Bukan Dikejar, Lakukan Hal Berikut Ketika Anak Ingin Kabur dari Rumah!

Ada masa tumbuh kembang yang membuat sebagian besar anak ingin kabur dari rumah. Ini cara menghadapi

16 Februari 2020

Bukan Dikejar, Lakukan Hal Berikut Ketika Anak Ingin Kabur dari Rumah
todaysparent.com

Pada usia 6 tahun hingga remaja, anak-anak mulai merasa bahwa dirinya sudah dewasa dan sulit diatur. Maka dari itu, tak jarang jika di usia tersebut, Mama seringkali beradu pendapat dengan anak.

Hal tersebut tak jarang membuat anak berpikir untuk kabur dari rumah. Penyebabnya pun bisa dari segala aspek.

Mulai dari rasa iri Si Sulung terhadap Si Bungsu karena merasa bahwa kasih sayang Mama kepada mereka telah terbagi, hingga karakter sensitif yang anak miliki, sehingga ia lebih mudah tersinggung dan memutuskan untuk pergi dari rumah.

Mengatasi anak yang sensitif bukanlah hal yang mudah, pasalnya Mama harus lebih berhati-hati dalam berucap dan memastikan bahwa  penyampaian tersebut tidak membuatnya sakit namun tetap terkesan tegas.

Selain hal tersebut, masih ada begitu banyak faktor yang dapat menyebabkan anak-anak memutuskan untuk pergi dari rumah. 

Namun yang menjadi pertanyaan, apa yang harus Mama lakukan ketika anak berencana untuk kabur dari rumah?

Bukan dikejar dan dimarahi ya Ma! 

Nah, agar sikap anak yang satu ini dapat ditangani dengan tepat, maka berikut Popmama.com merangkum 7 tahapan yang perlu Mama lakukan ketika anak berencana untuk kabur dari rumah.

Perhatikan dan terapkan padanya ya, Ma!

1. Apapun yang terjadi, peluk erat anak mama

1. Apapun terjadi, peluk erat anak mama
parentmap.com

Ketika menemukan anak mama berkemas dan berencana untuk pergi dari rumah akibat masalah yang sebelumnya ia hadapi dengan Mama atau saudaranya, maka yang perlu dilakukan bukanlah memarahinya.

Justru dengan memarahinya, hasratnya untuk pergi dari rumah akan semakin kuat.

Maka dari itu, langkah pertama yang harus Mama lakukan adalah dengan memeluknya atau apapun yang membuatnya nyaman dan merasa terlindungi.

Jika ia sedikit memberontak, biarkan saja karena nantinya ia pasti akan berhenti memberontak ketika sudah merasa nyaman dalam pelukan Mama.

2. Biarkan ia menangis hingga puas

2. Biarkan ia menangis hingga puas
videoblocks.com

Ketika sudah merasa nyaman, biasanya ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi untuk menangis.

Jika sudah begitu, biarkan ia untuk menangis sepuasnya ya, Ma. Biarkan ia untuk menyalurkan ekspresi yang tertahan agar lebih lega nantinya.

Namun jika ia menangis terlalu lama, Mama perlu menghentikannya karena hal tersebut justru tidak membuatnya menjadi anak yang kuat mental.

Menangislah secukupnya, jangan terlalu lama, namun juga jangan melarangnya untuk tidak mengekspresikan dirinya.

3. Ajak ia pergi makan di luar untuk menghiburnya sekaligus memberikan penjelasan

3. Ajak ia pergi makan luar menghibur sekaligus memberikan penjelasan
tripsavvy.com

Ketika Mama rasa kondisi emosionalnya sudah lebih baik, maka ajaklah ia keluar dari rumah bersama untuk sekedar mengobrol dan makan makanan favoritnya.

Bukan hanya dapat menghibur keresahan hatinya, dengan kulitas komunikasi yang baik maka bukan tidak mungkin jika nantinya ia tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Puaskanlah dulu perutnya dengan makanan yang ia sukai, jika sudah cukup, mulailah pembicaraan ringan antara Mama dan dirinya.

Buat ia senyaman mungkin dengan pertanyaan Mama, posisikan diri Mama menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi pendapatnya.

Editors' Picks

4. Ketika suasana membaik, tanya alasan mengapa ia ingin pergi dari rumah

4. Ketika suasana membaik, ta alasan mengapa ia ingin pergi dari rumah
pinterest.co.uk

Pertanyaan pertama yang dapat Mama tanyakan padanya adalah bagaimana perasaannya saat ini? Lalu, mulailah bertanya mengenai alasan mengapa ia ingin pergi dari rumah.

Setelah itu, coba tanyakan padanya siapa yang membuatnya berpikir bahwa pergi dari rumah akan menyelesaikan semua masalah?

Ajukanlah pertanyaan sebanyak mungkin agar Mama mengetahui karakter sang Anak dan nantinya Mama dapat tahu bagaimana cara mengatasi sikapnya.

5. Berikan penjelasan secara detail dan mudah dimengerti

5. Berikan penjelasan secara detail mudah dimengerti
autisticnotweird.com

Setelah Mama memberikan pertanyaan dan telah terjawab pula olehnya, maka inilah saatnya Mama memberikan penjelasan padanya mengapa Mama bersikap demikian.

Jelaskan padanya sedetail mungkin dan pastikan juga ia dapat mengerti tentang apa yang Mama bicarakan.

Untuk memastikannya, Mama bisa bertanya padanya apakah ia mengerti atau tidak.

6. Mencari solusi dan saling berjanji untuk introspeksi diri

6. Mencari solusi saling berjanji introspeksi diri
benmvp.com

Jika sudah mengetahui alasan dari masing-masing pihak, maka sudah tugas Mama untuk memberikan win-win solution baginya dan Mama.

Jangan lupa juga untuk introspeksi diri, karena mungkin saja tidak semua kesalahan ada pada anak, tapi juga pada Mama.

Begitu pula dengannya, jangan ragu untuk menyuruhnya untuk introspeksi diri.

Jika sudah saling introspeksi diri, saling memafkan satu sama lain merupakan hal yang perlu dilakukan meskipun sering kali disepelekan.

7. Buat peraturan tertulis jika diperlukan

7. Buat peraturan tertulis jika diperlukan
mustlovedust.com

Agar tidak terulang untuk kedua kalinya, maka jika diperlukan, Mama dapat membuat peraturan tertulis yang tegas dan sudah ia setujui sebelumnya.

Jadi, jika ia melakukannya lagi, Mama bisa dengan jelas memberikan bukti tertulis padanya, begitu juga jika Mama yang melakukan kesalahan.

Nah, itulah tujuh langkah mudah yang dapat Mama lakukan untuk mengatasi sikap anak ketika ia memutuskan untuk pergi dari rumah.

Kunci utama pastinya tidak panik kemudian memarahinya ya, Ma! Berpikirlah dampak apa yang akan terjadi jika Mama tidak memperlakukannya dengan baik.

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.