Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Tips Agar Anak Mau Makan Sayur, Terapkan sejak MPASI!

Tips Agar Anak Mau Makan Sayur, Terapkan sejak MPASI!
Freepik/senivpetro
Intinya Sih
  • Pengenalan sayur sejak masa MPASI penting karena membentuk preferensi makan si Kecil dan memudahkan mereka menerima rasa sayur yang tidak semanis buah atau segurih daging.

  • Kebiasaan makan sayur sejak kecil membantu si Kecil menjadikan sayur sebagai bagian normal dari pola makan hingga dewasa tanpa perlu paksaan.

  • Jika Mama rutin makan dan menyajikan sayur, si Kecil akan meniru kebiasaan tersebut dan lebih terbuka terhadap makanan sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mama mungkin sedikit merasa frustasi karena si Kecil sangat pemilih dalam hal makanan. Si Kecil hanya mau makan itu-itu saja dan menolak mencoba makanan baru yang ditawarkan.

Sebenarnya, Ma, selera makan si Kecil terbentuk dari pola dan kebiasaan sejak mereka masih sangat kecil. Bukan karena si Kecil yang nakal atau sengaja menyusahkan Mama.

Memahami bagaimana preferensi makanan si Kecil terbentuk akan membantu Mama mengatasi masalah ini dengan pendekatan yang lebih tepat. Berikut Popmama.com rangkum alasan dan tips agar si Kecil mau makan sayur!

Table of Content

1. Kenalkan sayur sejak masa MPASI

1. Kenalkan sayur sejak masa MPASI

Bayi makan MPASI
Freepik

Pengenalan makanan sejak masa MPASI (Makanan Pendamping ASI) ternyata sangat berpengaruh pada preferensi makan si Kecil di masa depan.

Untuk itu, Mama bisa mengenalkan sayur terlebih dahulu saat memulai MPASI. Hal ini dilakukan karena sayur cenderung lebih sulit disukai oleh si Kecil karena rasanya yang tidak semanis buah atau segurih daging.

Jika si Kecil sudah terbiasa dengan rasa manis dari buah atau rasa gurih dari daging sejak awal, mereka akan lebih sulit menerima sayur yang rasanya lebih hambar atau bahkan pahit.

Setelah sayur sudah dikenalkan dan si Kecil mulai terbiasa, baru kemudian dikenalkan protein seperti daging, ayam, atau ikan. Protein ini biasanya lebih mudah diterima si Kecil karena tekstur dan rasanya yang lebih menggugah selera.

Buah sebaiknya dikenalkan terakhir setelah si Kecil sudah terbiasa dengan sayur dan protein. Meski buah sehat, rasa manisnya yang kuat bisa membuat si Kecil kurang tertarik dengan sayur yang rasanya lebih hambar.

2. Biasakan makan sayur sejak kecil

Anak perempuan memegang brokoli
Freepik

Tujuan dari pengenalan sayur sejak dini adalah agar kebiasaan makan sayur ini terbawa hingga si Kecil dewasa. Anak yang terbiasa makan sayur akan terus makan sayur karena sudah menjadi bagian dari pola makan normal mereka.

Sayur yang sudah familiar sejak kecil tidak akan ditolak saat si Kecil sudah besar. Mereka tidak perlu dipaksa atau dibujuk karena sayur sudah menjadi comfort food mereka, bukan makanan asing yang harus dihindari.

Kebiasaan baik yang dibentuk sejak kecil jauh lebih mudah dipertahankan daripada mencoba mengubah kebiasaan buruk yang sudah terlanjur terbentuk. Anak yang sejak kecil jarang makan sayur akan sangat sulit diajak makan sayur saat sudah besar.

Anak yang terbiasa makan sehat sejak kecil juga akan membawa kebiasaan ini saat mereka sudah mandiri dan membuat keputusan sendiri tentang makanan mereka. Mereka akan langsung memilih makanan sehat karena itulah yang familiar dan nyaman bagi mereka.

3. Sajikan sayur dengan cara yang menarik

Bekal lucu untuk anak
Freepik

Cara penyajian juga berpengaruh besar terhadap minat si Kecil pada sayur. Sayur yang disajikan dengan tampilan menarik cenderung lebih mudah diterima oleh si Kecil.

Mama bisa mencoba memotong sayur dengan bentuk lucu, mengombinasikan warna, atau menyajikannya bersama makanan favorit si Kecil agar terlihat lebih menggugah selera.

Mengajak si Kecil menyiapkan makanan juga bisa membantu meningkatkan minat mereka. Si Kecil lebih mau mencoba makanan yang mereka bantu pilih atau siapkan sendiri.

