Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak dengan Komorbid Wajib Waspada Hantavirus, Ini Penjelasan IDAI

Anak dengan Komorbid Wajib Waspada Hantavirus, Ini Penjelasan IDAI
Magnific/wirestock

Belakangan ini, pemberitaan soal hantavirus mulai ramai dan sempat meresahkan masyarakat tanah air.

Terlebih lagi, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengungkapkan telah menemukan empat kasus di ibu kota sepanjang 2026.

Dari keempat kasus tersebut, tiga orang dinyatakan sudah sembuh dengan gejala ringan, sementara satu orang lainnya masih berstatus suspek dan menunggu penegakan diagnosis lewat laboratorium.

Kepala Dinkes DKI Ani Ruspitawati pun menegaskan bahwa hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru dan sudah lama dimonitor. Namun, masyarakat tetap diminta waspada akan penyebarannya.

Menanggapi situasi ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan perhatian khusus pada risiko infeksi pada anak.

Meski penyebaran pada anak terbilang sedikit, tapi anak dengan komorbid atau gangguan organ memiliki risiko lebih berat jika terpapar hantavirus.

Untuk mengetahui penjelasan selengkapnya sebagai panduan Mama dan Papa agar lebih waspada., berikut Popmama.com rangkumkan dari berbagai sumber.

1. Kasus pada anak jauh lebih sedikit, tapi remaja lebih rentan

demam.jpg
Magnific/stockking

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, dalam paparannya menjelasan bahwa jumlah kasus hantavirus pada anak jauh lebih kecil dibandingkan pada orang dewasa.

Angkanya hanya sekitar 3-10 persen dari kasus dewasa. Namun, bukan tidak menutup kemungkinan virus ini bisa menyebar pada anak-anak, karena lebih banyak ditemukan pada kelompok remaja, bukan pada balita atau anak usia dini.

Gejala yang muncul dari hantavirus ini juga umumnya mirip dengan orang dewasa, Ma. Bisa dimulai dari demam yang disertai nyeri kepala, nyeri otot, lemas, hingga penurunan trombosit.

2. Gejalanya mirip DBD, perlu cek lab untuk memastikan

demam termometer.jpg
Magnific/freepik

Dominicus juga menambahkan bahwa kemiripan gejala virus ini dengan demam berdarah (DBD) menjadi tantangan tersendiri dalam diagnosis hantavirus.

Keduanya sama-sama bisa menyebabkan demam dan penurunan trombosit, sehingga sulit dibedakan hanya dari gejala klinis saja. Itulah mengapa diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pastinya.

Kalau anak alami demam yang disertai nyeri otot, Mama jangan langsung berasumsi bahwa anak pasti terkena DBD, ya.

Terlebih jika ada riwayat paparan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi tikus, gejala ini perlu diwaspadai sebagai deteksi dini hantavirus, Ma.

3. Bisa berdampak pada ginjal

pemeriksaan kesehatan.jpg
Magnific/freepik

Lebih lanjut, Dominicus juga menambahkan dalam paparannya bahwa hantavirus dapat menyerang organ yang berbeda tergantung jenis variannya.

Varian yang banyak ditemukan di Amerika, seperti virus Andes, biasanya menyebabkan gangguan berat pada paru-paru hingga sesak napas seperti waktu Covid-19 lalu, Ma.

Sementara varian yang lebih sering ditemukan di Eropa dan Asia, termasuk wilayah Indonesia, umumnya lebih berdampak pada ginjal.

Pada kondisi ini, penurunan fungsi ginjal menjadi yang paling nyata, dan pasien dapat mengalami kondisi berat hingga membutuhkan cuci darah.

4. Anak dengan komorbid harus ekstra waspada

pencegahan virus.jpg
Magnific/wirestock

Anak dengan komorbid, terutama yang memiliki gangguan sistem imun atau gangguan organ termasuk ginjal, harus lebih diwaspadai, Ma.

IDAI dalam paparannya mengingatkan para orangtua yang anaknya punya masalah pada fungsi ginjal dan terkena hantavirus, kondisinya akan lebih cepat memberat dan derajat keparahannya lebih tinggi.

Meski yang diperingati untuk lebih waspada adalah anak dengan komorbid, kondisi berat juga bisa menyerang pada siapa saja tanpa komorbid, Ma.

Sebagaimana pemberitaan pada kasus pasangan asal Belanda dalam insiden kapal MV Hondius, yang mana keduanya tampak tidak memiliki penyakit penyerta.

Dengan begitu, bisa diartikan bahwa kewaspadaan kita sebagai orangtua tetap diperlukan untuk semua anak, terlebih anak dengan risiko kesehatan tertentu.

5. Tips pencegahan hantavirus yang bisa orangtua lakukan

menjaga kebersihan rumah.jpg
Magnific/freepik

Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati juga menambahkan bahwa penularan hantavirus umumnya berasal dari tikus ke manusia, melalui air liur, air seni, atau kotoran tikus yang mencemari lingkungan.

Ketika kotoran tersebut mengering dan terhirup manusia, virus dapat masuk ke dalam tubuh. Itulah mengapa masyarakat diimbau tetap melakukan pencegahan sederhana untuk seluruh keluarga di rumah.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan membersihkan rumah secara rutin, terutama area yang jarang tersentuh seperti gudang, loteng, atau belakang lemari yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Ketika akan membersihkan area yang diduga menjadi kotoran tikus, pastikan untuk Mama dan Papa selalu menggunakan masker dan sarung tangan, serta menyemprotkan area tersebut dengan disinfektan.

Selain kebersihan lingkungan rumah, perhatikan juga penyimpanan makanan agar diletakkan pada wadah tertutup agar tidak menarik perhatian tikus.

Yang tak kalah penting, ajarkan anak untuk selalu mencuci tangan setelah bermain di luar rumah dan sebelum makan, serta segera konsultasikan ke dokter jika anak mengalami demam disertai nyeri otot tanpa sebab yang jelas.

Jangan panik, tapi tetap waspada ya, Ma, karena pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More

Anak dengan Komorbid Wajib Waspada Hantavirus, Ini Penjelasan IDAI

19 Mei 2026, 16:15 WIBKid