Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Usia Ideal Anak Masuk Sekolah Menurut IDAI dan Faktor Kesiapannya

Usia Ideal Anak Masuk Sekolah Menurut IDAI dan Faktor Kesiapannya
Dok. IDAI
Intinya Sih
  • Kesiapan sosial dan emosional penting sebelum masuk sekolah

  • Kesehatan fisik dan perkembangan motorik memengaruhi daya tahan belajar

  • Kemampuan bahasa, kognitif, dan cara belajar anak perlu diperhatikan sebelum memulai pendidikan formal

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar seminar media secara daring pada Selasa (16/12/2025) untuk membahas usia dan kesiapan anak, yang di Indonesia umumnya dimulai pada usia tujuh tahun untuk memasuki pendidikan formal, dengan penegasan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penentu kesiapan sekolah.

Seminar ini menghadirkan Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K) serta anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Hesti Lestari, Sp.A, Subsp. TKPS(K), yang membahas kesiapan anak dari perspektif medis dan tumbuh kembang.

Keduanya menjelaskan bahwa kesiapan anak untuk mulai sekolah perlu dilihat secara menyeluruh, mencakup aspek perkembangan sosial-emosional, fisik, bahasa, kognitif, hingga cara belajar anak.

Berikut Popmama.com merangkum usia ideal anak masuk sekolah menurut IDAI dan faktor kesiapannya yang perlu diperhatikan sebelum anak memulai pendidikan formal.

Yuk, disimak!

Kesiapan Sosial dan Emosional Jadi Faktor Penting

Anak-anak sedang bersosialisasi sambil duduk di taman dengan minum lemonade
Freepik

Kesiapan sosial dan emosional menjadi salah satu aspek utama yang perlu dimiliki anak sebelum mulai bersekolah. Dari perspektif tumbuh kembang, kemampuan anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan di lingkungan sekolah, serta mengendalikan emosi sangat memengaruhi proses adaptasi anak di kelas.

Anak yang siap secara sosial-emosional umumnya mampu bekerja sama, menghargai orang lain, serta tidak mudah frustrasi saat menghadapi tantangan dalam kegiatan belajar. Selain itu, kemampuan memperhatikan instruksi, tetap mengikuti aktivitas secara berulang, serta memiliki rasa percaya diri dan rasa ingin tahu yang sehat turut menunjang kesiapan anak dalam menjalani proses belajar di sekolah.

Kesehatan Fisik dan Motorik Menentukan Daya Tahan Belajar

Anak laki-laki sedang makan lolipop sambil duduk di atas rumput taman
Freepik

Kondisi kesehatan fisik dan perkembangan motorik turut memengaruhi kesiapan anak dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Anak dengan kondisi fisik yang sehat umumnya memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas, berinteraksi, dan berkonsentrasi selama proses pembelajaran berlangsung.

Gangguan kesehatan seperti masalah pendengaran, penglihatan, maupun pola tidur dapat berdampak pada kemampuan anak dalam menerima dan memahami materi pelajaran. Selain itu, perkembangan motorik kasar dan motorik halus juga berperan penting, termasuk dalam mengikuti aktivitas fisik di sekolah serta menunjang keterampilan dasar seperti memegang alat tulis dan membuka buku. Kesehatan fisik yang terjaga membantu anak berpartisipasi secara optimal dalam berbagai kegiatan belajar dan bermain di lingkungan sekolah.

Kemampuan Bahasa dan Komunikasi sebagai Dasar Akademik

Anak-anak tersebut sedang mengobrol dan bercanda sambil duduk di taman dan minum lemonade
Freepik

Kemampuan bahasa dan komunikasi menjadi dasar penting bagi anak dalam menjalani proses belajar di sekolah. Anak yang memiliki kesiapan bahasa umumnya mampu memahami instruksi yang disampaikan guru serta mengungkapkan kebutuhan dan perasaannya secara verbal dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang lain.

Aspek bahasa juga berkaitan erat dengan kesiapan anak dalam belajar membaca dan menulis. Penguasaan kosakata, pemahaman makna kata, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif membantu anak mengikuti kegiatan belajar di kelas. Stimulasi bahasa yang sesuai dengan tahap perkembangan turut mendukung anak dalam membangun dasar akademik sejak awal memasuki lingkungan sekolah.

