"Ya jadi pasca persalinan, itu kan hormon laktasinya akan tinggi, jadi pengaruh hormonnya masih sangat tinggi ya, itu membuat area kemaluan itu cenderung lebih kering, memang pengaruh hormon, dan keinginan untuk hubungan suami istri juga mungkin belum pulih optimal ya, itu bisa ada pengaruh dari situ," jelas dr. Gita.
Benarkah Melahirkan Normal Bisa Memicu Disfungsi Seksual? Ini Faktanya

- Hormon prolaktin tinggi saat menyusui menekan estrogen, menyebabkan area kewanitaan kering dan menurunkan gairah seksual pascapersalinan.
- Persalinan normal dapat melemahkan otot dasar panggul, mengurangi sensasi kepuasan dan membuat hubungan intim terasa kurang maksimal.
- Robekan jalan lahir atau episiotomi bisa menimbulkan nyeri berkepanjangan serta ketakutan seksual, sehingga pemulihan fisik dan komunikasi dengan pasangan sangat penting.
Masa-masa pascamelahirkan (postpartum) emang jadi momen yang super ajaib sekaligus bikin culture shock ya, Ma. Gimana enggak, fokus kita otomatis langsung tersedot 24/7 buat mengurus si Kecil yang lagi lucu-lucunya, mulai dari drama begadang, urusan ASI, sampai urusan popok. Tapi jujur deh Ma, di balik kebahagiaan jadi ibu baru, ada satu hal sensitif yang sering banget bikin kepikiran tapi malu buat diomongin: apalagi kalau bukan urusan ranjang bareng Papa!
Bagi Mama yang melewati proses persalinan normal (pervaginam), pasti sempat terbersit rasa insecure di dalam hati. Muncul pertanyaan-pertanyaan cemas seperti: “Aduh, nanti pas berhubungan intim lagi rasanya bakalan beda nggak ya?” atau “Benar nggak sih melahirkan normal bisa bikin disfungsi seksual dan Miss V jadi longgar?” Tenang Ma, rasa parno ini super duper wajar kok dialami oleh hampir semua ibu baru di dunia.
Sayangnya, karena topik ini masih dianggap tabu, banyak Mama yang akhirnya milih buat mendem kecemasan ini sendirian dan berujung stres. Padahal, perubahan performa atau rasa nggak nyaman saat kembali aktif secara seksual pascamelahirkan itu ada penjelasan biologisnya, lho. Memahami kondisi tubuh sendiri pascapersalinan adalah kunci utama biar Mama bisa kembali pede dan keharmonisan bareng Papa tetap membara.
Biar Mama nggak gampang termakan mitos atau malah salah paham sama suami, kita wajib tahu faktanya dari kacamata medis. Yuk, kita kupas tuntas bareng-bareng biar nggak ada lagi rasa ganjal di hati!
Berikut Popmama.com udah merangkum 4 fakta penting seputar pengaruh melahirkan normal terhadap disfungsi seksual yang wajib Mama ketahui!
1. Pengaruh hormon menyusui yang membuat miss v kering

Penurunan gairah seksual setelah melahirkan sering kali dipicu oleh faktor hormonal yang terjadi secara alami di dalam tubuh Mama. Saat Mama berada dalam masa nifas dan menyusui eksklusif, tubuh akan memproduksi hormon prolaktin (hormon laktasi) dalam jumlah yang sangat tinggi untuk menunjang produksi ASI. Sisi lainnya, tingginya hormon prolaktin ini secara otomatis akan menekan produksi hormon estrogen, yaitu hormon yang bertanggung jawab menjaga elastisitas dan lubrikasi alami pada area kewanitaan.
Hal ini sejalan dengan penjelasan dari dr. Gita Nurul, OBGYN, Uroginb RE dalam podcast Heart to Health bersama Gritte Agatha. Beliau memaparkan bagaimana lonjakan hormon menyusui ini sangat memengaruhi kenyamanan fisik dan psikis seorang ibu baru.
Kondisi Miss V yang cenderung kering akibat pengaruh hormon inilah yang kerap memicu rasa tidak nyaman hingga rasa nyeri saat penetrasi dilakukan. Ketika hubungan intim justru terasa menyakitkan (dyspareunia), secara psikologis gairah atau keinginan Mama untuk berhubungan intim pun akan menurun drastis. Jadi, jika Mama merasa belum siap atau belum bersemangat untuk kembali aktif secara seksual, ketahuilah bahwa tubuh Mama memang sedang mengalami adaptasi hormonal yang nyata.
2. Melemahnya otot dasar panggul mengurangi sensasi kepuasan