4. Anak belajar dari lingkungan sekitar

Anak memegang apel
Freepok

Anak tidak lahir dengan preferensi makanan yang sudah terbentuk. Mereka tidak lahir langsung suka mie instan dan benci brokoli. Semua preferensi ini dipelajari dari lingkungan mereka.

Apa yang tersedia di rumah akan menjadi standar makanan normal bagi si Kecil. Jika di rumah selalu ada sayuran di meja makan, si Kecil akan menganggap sayur adalah bagian normal dari makanan.

Sebaliknya, Jika di rumah jarang ada sayur dan lebih banyak makanan olahan atau junk food, si Kecil akan menganggap itulah makanan normal. Mereka akan mencari makanan seperti itu karena sudah familiar.

Apa yang Mama dan Papa makan juga sangat berpengaruh. Jika mereka melihat Mama dan Papa makan sayur dengan lahap, mereka akan tertarik untuk mencoba juga.

Tapi, jika si Kecil tidak pernah melihat Mama dan Papa tidak makan sayur, atau bahkan mendengar Mama dan Papa mengeluh tentang sayur, mereka belajar bahwa sayur itu sesuatu yang negatif.

5. Bukan soal suka tapi soal pengenalan

Anak mengupas kacang panjang
Freepik

Mama mungkin berpikir bahwa si Kecil menolak makanan karena mereka tidak suka rasanya. Padahal seringkali si Kecil bahkan belum pernah mencoba makanan tersebut dengan benar untuk bisa tahu apakah mereka suka atau tidak.

Penolakan si Kecil terhadap makanan baru lebih sering karena mereka tidak kenal dengan makanan tersebut. Otak mereka belum punya referensi apakah makanan ini aman, enak, atau layak dimakan.

Anak tidak bisa langsung menilai apakah mereka suka sayur bayam jika mereka tidak pernah dikenalkan dengan bayam sejak awal. Yang mereka tahu hanya bahwa bayam itu asing dan berbeda dari makanan biasa mereka.

Maka dari itu, selera makan anak sering bukan soal preferensi tetap, tapi soal apa yang pernah dikenalkan ke mereka sejak awal.

Jika Mama menyerah setelah penolakan pertama dan tidak pernah menawarkan lagi, si Kecil tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengenal makanan tersebut. Penolakan akan terus berlanjut.

6. Preferensi makan terbentuk dari pola berulang

Sayur dan junk food
Freepik

Selera makan anak tidak muncul begitu saja secara tiba-tiba. Preferensi mereka terhadap makanan tertentu terbentuk setelah melihat dan makan sayur berulang sejak mereka masih sangat kecil.

Jika sejak kecil sudah terbiasa dengan makanan tertentu, otak akan menganggap makanan itu sebagai pilihan yang familiar dan aman. Semakin sering mereka makan sesuatu, semakin besar kemungkinan mereka akan terus mencarinya.

Sebaliknya, makanan yang jarang atau tidak pernah diberikan akan tetap asing di mata dan lidah si Kecil. Meski makanan tersebut sebenarnya enak, si Kecil akan menolak karena tidak pernah terbiasa.

Pola berulang ini juga berlaku untuk rasa, tekstur, dan bahkan cara penyajian makanan.

7. Anak menolak makanan yang tidak dikenal

Anak memegang donat
Freepik

Penolakan terhadap makanan baru sebenarnya adalah respons alami dari otak si Kecil. Mereka cenderung waspada terhadap hal-hal yang tidak familiar, termasuk makanan yang belum pernah mereka lihat atau cicipi sebelumnya.

Penolakan ini terjadi karena mereka butuh waktu dan dikenalkan kembali untuk mulai menerima makanan baru sebagai sesuatu yang aman dan enak.

Otak anak bekerja dengan prinsip yang sederhana, mereka suka yang familiar karena mereka merasa lebih aman dan nyaman dengan hal-hal yang sudah dikenal.

Fenomena ini disebut familiarity effect. Semakin sering si Kecil melihat sesuatu, semakin besar kemungkinan mereka akan menyukainya, meski awalnya biasa saja atau bahkan tidak suka.

Efek ini tidak hanya berlaku untuk makanan, tapi juga untuk musik, warna, atau apapun. Tapi dalam konteks makanan, familiarity effect sangat kuat pengaruhnya terutama pada anak kecil.

Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, si Kecil bisa belajar bahwa sayur bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari makanan sehari-hari. Apakah si Kecil di rumah juga masih sulit makan sayur, Ma?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More