

1. Penjelasan dari pola asuh permisif orangtua
Pexels/Ketut Subiyanto

Pola asuh permisif atau permissive parenting merupakan sebuah gaya pengasuhan dengan membiarkan anak melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan menetapkan sedikit tuntutan atau kendali terhadap mereka.

Biasanya orangtua seperti ini cenderung memberikan kebebasan melakukan apa yang mereka inginkan, sehingga menjadi pribadi yang semaunya sendiri. 

Orangtua yang seperti ini umumnya tidak menggunakan wewenangnya sebagai orangtua dengan tegas saat mengasuh dan membesarkan anaknya. 

Namun, orangtua tipe ini juga biasanya bersifat hangat, responsif dan penuh kasih sayang sehingga seringkali disukai anak. 

Apabila seorang anak yang diberikan kebebasan penuh dalam melakukan setiap kegiatan yang diinginkannya, tidak dididik dan diasuh dengan menerapkan peraturan-peraturan tertentu agar melatihnya menjadi disiplin dan bertanggung jawab. 

Hasilnya adalah anak-anak tidak akan pernah belajar untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri dan selalu mengharapkan untuk mendapatkan keinginan mereka. 

Beberapa orangtua sengaja membesarkan anak-anak mereka dengan cara ini, karena mereka percaya adanya keterlibatan rasa hangat dan beberapa batasan akan menghasilkan anak yang kreatif dan percaya diri. 

Namun, anak-anak yang orangtuanya permisif jarang belajar untuk menghormati orang lain dan mengalami kesulitan untuk mengendalikan perilaku mereka. 

2. Ciri-ciri pola asuh orangtua permisif

2. Ciri-ciri pola asuh orangtua permisif
Pexels/RODNAE Productions

Seorang anak dengan pola asuh permisif, diharapkan mereka dapat belajar mengendalikan dirinya sendiri tanpa ada keterlibatan dari orangtua. 

Orangtua juga menaruh ekspektasi anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif karena sudah terbiasa dalam mengekspresikan dirinya sendiri.

Namun sayangnya, orangtua permisif cenderung memanjakan anak serta jarangnya menuntut sesuatu dari anak mereka. 

Biasanya orangtua enggan memberikan batasan-batasan pada anak. Nah, apakah Mama termasuk orangtua dengan pola asuh permisif? Yuk, disimak ciri-cirinya.

  • Jarang memberikan hukuman pada anak

Umumnya dalam pola asuh permisif, orangtua sangat jarang memberikan hukuman atau menerapkan kedisiplinan anak jika melakukan sesuatu yang salah. 

Sementara, orangtua hanya berusaha tidak mempermasalahkan perilaku anak dengan hal lain. Biasanya ketika anak melakukan beberapa kesalahan anak akan diberikan hukuman, mungkin hanya hukuman ringan. 

Dan hukuman yang diberikan pun tidak menimbulkan efek jera pada anak, sehingga anak berpotensi mengulangi perbuatan buruknya. Karena anak bisa paham bahwa orangtuanya tidak akan terlalu keras dan marah pada mereka. 

Sehingga, jika dilihat oleh orang lain, mama malah seperti tidak memberikan tindakan sama sekali yang dapat mendisiplinkan perilaku anak.

  • Tidak menerapkan aturan yang tegas

Orangtua yang menerapkan pola asuh permisif bagi anak mereka, biasanya tidak memiliki peraturan yang ketat. Akibatnya, anak dapat bertindak semaunya dalam memilih apa yang diinginkannya. 

Misalnya seperti, anak tidak memiliki jam tidur tetap sampai ia bebas menonton televisi atau bermain dengan gadgetnya terus menerus. Dan juga anak bisa merasa bebas makan apa pun yang dia mau (meskipun kurang bergizi, misalnya). 

Apabila ada peraturan pun, seringkali orangtua menerapkannya secara tidak konsisten. Selain itu, jika orangtua meminta anak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan keinginannya, anak cenderung akan mengabaikannya.

  • Mengabaikan sifat kurang hormat dari anak

Pernahkah Mama membiarkan sang Anak marah dan tak jarang suka memukul? Atau pernahkah jika Mama memberikan kebebasan anak menangis berlebihan di muka umum?