Proses mengejan dan dilewatinya jalur lahir oleh bayi saat persalinan normal secara fisik memberikan tekanan yang sangat besar pada otot-otot dasar panggul (pelvic floor muscles). Otot-otot inilah yang berfungsi menyangga organ-organ intim, termasuk rahim dan vagina. Jika otot dasar panggul ini mengalami peregangan yang ekstrem dan belum kembali kencang, kekuatan cengkeraman vagina saat berhubungan intim pun otomatis akan mengalami penurunan.
Menurut dr. Gita Nurul, OBGYN, Uroginb RE, kondisi melemahnya otot dasar panggul ini tidak boleh diabaikan karena bisa memengaruhi kualitas kepuasan seksual secara signifikan.
"Tetapi yang perlu kita concern juga yang terkait dengan dasar panggulnya, dengan fungsi dasar panggulnya adalah kalau dasar panggulnya lemah, maka mungkin keluhannya bukan hanya nggak semangat buat hubungan suami-istri, tetapi sensasi saat hubungan suami istrinya berkurang atau mungkin terasanya lebih longgar. Kemudian karena terasanya longgar, sensasinya tidak maksimal, maka untuk mencapai kepuasannya juga jadinya terhambat," ungkap dr. Gita.
Ketika otot vagina terasa lebih longgar dan sensasinya berkurang, baik Mama maupun Papa mungkin akan kesulitan mencapai klimaks atau kepuasan seksual (orgasme). Penurunan sensitivitas ini sering kali membuat Mama merasa "mati rasa" atau frustrasi selama berhubungan intim. Padahal, kepuasan seksual yang terhambat ini murni karena faktor fisik otot yang kendur dan membutuhkan waktu serta latihan khusus, seperti senam Kegel, untuk mengembalikan kekuatannya.
3. Risiko turun peranakan yang memicu rasa nyeri tegangan

Dampak lain dari melemahnya fungsi dasar panggul pascamelahirkan normal adalah risiko terjadinya penurunan organ panggul. Ketika otot dan jaringan ikat di sekitar rahim meregang atau robek selama proses persalinan pervaginam, penyangga rahim menjadi tidak stabil. Akibatnya, rahim bisa bergeser turun ke saluran vagina, sebuah kondisi medis yang dikenal dengan istilah prolaps uteri atau turun peranakan.
Kondisi ini dijelaskan lebih lanjut oleh dr. Gita Nurul, OBGYN, Uroginb RE sebagai salah satu pemicu utama munculnya rasa nyeri yang hebat saat Mama mencoba kembali aktif di ranjang.
"atau mungkin bukan sekedar tidak maksimal sensasinya, bisa juga merasa nyeri karena turun peranakannya udah berat, gitu," tambah dr. Gita.
Rasa nyeri akibat turun peranakan ini biasanya terasa seperti ada tekanan yang mengganjal atau nyeri tumpul di area panggul bawah dan punggung, terutama saat terjadi penetrasi yang dalam. Rasa tidak nyaman secara fisik ini tentu menjadi penghambat besar bagi kenyamanan seksual Mama. Jika Mama merasakan gejala mengganjal ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter uro ginekologi untuk mendapatkan penanganan yang tepat sebelum aktif berhubungan intim kembali.
4. Trauma fisik akibat robekan jalan lahir dan episiotomi

Fakta lain yang tidak kalah penting memicu disfungsi seksual pascapersalinan normal adalah trauma jaringan akibat robekan jalan lahir (perineal tear) atau tindakan episiotomi (guntingan vagina). Selama proses melahirkan, jaringan perineum (area antara vagina dan anus) akan meregang secara maksimal untuk jalan keluar bayi. Robekan atau sayatan yang kemudian dijahit ini memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama agar jaringan kulit dan ototnya bisa menyatu kembali dengan sempurna.
Berdasarkan laporan medis dari The Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), rasa nyeri jangka panjang pada bekas jahitan perineum merupakan keluhan yang paling sering memicu ketakutan seksual (sexual anxiety) pada ibu baru. Proses penyembuhan luka yang membentuk jaringan parut (scar tissue) kadang membuat area tersebut menjadi lebih sensitif, kaku, dan terasa perih atau seperti "tertarik" saat mendapatkan penetrasi.
Organisasi kesehatan dunia seperti World Health Organization (WHO) juga mengingatkan bahwa pemulihan trauma fisik ini memerlukan pendekatan yang sensitif dari pasangan. Ketakutan akan rasa sakit pada bekas jahitan sering kali memicu disfungsi seksual psikologis, di mana otot vagina secara tidak sadar menegang (vaginismus sekunder) karena rasa cemas. Oleh karena itu, sangat penting bagi Mama untuk memastikan luka jahitan benar-benar telah sembuh total secara medis dan melakukan foreplay yang cukup lama bersama Papa demi mengurangi ketegangan otot.
Mengalami perubahan pada kehidupan seksual setelah melahirkan normal adalah proses yang sangat manusiawi dan valid untuk dirasakan oleh setiap Mama. Kuncinya adalah jangan ragu untuk mengomunikasikan apa yang Mama rasakan secara fisik dan emosional kepada Papa agar tidak terjadi salah paham. Ingat, pemulihan pascapersalinan membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan penuh dari pasangan tercinta.
Nah, kalau Mama sendiri gimana nih? Sempat ngerasa cemas atau punya pengalaman unik waktu pertama kali "pindah kamar" lagi bareng Papa setelah si Kecil lahir?
















-r3q6KqpXUhrTFrX6JoPvQhxboCsx7Z7N.png)

