10 Tips Mendukung Pengembangan Karakter Anak Usia Dini

Anak memiliki kepribadian yang unik sejak lahir, namun lingkungan di tempat anak dibesarkan juga memainkan peran utama dalam membentuk kepribadian anak. Orangtua memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik si Kecil dalam mengembangkan ciri kepribadian yang positif.
Ada banyak aspek dalam kepribadian anak, mulai dari kepercayaan diri, keberanian, dan harga diri hingga cara anak memperlakukan dan menghormati orang lain. Antara usia tiga sampai enam tahun, Mama bisa melihat kepribadian anak berkembang.
Usia tersebut menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan anak beberapa nilai dan praktik yang menjadikannya individu yang positif. Apa saja langkah yang tepat untuk mengembangkan karakter atau kepribadian anak?
Kali ini Popmama.com akan membahas 10 tips yang membantu pengembangan karakter anak menjadi lebih positif:
1. Hindari memberikan label pada anak

Kata-kata orangtua dapat menciptakan perilaku anak. Ketika Mama memutuskan untuk mencap atau memberi label pada anak untuk perilaku tertentu, secara tidak sadar Mama membuat anak percaya bahwa ia memang seperti itu.
Memberi label juga menutup pilihan anak untuk mengoreksi diri sendiri. Hal ini dapat menyebabkan harga diri anak yang rendah, dan anak mungkin akan tetap melanjutkan perilakunya tersebut ketika sedang bersama orang lain di sekitarnya.
Sehingga, ingatlah untuk selalu berhati-hati dengan perkataan Mama, terutama saat mengoreksi kesalahan anak.
2. Jadilah pendengar yang baik

Beberapa perilaku si Kecil terkadang bermula dari ingin mendapatkan perhatian, hal ini wajar bagi seorang anak yang mendambakan perhatian dari orangtuanya sepanjang waktu. Saat ia tumbuh, anak akan menjadi lebih mandiri.
Anak prasekolah dan balita cenderung lebih banyak mengekspresikan diri dengan berbicara, terutama ketika kemampuan bahasanya yang mulai berkembang. Sebagai orangtua, Mama dapat mendengarkan cerita anak dengan sabar agar ia merasa percaya diri dan aman bersama Mama.
Ini juga mengajarkan anak untuk menjadi pendengar yang baik dan juga mengembangkan kepercayaan dirinya.
3. Bersikaplah lembut pada kekurangan yang anak miliki

Bukan hal yang mengherankan lagi jika banyak orangtua yang mengharapkan anak-anaknya unggul dalam segala hal yang dilakukan.
Namun, ketika anak tidak sesuai dengan harapannya, beberapa orangtua justru mengungkapkan kekecewaannya kepada anak dengan berbagai cara, misalnya dengan menuduh anak tidak cukup kompeten.
Padahal, setiap anak memiliki kemampuan unik, dan sebagai orangtua, Mama dan Papa harus bisa mengidentifikasi kemampuan anak dan mendukungnya. Mama dapat memberikan bantuan yang lembut untuk memperbaiki kekurangan anak tanpa menurunkan rasa percaya dirinya.
4. Menahan diri untuk tidak membandingkan anak

Membandingkan anak dengan anak dari teman, keluarga, dan tetangga lain dapat sangat merusak kepribadian anak. Apalagi jika membandingkan anak secara terus menerus dengan seseorang, dapat membuat anak tersebut percaya bahwa ia tidak cukup baik.
Selain itu, membandingkan anak juga membuatnya menjadi bingung tentang identitas diri sendiri dan mulai meniru orang lain.
Tak diragukan lagi, menghormati kemampuan diri anak adalah langkah pertama dan terpenting dalam membangun kepercayaan diri dan menghasilkan kemampuan terbaik dari dirinya.
5. Patut memberikan anak contoh perilaku yang benar

Bukan rahasia umum lagi, si Kecil mulai mempelajari apa yang ia lihat di sekelilingnya, lebih dari apa yang anak dengar. Oleh karena itu, mengajarkan anak tentang keseharian secara praktis akan meninggalkan kesan abadi padanya.
Mulai dari hal-hal kecil seperti menata kembali buku di rak hingga bersikap sopan kepada tamu, anak akan mengikuti apa yang Mama lakukan. Jika ada hal negatif dalam perilaku orang disekitarnya, anak juga akan segera menangkapnya. Karena itu, sangat penting untuk mempraktikkan apa yang Mama tanamkan pada anak.
6. Melibatkan anak secara aktif dalam olahraga atau aktivitas luar ruangan

