6 Kesalahan Sikat Gigi Anak yang Tanpa Sadar Sering Dilakukan

- drg. Heidy Stefanie Yonathan menjelaskan bahwa banyak masalah gigi anak muncul bukan karena jarang sikat gigi, tapi karena kesalahan kecil dalam rutinitas dan teknik menyikat sehari-hari.
- Ada enam kebiasaan umum yang perlu diperbaiki, seperti waktu sikat gigi yang salah, durasi terlalu singkat, penggunaan pasta tanpa fluoride, hingga lupa mengganti sikat gigi secara rutin.
- Dokter menekankan pentingnya cara menyikat yang benar serta pemeriksaan rutin ke dokter gigi agar kesehatan dan pertumbuhan gigi anak tetap optimal sejak dini.
Pernahkah Mama merasa sudah sangat rajin menyikat gigi si Kecil setiap hari, tapi saat periksa ke dokter gigi, ternyata masih ada lubang atau plak membandel?
Tahukah Mama, kalau ternyata masalahnya bukan pada kurang rajin, melainkan kebiasaan kecil yang sering tidak disadari.
Menurut drg. Heidy Stefanie Yonathan, Sp.KGA, dokter gigi anak dan expert Tentang Anak, dalam salah satu unggahan menjelaskan bahwa sejumlah penyebab terbanyak justru berkaitan dengan rutinitas dan teknik menyikat gigi sehari-hari.
Dijelaskan oleh drg. Heidy, ada 6 kesalahan yang tanpa sadar masih sering dilakukan orangtua nih, Ma. Berikut Popmama.com rangkumkan penjelasannya agar Mama bisa segera memerbaiki kebiasaan si Kecil.
1. Salah rutinitas saat pagi

Tanpa disadari, kebiasaan saat bangun tidur pagi langsung mandi dan sikat gigi ternyata bisa jadi kesalahan, lho. Alih-alih sikat gigi sesudah makan, justru dokter gigi menyarankan agar membersihkannya setelah makan.
Nah, jadi setelah sarapan, beri jeda sekitar 30-60 menit, baru bisa sikat gigi agar enamel gigi tidak terkikis oleh asam makanan.
2. Gosok gigi terlalu cepat

Menyikat gigi sebentar membuat banyak plak dan sisa makanan tertinggal, Ma. Idealnya, sikat gigi dilakukan minimal 2 menit agar semua permukaan gigi bersih sempurna. Kurang dari itu, risiko gigi berlubang tetap tinggi meskipun rutin dilakukan.
3. Pasta gigi tanpa fluoride

IDAI dan WHO merekomendasikan pasta gigi anak sebaiknya mengandung fluoride 1.000 ppm, dan lebih baik lagi jika ada tambahan kalsium fosfat. Tanpa kedua kandungan ini, perlindungan gigi dari bakteri pembusuk menjadi kurang optimal.
4. Sering bernapas lewat mulut

Kalau anak terbiasa bernapas lewat mulut, ini membuat mulutnya jadi kering. Padahal, air liur berperan membersihkan bakteri alami.
Nah, mulut yang kering inilah yang meningkatkan risiko gigi berlubang secara signifikan, karena bakteri lebih mudah menempel dan berkembang biak.
5. Terlalu banyak kumur setelah sikat gigi

Setelah menyikat gigi, para dokter menyarankan agar meludah atau kumur 1 kali saja untuk membuang sisa pasta giginya. Jika terlalu banyak berkumur, kandungan fluoride dan kalsium fosfat akan terbilas sehingga tidak bisa bekerja efektif melindungi permukaan gigi.
6. Tidak rutin mengganti sikat gigi

Kalau kebiasaan Mama membiarkan sikat gigi dengan bulu yang sudah melebar tidak segera diganti, ini bisa jadi kesalahan lain karena bulu sikatnya sudah tidak bisa membersihkan plak dan kuman secara optimal.
Selain itu, sikat gigi yang dipakai saat sakit juga perlu segera diganti karena bisa menyimpan bakteri dan berisiko menyebabkan infeksi ulang. Ganti maksimal setiap 3 bulan atau segera setelah anak sembuh.
Menjaga kesehatan gigi anak bukan sekadar seberapa sering menyikat gigi, tapi juga seberapa tepat cara dan kebiasaan yang menyertainya.
Dengan memahami kesalahan di atas, Mama bisa membantu si Kecil terhindar dari gigi berlubang meskipun terlihat rajin menyikat gigi.
Pastikan juga Mama rutin membawa anak ke dokter gigi agar tumbuh kembang gigi dan rahangnya tetap optimal.


