Apabila jawabannya iya, berarti Mama menerapkan pola asuh permisif pada anak. Dengan gaya pengasuhan seperti ini, Mama akan lebih sering mengabaikan sifat anak yang kurang baik, sekalipun ia bertindak sangat tidak sopan. 

Hal ini disebabkan Mama yang selalu menganggap hal tersebut merupakan perilaku kekanak-kanakan yang tidak perlu diberikan koreksi. 

  • Memanfaatkan tindakan suap 

Selanjutnya, bagaimana jika anak Mama melakukan tindakan yang kurang baik di sekolahnya? Biasanya orangtua dengan tipe permisif jarang sekali untuk mengungkapkan kata tidak kepada anaknya. 

Mereka akan lebih memilih opsi untuk menyuap anak guna menghindari perilaku tidak baiknya ketimbang memberikan anak sebuah hukuman.

Misalnya seperti, saat anak menangis, orangtua kerap menjanjikan membelikan mainan apabila ia bisa berhenti menangis, dengan memberikan ia tawaran jajajanan, seperti permen, cokelat, es krim, dan lainnya. 

Editors' Pick

3. Dampak positif pola asuh permisif pada anak

3. Dampak positif pola asuh permisif anak
Pexels/olia danilevich

Pada pola asuh permisif, orangtua akan cenderung lebih mudah mengasuh anak karena kurangnya menerapkan aturan terhadap anak.

Jika anak mampu mengatur seluruh pemikiran, sikap, dan tindakannya dengan baik, maka kemungkinan kebiasaan baik yang diberikan oleh orangtua dapat dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas dan bakatnya, sehingga ia menjadi seorang individu yang dewasa, inisiatif, dan inovatif.

Dampak positif juga tergantung pada bagaimana anak dapat menyikapi sikap orangtua yang permisif. 

4. Dampak negatif pola asuh permisif pada anak

4. Dampak negatif pola asuh permisif anak
Pexels/Karolina Grabowska

Adapun dampak negatif dari gaya pola asuh permisif adalah anak dapat mengembangkan perasaan bahwa orangtuanya lebih mementingkan aspek lain dalam kehidupan daripada memikirkan anaknya. 

Oleh sebab itu, anak banyak yang kurang memiliki kontrol diri dan tidak dapat mengatasi kemandiriannya secara baik. Mereka memiliki harga diri yang rendah, tidak matang, dan mungkin bisa terisolasi dari keluarga. 

Pada saat remaja mereka akan memperlihatkan kenakalan. Anak jarang belajar menghormati orang lain dan memiliki kesulitan dalam mengendalikan tingkah laku mereka, biasanya anak menjadi lebih agresif dan dalam keluarga ucapan serta tindakannya lebih mendominasi. 

Anak dari orangtua yang permisif cenderung berperilaku manja, mudah marah, tidak mau berbagi dan belum bisa mandiri.  

5. Pengaruh buruk terhadap pola asuh permisif pada anak

5. Pengaruh buruk terhadap pola asuh permisif anak
Pexels/Tatiana Syrikova

Adapun orangtua yang permisif, biasanya tidak terlalu mengatur atau mengawasi anak-anaknya. Melansir dari beberapa penelitian dari Parents, sudah ditemukan bahwa anak-anak dengan orangtua yang permisif cenderung abai dengan pengendalian diri. 

Hal ini biasanya akan mengarah ke berbagai hasil yang buruk, lho, Ma. Berikut ada beberapa efek negatif dari pola asuh permisif. 

  • Anak kurang mampu mengatur dirinya sendiri

Dalam mengendalikan emosi memang bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, sehingga perasaan tersebut harus dipelajari saat tumbuh dan berkembang.

Sebab anak-anak dengan pola asuh permisif apabila dibiarkan mengatur aktivitas, perilaku, dan emosi sendiri di usianya yang masih muda, mereka akan lebih sulit mengatur dirinya sendiri. 

  • Keterampilan sosial yang buruk

Melansir dari studi yang juga menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan orangtuanya dengan pola asuh permisif cenderung memiliki sifat yang kurang empati.

Alhasil, si anak akan cenderung menunjukkan pada keterampilan sosial yang buruk. Bahkan, mereka biasanya menampilkan lebih banyak perilaku anti sosial dan cenderung menjadi bertindak semena-mena.

  • Anak cenderung impulsif dan agresif

Orangtua dengan pola asuh permisif ini tidak mampu mengontrol atau mengatur perilaku anak-anaknya.

