7 Ucapan Rahasia Tak Terucap Anak, Orangtua Wajib Tahu

- "Aku takut tak cukup pintar dibandingkan anak lain" Anak sering merasa tidak sebanding dengan prestasi teman sebayanya, dan terlalu banyak pujian pada orang lain membuat mereka merasa kurang dihargai.
- "Tolong pahamiku" Anak butuh lebih dari sekadar didengar, mereka ingin merasa dipahami dan diterima oleh orangtua dalam setiap situasi.
- "Terkadang aku tidak tahu mengapa merasa tersisih" Masa transisi remaja penuh dengan emosi bingung, dan kehadiran orangtua sangat penting untuk membantu mereka melewati masa sulit ini.
Di balik setiap tawa, rengekan, dan sikap diam anak, sering kali tersembunyi perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Beragam faktor seperti kekecewaan atau tidak merasakan kasih sayang yang cukup sering kali menjadi pemicu di balik sifat mereka yang berubah, atau biasa disebut sebagai withdrawal emosional.
Suatu kondisi di mana seseorang, secara sadar maupun tidak sadar, membangun "tembok" dan menarik diri dari interaksi emosional dengan orang lain.
Tentu hal ini sangat tidak diinginkan oleh orangtua, bukan? Berikut Popmama.com telah merangkum ucapan rahasia tak terucap anak yang perlu Mama tahu
Table of Content
1. "Aku takut tak cukup pintar dibandingkan anak lain"

Di balik wajah yang tampak tenang atau bahkan sikap yang terlihat acuh tak acuh, anak kerap kali, menyimpan kecemasan mendalam bahwa mereka adalah "produk gagal" hanya karena tidak memiliki prestasi yang sama dengan teman sebayanya.
Tanpa disadari, anak sering melakukan pengamatan tajam terhadap cara orangtua bereaksi saat melihat pencapaian anak lain.
Terutama ketika kita terlalu antusias memuji bakat orang lain, anak sering kali menerjemahkannya sebagai: "Aku belum cukup baik untuk membuat Mama dan Papa bangga."
2. "Tolong pahamiku"

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas keterikatannya dengan kebutuhan untuk memahami dan dipahami.
Ahli psikologi, Carl Rogers, menilai bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa dipahami dan diterima satu sama lain.
Namun, dalam kehidupan parenting, kerap kali hal tersebut terlihat berbeda. Bagi anak, didengarkan bukan sebatas orangtua mendengar kata-kata yang diucapkan saja, melainkan tentang merasa dipahami dan diterima.
3. "Terkadang aku tidak tahu mengapa merasa tersisih"

Masa transisi anak, sering kali dipenuhi dengan dinamika emosi yang membingungkan. Perasaan tidak dianggap atau ditinggalkan oleh lingkungan pertemanan, bisa muncul kapan saja tanpa alasan yang jelas bagi mereka.
Sebagai orangtua, kehadiran Mama menjadi kunci utama untuk membantu mereka melewati masa sulit ini dengan penuh kasih sayang.
4. "Tolong dengarkan aku tanpa langsung menasihati"

Sering kali, saat anak mulai bercerita tentang masalah yang mereka alami, reaksi pertama kita sebagai orangtua adalah segera memberikan jalan keluar.
Padahal, bagi anak, kebutuhan merasa untuk merasa tervalidasi jauh lebih besar daripada kebutuhan untuk mendapatkan solusi instan. Mereka tidak selalu mencari jawaban.
Terkadang, mereka hanya ingin semua tumpukan perasaan di hatinya terdengar sampai tuntas agar mereka merasa benar-benar berharga.
5. “Aku ingin dicintai apa adanya”

Dahulu peribahasa mengatakan, “Cinta tumbuh karena terbiasa,” namun pada kenyataannya hal tersebut tidak selalu benar dalam hubungan antara orangtua dan anak.
Lebih dari sekadar mainan atau hadiah, seorang anak sebenarnya, mendambakan bentuk cinta yang konsisten dan stabil.
Mereka ingin merasa aman, dalam pelukan kita dan meyakini bahwa kehadiran mereka di dunia ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Mama bahagia.
6. “Aku sedang belajar, dan wajar jika melakukan kesalahan”

Mempunyai anak yang berprestasi merupakan kebanggaan tersendiri untuk setiap orangtua. Namun, bagi anak, proses belajar tidak selalu berjalan mulus.
Psikolog dan epistemolog genetik, Jean Piaget, menegaskan bahwa anak belajar melalui proses trial and error. Kesalahan biasa terjadi ketika anak sedang menyesuaikan pemahaman lama dengan pengalaman baru yaitu assimilation serta accommodation.
Kesalahan bukan selamanya berarti buruk lho, ma, justru hal tersebut merupakan bentuk dari bagian tumbuh kembang anak.
7. “Aku sedih tak diajak bermain”

Bagi seorang anak, dunia pertemanan adalah cerminan dari harga diri mereka yang sedang tumbuh. Di fase ini, bermain bersama teman bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang saja, melainkan bagian krusial dari pencarian identitas mereka.
Mama dapat membantu anak memahami bahwa dinamika pertemanan memang terkadang pasang surut dan rasa tersisih tersebut adalah emosi yang valid, bukan penentu nilai diri mereka yang sebenarnya.
Itulah 7 ucapan rahasia tak terucap anak yang Mama wajib tahu di rumah, mari terus belajar menjadi rumah yang paling nyaman untuk segala rahasia yang mereka simpan.


















