Coba Ini Ma! 5 Cara Bikin Anak Lebih Berani dan Percaya Diri

Pernah coba cara nomor 3, Ma?

5 Januari 2019

Coba Ini Ma 5 Cara Bikin Anak Lebih Berani Percaya Diri
pxhere

Orangtua zaman now cenderung overprotective. Maklum saja, berita-berita tentang kejahatan terhadap anak begitu gencar. Dunia jadi terasa tidak nyaman dan aman buat mereka.

Sadarkah Mama jika ketakutan-ketakutan itu tergambar di setiap tindakan dan ucapan? Bahwa ketakutan itu menulari si Kecil sehingga mereka juga lebih was-was.

Keadaan ini membuat kebebasan mereka terkekang. Padahal, namanya juga anak-anak, perlu wadah untuk mengekspresikan diri dan tumbuh menjadi manusia yang berani menghadapi kerasnya dunia.

Popmama.com berikan 10 tips agar anak mama menjadi lebih berani.

1. Biarkan mereka menjelajah

1. Biarkan mereka menjelajah
pixabay/B3R3N1C3

Ciptakan level keamanan dan kenyamanan mama dan anak mama sejak mereka bayi. Biarkan, mereka menjelajah lingkungannya. Tentu saja, Mama harus melihat dan memperhitungkan sejauh mana si Anak bisa aman di lingkungannya itu.

Setiap anak memiliki level menjaga diri sendiri yang berbeda. Anak yang penurut, sekali dijelaskan mengenai potensi bahaya akan mengerti. Tetapi, anak yang penasaran, mungkin terpicu berbuat sesuatu untuk membuktikan kata-kata Mama. Misalnya, saat Mama melarang si Anak memasukan jari ke stop kontak. Anak yang ingin tahunya besar, mungkin malah akan dengan sengaja mencoba memasukan berbagai benda ke dalam lubang listrik.

Untuk anak tipe seperti ini, Mama perlu mengamankan mereka. Tutup lubang stop kontak dengan lakban atau penutup lain.  Setelah Mama mengamankan ruang jelajah anak, biarkan mereka menjelajah.

2.     Jangan banyak membantunya

2.     Jangan banyak membantunya
media.defense.gov

Saat membawa anak ke tempat bermain, mereka akan menemukan banyak sekali “rintangan” untuk menikmati tempat itu. Tahan diri Mama. Jangan membantunya untuk segala hal, misalnya saat ia berusaha memanjat seluncuran atau monkey bar.

Biarkan anak belajar menilai dirinya sendiri dalam situasi yang ia hadapi. Anak akan belajar berhati-hati dan mendorong dirinya sendiri untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Editors' Picks

3. Biarkan mereka jalan sendiri

3. Biarkan mereka jalan sendiri
pixabay/Vborodinova

Menemani mereka kemana pun dan menjadi back up mereka saat harus menghadapi orang lain, bukanlah tugas utama Mama. Tugas Mama adalah memberi kesempatan kepada anak mama untuk belajar “menghadapi” kehidupan.

Dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk berjalan sendiri, Mama telah membuka pintu untuk mereka menjadi ahli komunikasi, negosiator ulung, menjadi ahli strategi, dan mengasah keahlian mereka untuk “membaca” pikiran orang lain. Kesempatan itu juga membuat anak mama semakin percaya diri dan bisa menilai kemampuan dirinya sendiri.

4. Cukup 1 kali peringatan

4. Cukup 1 kali peringatan
c1.staticflickr

Mama tidak bisa memungkiri bahwa dunia penuh ancaman tetapi kekhawatiran tidak perlu selalu menjadi pokok bahasan utama dengan anak mama. Jika mereka butuh “keluar” rumah sendiri, beri peringatan satu kali saja. “Hati-hati di jalan”, sudah cukup membuat mereka waspada.

Penjelasan Mama yang panjang lebar tentang ketakutan-ketakutan Mama malah membuat mereka berpikir bahwa dunia tidak aman dan menyurutkan nyali mereka untuk menghadapinya. Ingat bahwa tak selamanya Mama ada di samping anak mama, lho.

5.     Belajar lewat contoh nyata

5.     Belajar lewat contoh nyata
maxpixel.freegreatpicture

Di surat kabar atau situs berita tidak kurang contoh nyata kisah kriminal. Setiap hari, pasti ada kejadian yang membuat Mama resah akan keselamatan keluarga mama. ABG mama pun mungkin mendengar berita-berita itu dari teman atau orang di sekitarnya.

Sebelum mereka membuat persepsi yang salah tentang sebuah peristiwa, Mama harus memberi pengertian. Bahaslah sebuah peristiwa dengan diskusi terbuka. Dengarkan pendapat si Anak kemudian luruskan pandangan yang salah, yang mungkin telah didengar anak mama dari lingkungannya. Tanamkan nilai-nilai keluarga di dalam diskusi. Contoh nyata membuat mereka lebih mudah membayangkan sebuah peristiwa.

Selamat berdiskusi!

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!