Kesiapan Kognitif dan Pengalaman Belajar Awal

Anak laki-laki memeluk dan menatap Mama
Freepik

Kesiapan kognitif berkaitan dengan kemampuan anak memahami konsep dasar yang akan menunjang proses belajar di sekolah. Aspek ini tidak muncul secara tiba-tiba saat anak memasuki usia sekolah, melainkan terbentuk melalui pengalaman belajar yang didapat sejak dini.

Dalam pemaparannya, dr. Hesti Lestari, Sp.A, Subsp. TKPS(K) menjelaskan bahwa pengalaman sederhana seperti membaca bersama orangtua memiliki peran penting dalam membangun kesiapan kognitif anak.

“Anak yang telah mendapat pengalaman membaca bersama orangtua akan mengetahui bagaimana cara membalik halaman dan memahami bahwa kata adalah simbol dari bahasa dan huruf memiliki bunyi,” ujarnya.

Selain itu, stimulasi yang diberikan secara berkelanjutan membantu anak memahami konsep ruang dan lingkungan sekitarnya.

“Anak yang mendapat stimulasi akan memahami hubungan ruang seperti di atas, di bawah, di dalam, serta memiliki pengetahuan tentang warna, bentuk, dan aneka hewan,” kata dr. Hesti.

Pemahaman terhadap konsep-konsep dasar tersebut menjadi bagian dari kesiapan kognitif yang mendukung anak dalam mengikuti proses belajar secara lebih optimal ketika memasuki lingkungan sekolah formal.

Setiap Anak Memiliki Cara Belajar yang Berbeda

Mama bertanya pada anak laki-laki saat bermain bersama
Freepik

Setiap anak memiliki karakter, temperamen, dan cara belajar yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini memengaruhi bagaimana anak menyerap informasi, beradaptasi dengan lingkungan sekolah, serta merespons proses belajar yang dijalaninya.

Ketua Pengurus Pusat IDAI DR dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K) menegaskan bahwa perkembangan anak tidak dapat diseragamkan.

“Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan dan cara yang sama. Ada anak yang cepat di satu aspek, tetapi membutuhkan waktu lebih lama di aspek lainnya,” ujar dr. Piprim.

Ia juga menjelaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal.

“Setiap anak memiliki temperamen dan gaya belajar masing-masing, sehingga pendekatan yang diberikan pun perlu disesuaikan,” katanya.

Pemahaman terhadap keragaman cara belajar anak menjadi bagian penting dalam menilai kesiapan anak untuk memasuki pendidikan formal, tanpa membandingkan satu anak dengan anak lainnya.

Peran Orangtua dalam Menunjang Kesiapan Anak

Mama menemani kedua anak perempuannya belajar
Freepik

Orangtua memiliki peran penting dalam mengenali kesiapan anak sebelum memasuki pendidikan formal. Sebagai pihak yang paling dekat dengan anak, orangttua berperan dalam mengamati perkembangan sehari-hari, termasuk perubahan perilaku, kemampuan berinteraksi, serta respons anak terhadap aktivitas belajar.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Hesti Lestari, Sp.A, Subsp. TKPS(K) menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.

“Orangtua adalah pengamat pertama dan utama tumbuh kembang anak. Dari rumah, orangtua bisa melihat apakah anak sudah mampu mengikuti instruksi, berinteraksi, dan mengelola emosinya,” ujar dr. Hesti.

Ia juga menyoroti peran stimulasi, nutrisi, dan deteksi dini dalam menunjang kesiapan anak.

“Stimulasi yang sesuai usia, pemenuhan nutrisi, serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala membantu anak mencapai kesiapan yang optimal sebelum masuk sekolah,” katanya.

Peran orangtua tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan anak berkembang secara berkesinambungan seiring dengan tahapan usianya.

Itulah informasi mengenai usia ideal anak masuk sekolah menurut IDAI dan faktor kesiapan­nya, yang menegaskan bahwa kesiapan anak bersifat multidimensi dan tidak hanya ditentukan oleh usia kalender, melainkan juga aspek tumbuh kembang yang menyeluruh.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More