Sehingga anak-anak mereka biasanya kurang menyadari adanya batas-batas perilaku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat sekitar.

Anak-anak juga menunjukkan pengendalian impulsif yang buruk dan berkaitan dengan lebih banyak masalah tentang perilaku. 

Apabila saat menghadapi kondisi stres, maka anak lebih cenderung menggunakan tubuh dan emosi mereka, sehingga menimbulkan sikap yang agresif dalam dirinya. 

  • Prestasi akademik yang menurun atau buruk

Kebanyakan orangtua yang permisif tidak begitu memantau kebiasaan belajar anak-anaknya. Hal tersebut, juga akan berakibat buruk pada anak sehingga ia menjadi anak yang kurang disiplin terhadap dirinya. 

Orangtua yang permisif juga tidak terlalu menuntut anak-anak mereka untuk berprestasi atau menentukan tujuan untuk diusahakan dan diperjuangkan oleh anak-anak mereka.

Studi pun mengemukakan bahwa anak-anak dari orangtua yang permisif cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih rendah. 

6. Cara mengubah pola asuh permisif pada anak

6. Cara mengubah pola asuh permisif anak
Pexels/Werner Pfennig

Jika para Mama sudah mulai menyadari bahwa pola asuh permisif ini malah memberikan dampak buruk pada anak-anak, mungkin Mama bisa mempertimbangkan lagi untuk mengubahnya. 

Ini bisa saja sulit dilakukan, karena Mama juga sudah terbiasa dengan menerapkan pola asuh ini begitu juga dengan anak-anak. 

Dengan mulai menerapkan beberapa aturan dan mampu mengatasi anak yang sedang dipenuhi rasa kesal dari awal, tentunya akan lebih membutuhkan tenaga ekstra ya, Ma. 

Melansir dari studi, terdapat beberapa strategi yang bisa Mama terapkan, di antaranya:

  • Lakukan dengan sikap tegas dan konsisten

Salah satu cara ini bisa menjadi sebuah perjuangan yang besar bagi orangtua yang memiliki pola asuh permisif, tetapi ini juga sangat penting dilakukan. Cobalah untuk tetap tegas dan konsisten, namun juga tetap berikan kasih sayang. 

Bantu anak belajar memahami mengapa adanya aturan seperti itu penting untuk dijalankan dengan memberikan mereka respon dan penjelasan yang jelas, tetapi juga tetap pastikan terdapat konsekuensinya. 

  • Menghargai setiap tindakan baik yang telah dilakukan anak

Coba membiasakan diri untuk memberikan anak-anak apresiasi jika melakukan hal baik. Contohnya, ketika mereka lebih tepat waktu pulang sekolah dan tidur, maka Mama bisa memberikannya pujian atau menghargai sesekali dengan beri hadiah yang bermanfaat seperti peralatan sekolah atau buku baru. 

  • Berikan daftar beberapa aturan dasar di rumah 

Agar anak mama tahu bagaimana mereka seharusnya berperilaku, maka anak perlu memahami dengan jelas apa saja keinginan dan harapan Mama saat mereka ada di rumah.

Demikian, pentingnya untuk menerapkan aturan-aturan dasar yang bisa mereka pahami dan juga dilaksanakan dengan baik tanpa ada paksaan untuk menjalankannya.

Misalnya, anak harus tahu kapan mereka boleh menonton televisi dan batasan waktu bermain handphone yang telah ditetapkan di awal supaya mereka terbiasa dengan kedisiplinan yang diterapkan oleh Mama. 

  • Pastikan anak sudah mengetahui selalu ada konsekuensi dari tindakan

Seluruh rangkaian aturan yang telah Mama buat akan menjadi tidak berguna kecuali terdapat konsekuensi apabila mereka melanggarnya. 

Adapun time-out dan kehilangan hak istimewa merupakan salah satu konsekuensi secara logis untuk melanggar aturan di dalam rumah.

Misalnya, anak kehilangan waktu bermain handphone karena mereka terlambat menyelesaikan tugas sekolah. 

Nah itulah informasi lengkapnya seputar dampak pola asuh permisif pada anak yang ternyata bisa berdampak buruk apabila tidak disertai kontrol pada anak. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk Mama dan Papa, ya!

Baca juga:

The Latest