Waktu permainan bebas telah berkurang drastis di antara anak-anak saat ini karena beberapa alasan, seperti mewabahnya virus, anak telah ketergantungan gadget, dan lain-lain. Sehingga sulit untuk mempraktikan nilai-nilai seperti berbagi, peduli, semangat tim, dan ketahanan seperti berolahraga.
Olahraga dan permainan adalah kegiatan pengembangan kepribadian yang efektif untuk si Kecil pada masa pertumbuhan. Sayangnya, kondisi saat ini membuat orangtua perlu melindungi anak dari permainan lapangan, namun bukan berarti melarang anak untuk melakukan olahraga.
Untuk perkembangan fisik dan mental anak secara keseluruhan, Mama harus melibatkan anak secara aktif dalam olahraga. Sehingga cara terbaiknya adalah dengan mengajak anak berolahraga bersama keluaga.
Hal ini juga baik untuk menjaga anak dan keluarga tetap ceria dan sehat dalam kondisi wabah penyebaran virus corona.
7. Batasi waktu layar

Gadget menjadi masalah di era teknologi saat ini yang dihadapi banyak orangtua. Dilansir dari Parenting.firstcry.com, penelitian telah menunjukkan bahwa terlalu banyak waktu layar memengaruhi perkembangan intelektual dan sosial anak.
Bermain game di gadget cenderung menyebabkan kecanduan, dan jika kebiasaan ini dilanjutkan hingga anak beranjak remaja, ia justru terbiasa untuk menyisakan sedikit waktu untuk interaksi sosial. Di mana hal tersebut membuatnya sulit bergaul dan beradaptasi.
Habiskan lebih banyak waktu dengan anak untuk bermain permainan nyata atau ajak anak jalan-jalan untuk mengalihkannya dari gadget dan memberikan pengalaman kehidupan nyata di sekitarnya. Ajari anak untuk menghargai orang-orang dan lingkungan sekitarnya lebih dari hal-hal virtual yang dilihat.
8. Buatlah peraturan dengan jelas

Memberikan kejelasan kepada anak tentang tanggung jawab penting untuk pemahaman yang lebih baik. Terkadang, orangtua kesulitan untuk mengkomunikasikan apa yang mereka harapkan untuk anak dan akhirnya menuduh anak saat melakukan kesalahan.
Ketika aturannya jelas, si Kecil mulai dapat belajar untuk menyelaraskan perilakunya dengan harapan Mama. Namun perlu waktu bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan beberapa aturan, tetapi konsistensi dalam menerapkan peraturan akan menjadikannya kebiasaan yang baik pula.
9. Dorong sikap kemandirian anak

Mama yang memiliki anak balita umumnya selalu membantu semua tugas-tugas anak, namun sayangnya hal ini berisiko untuk menghentikan perkembangan individualitas atau kemandirian seorang anak.
Meskipun penting untuk memberikan perhatian dan pengasuhan, penting juga untuk mengajari anak perlahan-lahan mengelola tanggung jawab sederhananya sendiri. Seperti mengemas tas sekolah, menyikat gigi, atau mengerjakan pekerjaan rumah.
Mama bisa mendorong anak untuk mandiri dan tetap memberikan sedikit pengawasan. Ini tidak hanya untuk melatih anak dalam keterampilan hidup yang penting, namun juga meningkatkan rasa tanggung jawabnya.
10. Berlatih menjadi orangtua yang lembut

Menegur anak secara fisik atau meneriakinya atas kesalahannya dapat memperburuk keadaan emosi Mama dan anak. Seringkali, tanpa disadari balita mengambil hati atas teriakan dan tidak mengerti apa kesalahan yang ia lakukan.
Namun Mama dapat dengan sabar menjelaskan konsekuensi dari kesalahan yang anak lakukan. Hal ini bisa menjadi cara yang efektif untuk membawa perubahan yang diinginkan. Ketika Mama meneriaki anak, ia justru menuruti rasa takut dan tidak memahami konsekuensi dari tindakannya.
Menjelaskan atau bahkan terkadang membiarkan anak mengalami hasil dari tindakannya, dapat membantunya memahami hubungan sebab dan akibat dari apa yang dilakukannya.
Nah itulah 10 tips pengembangan karakter anak agar menjadi pribadi yang positif. Ingatlah bahwa pengembangan kepribadian adalah proses yang berlangsung lama yang mungkin mengalami maju dan mundur.
Sehingga Mama juga perlu konsisten untuk menanamkan nilai, perilaku, dan sikap positif pada anak. Konsistensi dapat membuahkan hasil dalam jangka panjang, saat Mama merasa puas melihat anak tumbuh sebagai individu yang berpengetahuan luas dengan kepribadian yang positif.



















