Marak Kekerasan pada Anak, Ini 7 Tips Memilih Pengasuh yang Tepat

- Kasus kekerasan anak oleh pengasuh di Bandung memicu perhatian publik akan pentingnya seleksi ketat dalam memilih pengasuh yang aman dan berintegritas.
- Artikel menekankan langkah penting seperti wawancara mendalam, pengecekan latar belakang, masa percobaan, serta penggunaan CCTV untuk memastikan keamanan anak.
- Ditekankan pula pentingnya komunikasi terbuka dengan anak agar orangtua dapat mengenali tanda-tanda ketidaknyamanan atau potensi kekerasan sejak dini.
Belakangan ini, sedang marak kasus kekerasan anak yang dilakukan oleh pengasuhnya sendiri. Salah satunya adalah peristiwa yang terjadi di kota Bandung pada Februari 2026 lalu.
Seorang ART berinisial RR (47) tega melakukan penganiayaan terhadap anak majikanya sendiri. Dalam rekaman CCTV yang beredar, RR memukul balita tersebut hingga keluar darah dari hidungnya.
Maka dari itu, penting sekali untuk mengetahui tips memilih pengasuh yang tepat agar anak tidak menjadi korban kekerasan ketika sedang tidak bisa diawasi oleh orangtua.
Simak informasi selengkapnya telah Popmama.com siapkan mengenai tips memilih pengasuh yang tepat.
Table of Content
Tips Memilih Pengasuh yang Tepat agar Tidak Salah Pilih
1. Lakukan seleksi dan wawancara mendalam

Memilih pengasuh sebaiknya dimulai dari proses seleksi yang serius, bukan sekadar berdasarkan rekomendasi singkat atau kebutuhan mendesak.
Wawancara menjadi tahap penting untuk mengenal calon pengasuh secara lebih personal. Dalam sesi wawancara, ajukan pertanyaan yang menggali pengalaman nyata, seperti bagaimana cara mereka menghadapi anak yang tantrum atau menolak makan.
Pertanyaan seperti ini membantu orangtua melihat cara berpikir dan pendekatan pengasuh dalam situasi sehari-hari. Selain itu, perhatikan cara mereka menjawab.
Pengasuh yang berpengalaman biasanya mampu menjelaskan dengan tenang dan masuk akal. Dari sini, orangtua bisa menilai apakah calon pengasuh memiliki kesabaran dan empati yang dibutuhkan.
2. Cek latar belakang dan referensi

Memastikan latar belakang calon pengasuh adalah langkah yang tidak boleh dilewatkan. Informasi mengenai pengalaman kerja sebelumnya bisa menjadi gambaran penting mengenai kualitas dan kredibilitasnya.
Mintalah kontak keluarga yang pernah menggunakan jasanya. Dengan menghubungi langsung, orangtua bisa mendapatkan informasi yang lebih jujur, termasuk kelebihan dan kekurangan calon pengasuh tersebut.
Langkah ini memang membutuhkan usaha lebih, tetapi sangat penting untuk meminimalkan risiko. Dengan mengetahui rekam jejaknya, orangtua bisa merasa lebih tenang saat mempercayakan anak kepada orang lain.
3. Perhatikan sikap dan kepribadian

Selain keterampilan, kepribadian pengasuh memegang peranan besar dalam tumbuh kembang anak. Anak membutuhkan sosok yang hangat, sabar, dan mampu memberikan rasa aman secara emosional.
Saat proses perkenalan, perhatikan bagaimana calon pengasuh berinteraksi dengan anak. Apakah ia terlihat ramah, responsif, dan penuh perhatian, atau justru canggung dan kurang peduli.
Sikap kecil seperti cara berbicara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh bisa memberikan banyak petunjuk. Orangtua sebaiknya memilih pengasuh yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki ketulusan dalam merawat anak.
4. Pilih yang memiliki pengalaman atau pelatihan

Pengasuh yang memiliki pengalaman biasanya lebih siap menghadapi berbagai situasi. Mereka cenderung memahami kebutuhan anak sesuai usia dan mampu bertindak lebih sigap dalam kondisi tertentu.
Pengalaman juga membantu pengasuh dalam mengelola emosi, baik emosi diri sendiri maupun anak. Hal ini penting untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan, terutama saat menghadapi anak yang sulit diatur.
Selain pengalaman, pelatihan seperti pertolongan pertama atau dasar pengasuhan anak menjadi nilai tambah. Pengasuh dengan bekal ini umumnya lebih percaya diri dan mampu memberikan penanganan yang tepat saat dibutuhkan,
5. Terapkan masa percobaan terlebih dahulu

Memberikan masa percobaan adalah langkah bijak sebelum mengambil keputusan jangka panjang. Ini menjadi kesempatan bagi orangtua untuk melihat langsung bagaimana pengasuh bekerja dalam keseharian.
Selama masa ini, perhatikan bagaimana pengasuh beradaptasi dengan rutinitas rumah dan kebutuhan anak. Apakah ia mampu mengikuti arahan dengan baik atau justru kesulitan menyesuaikan diri.
Masa percobaan juga memberi ruang untuk evaluasi dua arah. Jika dirasa kurang cocok, orangtua masih memiliki waktu untuk mencari alternatif lain tanpa terburu-buru.
6. Pasang pengawasan tambahan

Pengawasan tambahan seperti CCTV bisa menjadi alat bantu untuk memastikan keamanan anak. Ini bukan soal ketidakpercayaan, melainkan bentuk perlindungan ekstra di rumah.
Dengan adanya pengawasan, orangtua bisa memantau aktivitas anak dan pengasuh kapan saja. Hal ini juga membantu mendeteksi potensi masalah sejak dini sebelum menjadi hal yang lebih serius.
Lingkungan yang terpantau juga cenderung lebih aman bagi semua pihak, termasuk sebagai upaya menjauhkan anak dari kekerasan oleh pengasuh sendiri.
7. Jangan ragu tanyakan pendapat anak

Ada kalanya, anak sering kali memberikan sinyal tentang kenyamanan atau ketidaknyamanan mereka terhadap pengasuh.
Oran tua bisa mulai dengan pertanyaan sederhana, seperti “Hari ini ngapain aja sama mbak?” atau “Senang nggak main sama mbak ?” Pertanyaan ringan seperti ini membantu anak bercerita tanpa merasa tertekan atau diinterogasi.
Jika anak terlihat enggan, takut, atau memberikan jawaban yang tidak konsisten, jangan diabaikan. Perubahan sikap seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau tidak mau ditinggal juga bisa menjadi tanda adanya masalah.
Penting untuk membangun kebiasaan komunikasi terbuka sejak dini bersama anak. Dengan begitu, anak merasa aman untuk bercerita apa pun yang mereka alami, termasuk jika ada perlakuan yang membuatnya tidak nyaman saat bersama pengasuh.
Demikian tips memilih pengasuh yang tepat. Semoga bisa membantu Mama agar tidak salah pilih dalam memilih pengasuh untuk anak ya.


















